Mohon tunggu...
Fajar
Fajar Mohon Tunggu... Supir - PEZIARAH DI BUMI PINJAMAN

menulis jika ada waktu luang

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Menggugat Positivisme Ilmu

14 Juni 2011   06:57 Diperbarui: 26 Juni 2015   04:32 550
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Ruang Lingkup Kajian Filsafat Ilmu

1.       Apa yang dapat saya ketahui?

Jawaban atas pertanyaan ini suatu fenomena. Fenomena selalu dibatasi oleh ruang dan waktu. Hal ini menjadi dasar bagi epistemologi. Bahan kajian epistemologi adalah yang berada dalam jangkauan indera. Artinya, epistemologi berbicara tentag fenonmena. Epistemologi meliputi; Logika Pengetahuan  (Knowledge), Ilmu pengetahuan ilmiah (Science) dan Metodologi (Empirisme: induksi, Rasionalisme: deduksi)

2.       Apa yang harus saya lakukan?

Pertanyaan ini mempersoalkan nilai (values), dan disebut axiologi, yaitu nilai-nilai apa yang digunakan sebagai dasar dari perilaku. Kajian axiologi meliputi etika atau nilai-nilai keutamaan/kebaikan dan estetika (nilai keindahan). Kebenaran adalah kesamaan antara gagasan dan kenyataan.

3.       Apa yang dapat saya harapkan?

Pengetahuan manusia ada batasnya. Apabila manusia sudah sampai batas pengetahuannya, manusia hanya bisa mengharapkan. Hal ini berkaitan dengan “Being” (Ada). Refleksi tentang “Being” terbagi lagi menjadi dua yaitu Ontologi yaitu struktur segala yang ada, realitas, keseluruhan objek-objek yang ada, dan Metafisika yaitu hal-hal yang berada di luar jangkauan indera (misalnya: Tuhan dan Jiwa).

Perdebatan Panjang Filsafat

a)      Rasionalisme adalah paham yang menyatakan kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan dan analisis yang berdasarkan fakta. Filsafat Rasionalisme sangat menjunjung tinggi akal sebagai sumber dari segala pembenaran. Segala sesuatu harus diukur dan dinilai berdasarkan logika yang jelas. Titik tolak pandangan ini didasarkan kepada logika matematika (menolak dogma agama).

b)      Empirisisme adalah pencarian kebenaran melalui pembuktian-pembukitan indrawi. Kebenaran belum dapat dikatakan kebenaran apabila tidak bisa dibuktikan secara indrawi, yaitu dilihat, didengar dan dirasa. Segala kebenaran hanya diperoleh secara induktif, yaitu melalui pengalaman dan pikiran yang didasarkan atas empiris, dan melalui kesimpulan dari hal yang khusus kepada hal yang umum. Empirisisme muncul sebagai akibat ketidakpuasan terhadap superioritas akal.

c)       Kritisisme: pengetahuan manusia merupakan sintesa antara apa yang secara apriori sudah ada dalam kesadaran dan pikiran dengan impresi yang diperoleh dari pengalaman/aposteriori (Immanuel  Kant 1724-1804)

d)      Filsafat positivisme membatasi kajian filsafat ke hal-hal yang dapat di justifikasi (diuji) secara empirik. Hal-hal tersebut dinamakan hal-hal positif. Positivisme digunakan untuk merumuskan pengertian mengenai realitas sosial dengan penjelasan ilmiah, prediksi dan kontrol seperti yang dipraktekan pada fisika, kimia, dan biologi. Tahap penelitian positivisme dimulai dengan pengamatan, percobaan, generalisasi, produksi, manipulasi.

Kritik Atas Rasionalisme, Empirisme dan Positivisme

A.      Karl Raymund Popper (1902-1999)

Pendekatan falsifikasi dikembangkan oleh Karl Raymund Popper yang tidak puas dengan pendekatan induktif. Menurut Popper, tujuan dari suatu penelitian ilmiah adalah untuk membuktikan kesalahan (falsify) hipotesa, bukannya untuk membuktikan kebenaran hipotesa tersebut. Oleh karena itu, pendekatan ini dinamakan pendekatan Falsifikasionisme. Menurutnya falsifikasi adalah batas pemisah (demarkasi) yang tepat, antara ilmu dan yang bukan ilmu. Untuk mengatasi masalah empirisme logis, Karl Popper menawarkan suatu metode alternativ untuk menjustifikasi suatu teori. Popper menerima kenyataan bahwa observasi selalu diawali oleh suatu sistem yang diharapkan. Proses ilmu pengetahuan berasal dari observasi yang berbenturan dengan teori yang ada atau prakonsepsi. Fakta yang didapat pada pengalaman yang berbenturan dengan teori jika ia konsisten, maka ia akan diterima sebagai teori yang digunakan saat ini. Bila tidak kita membuat suatu teori dimana suatu hipotesis dimunculkan dan diuji secara empiris. Pada saat teori tersebut tidak sesuai dengan kebenaran atau falsified maka teori tersebut ditolak lalu kita kembali membuat suatu teori. Bila teori tersebut lolos dari falsifikasi maka teori tesebut diterima sebagai teori yang digunakan sementara dan yang pasti ia bersifat tempora. Salah satu peristiwa yang mempengaruhi perkembangan intelektual Popper dalam filsafatnya adalah dengan tumbangnya teaori Newton dengan munculnya Teori tentang gaya berat dan kosmologi baru yang dikemukakan oleh Einstein. Dari peristiwa ini Popper menyimpulkan bahwa sikap ilmiah adalah sikap kritis yang tidak mencari pembenaran-pembenaran melainkan tes yang crucial berupa pengujian yang dapat menyangkal teori yang diujinya, meskipun tak pernah dapat meneguhkannya.

Kritik Terhadap Positivisme Logis

Positivisme berpusat pada prinsip-prinsip berikut: 1. menuntut tingkat kepastian tertentu. Ini dijabarkan dengan berbagai pembatasan wilayah kajian dan design penelitian yang spesifik, transparansi prosedur dan legitimasi metode. 2. sedapat mungkin mendapatkan obyektivitas, dengan cara-cara macam double-blind testing ( misalnya, ketika hendak menguji suatu jenis pil, kelompok  A di beri pil tersebut, kelompok B diberi placebo, tapi baik penerima itu maupun yang memberikannya tak tahu mana yang pil mana yang placebo), juga review dari kelompok sejawat entah berupa jurnal atau pun seminar. 3. terbuka selalu pada koreksi dari data dan teori baru ( self corrective ). Ini  misalnya dilakukan dengan seleksi hipotesis. Hipotesis yang dianggap layak diteliti hanyalah yang membawa kemungkinan ke arah falsifikasi. Misalnya klaim bahwa si A telah bertemu dengan alien, bila tak ada saksi  akan  dianggap tak bisa difalsifikasi, maka tak bisa diteliti.

Hal yang dikritik Popper pada positivism logis adalah tentang metode induksi. Ia berpendapat bahwa induksi tidak lain hanya khayalan belaka, dan mustahil mendapatkan ilmu pengetahuan yang ilmiah melalui induksi. Tujuan ilmu pengetahuan adalah mengembangkan pengetahuan ilmiah yang berlaku dan benar, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan logika, namun jenis penalaran yang dipakai oleh positivisme logis adalah induksi yang dirasakan tidak tepat, sebab jenis penalaran ini tidak mungkin menghasilkan ilmu pengetahuan ilmiah yang benar dan berlaku, karena kelemahan yang bisa terjadi adalah kesalahan dalam penarikan kesimpulan, dimana dari premis-premis yang dikumpulkan kemungkinan tidak lengkap sehingga kesimpulan atau generalisasi yang dihasilkan tidak mewakili fakta yang ada. Dan menurutnya agar pengetahuan itu dapat berlaku dan bernilai benar maka penalaran yang harus dipakai adalah penalaran deduktif.

Penolakan lainya adalah tentang Fakta subjektif, Popper berpendapat bahwa fakta subjektif yang berdiri sendiri dan terpisah dari teori sebanarnya tidak ada, karena fakta subjektif selalu terkait dengan teori, yakni berkaitan pula dengan asumsi atau pendugaan tertentu. Dengan demikian pernyataan pengamatan, yang dipakai sebagai landasan untuk membangun teori dalam positivisme logis tidak pernah bisa dikatakan benar secara mutlak. Pengetahuan tumbuh lewat percobaan dan falsifikasi. Arti terbaik “akal” dan “masuk akal” adalah keterbukaan terhadap kritik – kesediaan untuk dikritik dan keinginan untuk mengkritik diri sendiri (keberanian untuk menghadapkan satu teori pada banyak fakta).

B.  Thomas Khun

Thomas Khun memahami kemajuan di dalam ilmu pengetahuan dengan berpijak pada teori falsifikasi Popper. Ia merumuskan teori baru yang didasarkan pada penelitian historis bagaimana ilmu pengetahuan mengalami perubahan dan perkembangan dalam sejarahnya. Khun menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan tidak secara otomatis menyingkirkan suatu teori ketika ada bukti-bukti yang berlawanan dengan teori tersebut, melainkan perubahan tersebut terjadi melalui proses yang bersifat gradual dan diketahui bahwa seluruh cara berpikir seorang ilmuwan pun selalu sudah dipengaruhi oleh paradigma tertentu, serta membutuhkan argumentasi yang sangat kuat dan signifikan untuk mengubah paradigma tersebut. Menurut Khun, suatu paradigma tidak selalu terbuka pada proses falsifikasi secara langsung. Dan karena suatu paradigma mempengaruhi proses penafsiran atas suatu bukti, maka bukti-bukti yang ada seringkali menyesuaikan dengan paradigma.  Dapat disimpulkan dari Khun bahwa dengan ilmu pengetahuan dan proses perkembangannya, ilmu pengetahuan merupakan proses rutin pengumpulan data serta informasi, proses perluasan pengetahuan manusia yang ditandai dengan adanya pemikiran-pemikiran baru, dimana semua informasi yang telah didapat diperiksa kembali dan diletakkan dalam suatu perpektif yang baru.

C. Paul Feyerabend (1924-1994)

Anything goes sebenarnya merupakan salah satu dari beberapa inti pemikiran metodologi Feyerabend. Selain anything goes, prinsip kontra induksi (counter inductive) wajib dipertimbangkan sebagai sarana metodologi yang baru. Kontra induksi dimaksudkan untuk mengatasi masalah kesenjangan teori dan fakta akibat penerapan sistem induksi dengan instrumen verifikasi maupun falsifikasinya. Fakta-fakta yang terpinggirkan karena tidak memenuhi syarat-syarat dalam sistem induksi inilah yang oleh Feyerabend berusaha diakomodasi dan digunakan sebagai standard kritik dalam konsep kontra induksinya, tetap dengan tidak berusaha mengganti sistem induksi tersebut.

Prinsip kontra induksi ini yang kemudian bertautan dengan pandangan Feyerabend terhadap ketergantungan observasi pada teori (masih tetap dalam tema menyerang sistem induksi!). Observasi memang masih merupakan instrumen utama dalam memperoleh ilmu pengetahuan, tapi Feyerabend menolak klaim bahwa terdapat observasi murni (bare observation) yang menegasikan subyektivisme manusia. Pengamatan apapun oleh manusia akan sangat dipengaruhi oleh teori maupun konsep (theory-laden).

Prinsip lain yang diajukan merupakan prinsip ketidaksepadanan dalam melihat (menggunakan sudut pandang yang berbeda-beda). Ketidakcocokan dan inkonsistensi antara teori satu dengan teori yang lain (misalnya dalam fisika) dalam beberapa kajian keilmuan sudah dianggap lumrah, dan tentu membuka jalan untuk semakin menyebarkan pandangan-pandangan pluralis mengenai keilmuan. Feyerabend bahkan secara tegas menyangkal metode falsifikasi Popper. Falsifikasi Popperian sendiri mengasumsikan bahwa setiap teori keilmuan harus selalu difalsifikasi untuk mencapai sebuah teori yang lebih sempurna. Di sini Feyerabend memunculkan arus pluralis, bukannya memfalsifikasi, tapi terus memacu perkembangan teori-teori keilmuan baru dan terus mempertahankannya. Aneka ragam pendapat sangat diperlukan dalam mencapai pengetahuan yang obyektif.”

Sudah jelas solusi apa yang diungkapkan oleh Feyerabend dalam mencapai perkembangan keilmuan, lagi-lagi anything goes. Daripada menganut suatu bentuk metodologi tunggal dalam mengembangkan keilmuan (positivis), munculnya metode maupun metodologi keilmuan yang berbeda untuk ikut berkontestasi dalam mengembangkan suatu disiplin keilmuan dirasa lebih berguna. Konsekuensinya, apapun hipotesis maupun teori yang digunakan, baik itu rasional maupun yang paling tidak masuk akal, harus diakui sebagai sebuah bagian dari metodologi keilmuan.

Kesimpulan

Dari beberapa uraian diatas bisa diambil kesimpulan bahwa kedua Filsuf mempunya visi dan pandangan yang sama untuk menciptakan ilmu – ilmu baru namun perbedaannya terletak pada cara mendapatkan atau menciptakan ilmu – ilmu baru tersebut. Jika kita setuju dengan pendapat Popper tentang proses falsifikasi, mungkin tidak akan banyak ditemukan perkembangan dan kemajuan di dalam ilmu pengetahuan. Suatu eksperimen ilmiah tidak pernah sepenuhnya benar, tetapi juga tidak pernah sepenuhnya ambigu, sehingga harus digantikan saat itu juga. Popper berpendapat bahwa suatu data yang berlawan dengan teori yang ada dapat secara otomatis menyingkirkan teori yang ada tersebut. Namun dalam prakteknya, hal tersebut tidak terjadi. Jika ditemukan suatu data yang berlawanan dengan teori yang ada, ilmuwan biasanya akan mencari penjelasan terlebih dahulu tentang hal tersebut, seperti melihat kemungkinan bahwa eksperimen yang dilakukannya mungkin tidak tepat.

Referensi: dari berbagai sumber.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun