Jika ditinjau dari sudut histori, Menes mempunyai segudang nilai, dari zaman megalitikum sampai kolonial jejak-jejaknya masih terdapat disini, menjadi konsumsi bagi sejarawan dan khalayak umum lainnya.
Kali ini saya akan berusaha sedikit mengupas bagaimana perkembangan lembaga pendidikan di Menes dari zaman kolonial hingga sekarang.
Awal Mula Lembaga Pendidikan Formal (1887 - 1916)
Kita menarik waktu ke tahun 1887 M saat ditetapkan sebagai ibukota afdeeling Caringin paska meletusnya Gunung Krakatau 1883 M, Menes menjadi tempat penting, tempat tinggal para pejabat pribumi, seperti patih, wedana, penghulu, asisten wedana, dan juru tulis. Perkembangan populasi penduduk Menes meningkat, oleh karena itu maka kemudian dibangun sekolah pribumi.
Dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Banten, pendidikan di Menes mengalami dinamika yang signifikan. Antusias, kesadaran, dan minat inlander untuk mengenyam pendidikan sangatlah tinggi. Tingkat partisipasi masyarakat di Menes relatif tinggi terhadap pendidikan.
Lalu pendirian HIS Menes pada tahun 1915, Schakelschool di Menes pada tahun 1930, Sekolah Desa di Cening yang turut memberi peran terhadap partisipasi pendidikan di Menes.
Saya kutip dari buku Mathlaul Anwar dan Tantangan Modernitas bahwa ada dua faktor yang menyebutkan mengapa kawedanan Menes tingkat partisipasi pendidikannya lebih tinggi dibanding kawedanan lain.
Pertama, lembaga pengajaran ala Belanda memilik sejarah yang relatif tua di Menes. Di laporkan bahwa sekolah ala Belanda pertama sudah dibangun di Menes sedini 1875.
Kedua, pembaharuan sistem pengajaran dilembaga pendidikan Islam tradisional, Pesantren dan Madrasah, dua lembaga yang paling berpengaruh terhadap cara pandang dan referensi nilai masyarakat Banten, mengikuti sistem dan pola pengajaran ala Belanda, yang dilakukan oleh para Kyai pendiri Mathlaul Anwar, seperti KH. Entol Yasin, Entol Jasudin, KH Mas Abdurrahman telah berhasil secara bertahap menghilangkan keraguan dan resistensi masyarakat terhadap sistem dan lembaga pengajaran Belanda.
Seperti yang dibahas diatas bahwa sekolah untuk pribumi yang dibangun Belanda mengalami perkembangan yang pesat, karena tingkat partisipasi pendidikan masyarakat yang tinggi.Â
Selain daripada itu, pendidikan tradisional berbasis pesantren dan madrasah pun demikian, Kyai-kyai lokal menyediakan sarana bagi pribumi untuk belajar memperdalam agama agar terbebas dari jurang kebodohan dan terlepas dari belenggu penjajahan.
Baik lulusan sekolah pribumi, pesantren, dan madrasah banyak dari mereka yang melakukan revolusi besar bagi tatanan sosio-kultural di Menes. Salah satunya adalah KH Entol Yasin yang mana beliau adalah selain lulusan HIS juga seorang santri yang domisili di Kananga, Menes. Kelak beliau lah salah satu tokoh inti dalam pendirian Mathlaul Anwar di Menes pada tahun 1916, rahim lembaga pendidikan formal yang kini menjamur di Menes.
Perkembangan Lembaga Pendidikan Formal (1916 - Sekarang)
Berbicara lembaga pendidikan formal di Menes tidak terlepas dari Mathlaul Anwar. Sejak pendiriannya pada 1916 sampai sekarang setidaknya terdapat beberapa denominasi lembaga pendidikan. Sebab dari denominasi tersebut banyak faktor antara lain kaitannya dengan pilihan politik, konflik internal, sampai faham keagamaan.
Saya akan sebutkan beberapa lembaga hasil denominasi Mathlaul Anwar. Antara lain:
YPI Anwarul Hidayah Ciputri
Malnu
YPI Ahlussunnahwaljamaah
YPI Nurul Arifin Kadu Tomo
YPI Nurul Amal
YPI Babunnajah
dsb
Selain lembaga pendidikan formal yang menjamur di Menes, lembaga pendidikan non formal berbasis pondok pesantrenpun sama halnya. Saya akan sebutkan beberapa dari banyaknya pondok pesantren di Menes. Antara lain:
Ponpes Hidayatul Mubin Cimedang
Ponpes Fathul Maani Kananga
Ponpes Tahfidzul Qur'an Kebon Jeruk
Ponpes AlIshlah Kananga
Ponpes Nurul Bayan Leweung Kolot
Selain dari denominasi Mathlaul Anwar yang meramaikan Menes menjadi kota pendidikan adalah datangnya beberapa ormas keagamaan yang mendirikan lembaga pendidikan, dan beberapa tingkatan pendidikan yang baru semisal sekolah berbasis kejuruan dan sekolah taraf internasional.
Mathlaul Anwar Global School, Tahfidz Quran Mathlaul Anwar, Insan Cendekia Mathlaul Anwar, terhitung adalah merupakan lembaga baru di dasawarsa terakhir, dan ini menambah jumlah sekolah di Menes.
Saya mendapat data  jumlah lembaga pendidikan formal di Menes terdapat 82 sekolah dari semua tingkatan. Angka yang tinggi jika disandingkan dengan beberapa kecamatan lain di Kabupaten Pandeglang.
Tingkat partisipasi pendidikan masyarakat meningkat tinggi, banyaknya lembaga pendidikan di Menes ikut andil dalam percaturan ini.
Menjadi Kota Sentra Pendidikan
Pagi hari di jam sekolah kita akan disuguhkan pemandangan yang berbeda, kita akan melihat bejibun pelajar dari segala arah menuju Menes, selain sebagai bukti kongkret bahwa Menes memiliki magnet pendidikan, ini menjadi lahan nafkah bagi supir angkutan umum.Â
Banyak diantara penduduk sekitar Menes yang memilih atau menyekolahkan putera/i nya ke Menes karena banyaknya wadah pendidikan formal dan nonformal yang tersedia, dan pandangan beberapa orang tua ihwal pendapat "lulusan Menes mah kapake" dalam bahasa Indonesianya lulusan Menes mah berguna.Â
Pada faktanya memang demikian, beradasarkan tinjauan empiris bahwa alumnus Menes banyak yang berhasil dan berguna ketika terjun ke masyarakat.
Menes banyak melahirkan manusia terdidik. Maka wajar daerah ini sebagai daerah pusat pendidikan di Kabupaten Pandeglang.
Jika dirunut dari jejak histori, zaman kolonial sampai sekarang maka saya rasa tidak berlebihan jika Menes memang Kota Sentra Pendidikan dan Laboratorium Intelektual.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H