Mohon tunggu...
Nur Fadilah
Nur Fadilah Mohon Tunggu... Lainnya - saat ini saya masih mahasiswa di universitas muhammadiyah malang

Saya suka menonton konten-konten yang bisa membuat saya terinspirasi dan membangun semangat saya untuk maju dan berkembang dari bidang pengetahuan dan lain-lainnya.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Gerakan Muhammadiyah dalam Pendidikan

1 November 2022   15:18 Diperbarui: 4 November 2022   19:18 255
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Oleh : Nur Fadilah (010)

Magister Manajemen

Fakultas Pascasarjana

Universitas Muhammadiyah Malang

Muhammadiyah adalah sebuah gerakan islam dakwah amar ma'ruf nahi munkar dan tajdid yang bersumber dari al-quran dan sunah yang didirikan oleh K.H Ahmad dahlan sebagai tokoh pembaharuan umat islam pada zamananya. Dan saat ini menjadi organisasi yang berpengaruh dalam dunia pendidikan . 

K.H.Ahmad dahlan sebagai pendiri muhammadiyah memiliki harapan besar untuk dapat mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia dan dapat memberikan pencerahan mental kepada bangsa ini. 

Saat kolonial belanda menjajah bumi nusantara, Pendidikan islam terbesar luas dalam wujud "pondok pesantren", dimana islam diajarkan dimosolla/langgar atau masjid. 

Sistem pendidikan pondok pesantren ketika itu tidak mengenal  system kelas tidak ada ujian atau pengontrolan kemajuan santari  dan tidak ada batasan waktu berapa lama santri harus tinggal dipondok pesantren. 

Penekanan pendidikan lebih berorientasi pada hafalan tehadap teks semata , sehingga tidak meransang santri untuk berdiskusi. Karna melihat kenyataan yang memperihatinkan tentang pendidikan K.H.Ahmad Dahlan beserta beberapa tokoh muhammadiyah bertekad untuk memperbaharui pendidikan bagi umat islam

Pembaharuan yang dimaksud meliputi dua segi yaitu segi cita-cita dan segi teknik. Dari segi cita-cita adalah untuk membentuk manusia muslim yang berakhlaqul karimah, alim dalam beragama, luas dan paham terhadap masalah keduniaan ,cakap, serta bersedia berjuang untuk kemajuan agama islam dan masyarakat.

Dengan demikian target yang hendak dicapai oleh stiap lulusan pendidikan muhammadiyah meliputi akidah yang benar. Sedangkan dari segi teknik adalah lebih banyak berhubungan dengan cara-cara penyelenggaraan pendidikan modern terutama system / modal pembelajaran yang diterapkan selama pelaksanaan pendidikan.

Cita-cita pendidikan muhammadiyah, sebagai gerakan dakwah islam amar ma'ruf nahi munkar muhammadiyah dituntut untuk mengkomusikasikan pesan-pesan dakwahnya dengan cara menanamkan khazanah pengetahuan melalui pendidikan. Secara umum dapat dipastikan bahwa ciri khas lembaga pendidikan (formal) milik muhammadiyah.  

Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan yang memelopori pendidikan islam modern. Sehingga muhammadiyah memelopori pembaharuan dengan jalan melakukan reformasi ajaran dan pendidikan islam dan kini pendidikan muhammadiyah telah berkembang dengan segala kesuksesannya tetapi masalah dan rintangan tidak kalah berat (Arifin, 2017).

Sebagaimana yang telah disebutkan diatas bahwa muhammadiyah dalam mereformulasikan doktrin islam menggunakan pandangan alam pemikiran modern. 

Oleh karena itu system pendidikan modern oleh muhammadiyah dijadikan sarana untuk menyampaikan dakwah islam terlebih lembaga pendidikan islam yang ada pada masa penjajahan belanda (seperti pondok pesantren ) kurang menjawab tuntutan zaman. 

Usaha muhammadiyah mendirikan dan menyelenggarakan system pendidikan modern, karena muhammadiyah yakin bahwa islam bisa menjadi rahmatan lil-alamin, menjadi petunjuk dan rahmad bagi hidup dan kehidupan segenap manusia jika disampaikan dengan cara-cara modern.

Berawal dari ketidakseimbangan antara pendidikan ilmu agama dan ilmu umum, lahirlah gagasan untuk melakukan pembaharuan. Dihadapkan pada dualisme system pendidikan ini, K.H.Ahmad dahlan berusaha mendekatkan kedua system pendidikan itu. 

Maka munculah gagasan dan upaya mendirikan sekolah yang mengintegrasikan antara ilmu agama dan ilmu umum, untuk merealisasikannya maka langkah awal dibangunlah kerjasama dengan kolonial belanda yaitu dengan ikut serta mengambil peran sebagai salah satu guru disekolah yang dikelola belanda. 

Selanjutnya secara mandiri KH. Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah di Kauman Yogyakarta, dalam mengelolah pendidikan ini, beliau memberikan sentuhan system klasikal barat. 

Pola pendidikan yang diterapkan oleh kolonial belanda, sangat kontradiktif dengan pola pendidikan tradisional islam yang ada. Namun harus diakui bahwa system serta metode pendidikan dan pengajaran yang diimplementasikan dalam lembaga pendidikan mereka jauh lebih baik dan modern bila dibandingkan dengan system dan metode pada lembaga pendidikan tradisional islam.

Karena itu, dengan mengadopsi sebagian system pendidikan yang ada disekolah kolonial, Lalu mengkombinasikan dengan system pendidikan pesantren dan kearifan local, maka lahirlah balai-balai pendidikan yang menggabungkan disiplin ilmu umum dan disiplin ilmu Islam.

Sehingga ini relevan dengan tujuan pendidikan Muhammadiyah yaitu menciptakan kader intelektuan dan islami yang berarti kader intelek adalah kader yang menguasai pengetahuan secara umum dan kader islami adalah kader yang menguasai ilmu pengetahuan keislaman. Atau dengan kata lain mencetak ulama intelektual atau itelektual ulama. 

Pendidikan harus dinamis dan transformatif dalam rangka menuju kehidupan manusia yang lebih. Melalui konsep pendidikan transformatif setiap orang dituntut untuk bisa mengenjawatkan apa yang dipelajari sebagai wawasan dan keilmuan menjelma menjadi amalan dan perbuatan.

Konsep pendidikan transformatif berawal dari kisah KH. Ahmad Dahlan yang mengajarkan surat al Maun kepada segenap santrinya. Metode pembelajaran yang yang dikembangkan beliau bercorak kontektual melalui proses penyadaran. 

Surat tersebut dipelajari berulang-ulang oleh santrinya dan kemudian belia mempertanyakan kepada santrinya apakah kandungan surah tersebut sudah diamalkan?.  Maka keesokan harinya KH. Ahmad Dalan membawa berbagai barang yang dimilikinya kemudian mengajak santrinya menyantuni orang-orang miskin dilingkungan sekitar.

KH. Ahmad Dahlan sejak awal telah mengembangkan konsep pendidikan yang berelevansi dengan lingkungan kehidupan. Konsep ini melahirkan prinsip ilmu amaliah, amal ilmiah. 

Jadi, ilmu akan bermanfaat ketika diamalkan untuk kepentingan masyarakat setempat. Pendidikan konsekuensi inilah yang akan menjadi sumber kesadaran muhammadiyah untuk membangun sikap peduli terhadap lingkungan sosial.

Berawal dari konsep pendidikan transformatif, muhammadiyah melahirkan strisula pemberdayaan masyarakat: 1. Gerakan pendidikan dengan mendirikan balai pendidikan diseluruh jenjang yang tersebar diseluruh penjuru Indonesia dan telah mulai meraba keluar negeri. 2. Gerakan kesehatan dengan mendirikan berbagai balai kesehatan dan terbaru Muhammadiyah Disaster Manajemen Center (MDMC). 3. Gerakan ekonomi dengan membentuk lazismu dan lembaga mikro keuangan Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM) dan juga koperasi (Huda & Kusumawati, 2019).

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun