Mohon tunggu...
Ervina Naomi
Ervina Naomi Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi Universitas Negeri Jakarta, Program Studi Pendidikan Sosiologi

Saya merupakan mahasiswi aktif Universitas Negeri Jakarta dengan Program Studi S-1 Pendidikan Sosiologi.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Tiga Paradigma Utama Sosiologi Menurut George Ritzer

6 September 2022   10:00 Diperbarui: 6 September 2022   22:23 3803
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Apa itu paradigma dalam sosiologi? Mengutip dalam sebuah siniar bincang episode Paradigma Sosiologi (versi George Ritzer) oleh @Syaifudinsosio pada Spotify disebutkan bahwa paradigma dalam ilmu sosiologi menjadi bagian yang sangat melekat bagi seorang sosiolog dalam memandang suatu fenomena sosial. 

Pada awalnya Paradigma diperkenalkan oleh Thomas Samuel Kuhn (1922-1996) dalam bukunya yang berjudul 'The Structure of Scientific Revolution' yang diterbitkan pada tahun 1962. Tidak berhenti disitu, kata paradigma mulai dipopulerkan kembali oleh Robert Friedrichs dalam bukunya, yaitu 'Sociology of Sociology' pada tahun 1970.

Dalam melihat sebuah fenomena sosial yang ada setiap ilmuwan memiliki paradigma yang berbeda satu sama lain, dengan kata lain dengan satu fenomena sosial yang sama mampu menghasilkan tafsir yang berbeda. Pada akhirnya, perbedaan paradigma tersebut mampu melahirkan ilmu pengetahuan yang berbeda. Sehingga dalam hal ini, perbedaan cara pandang ataupun berpikir tidaklah selalu berkonotasi negatif. Dengan adanya relasi perbedaan paradigma, keragaman konseptual, dan teori yang dihasilkan oleh setiap ilmuwan disebut sebagai dialektika ilmu pengetahuan. 

Menurut George Ritzer, terdapat tiga faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan paradigma. Pertama, perbedaan pandangan filsafat yang mendasari pemikirannya. Perlunya mengenali terlebih dahulu seorang ilmuwan atau sosiolog guna mengetahui dasar berpikir mereka. Dengan kita mengetahui dimana seorang sosiolog ini menempuh pendidikan, ataupun latar belakang keluarga sosiolog tentunya kita bisa mengetahui akar utama pemikirannya dan mengetahui pandangan filsafat yang diyakini. 

Kedua, Membangun teori-teori dan mengembangkan teori yang berbeda. Pandangan filsafat yang berbeda mampu menghasilkan teori yang berbeda pula, misalnya penganut aliran filsafat empiris dengan penganut aliran filsafat konstruktivisme tentu akan menghasilkan teori yang berbeda. Ketiga, Metode yang digunakan untuk memahami dan menerangkan substansi ilmu yang berbeda.

Di dalam ilmu sosiologi terdapat juga yang disebut dialektika ilmu pengetahuan. Dimana para sosiolog yang ada memiliki perbedaan paradigma, keragaman konseptual, dan teori yang dihasilkannya. Fokus utama perbedaan dalam ilmu sosiologi terletak pada objek kajiannya. 

Hal ini membuat Ritzer menyatakan bahwa sosiologi memiliki beberapa paradigma atau paradigma ganda. George Ritzer menyebutkan terdapat tiga paradigma utama dalam ilmu sosiologi, yaitu :

  1. Paradigma Fakta Sosial

Paradigma ini memiliki tokoh sosiolog yang sangat dikenal, yaitu Emile Durkheim. Berawal dari kritik Durkheim terhadap pemikiran Auguste Comte dan Herbert Spencer mengenai "dunia ide merupakan pokok pembahasan utama sosiologi" mampu membuat Durkheim mengkaji lebih dalam terkait fakta sosial dalam ilmu sosiologi. Baginya pokok bahasan sosiologi harus mengenai studi fakta sosial. 

Fakta sosial merupakan barang yg nyata bukan ide dan dipahami menggunakan penyusunan data yang nyata yang dilakukan diluar pemikiran manusia. 

Ketika membahas fakta sosial Durkheim maka pokok pembahasan utamanya adalah Struktur Sosial dan Institusi Sosial, kedua hal tersebut mempengaruhi perilaku individu ataupun perilaku masyarakat yang ada karena keduanya bersifat memaksa diluar kehendak manusia. 

Misalnya norma yang berlaku di  daerah A yang memaksa warga setempat untuk mematuhinya. Norma yang berlaku di daerah A dengan daerah B tentunya terdapat perbedaan, sehingga masyarakat yang berada di dalamnya pun mengikuti norma yang berlaku pada lingkungannya tersebut.

  1. Paradigma Definisi Sosial

Paradigma yang kedua ini dilandasi oleh pemikiran sosiolog lainnya yaitu Max Weber mengenai tindakan sosial. Paradigma ini sangat bertolak belakang dengan paradigma sebelumnya, yaitu fakta sosial. Dimana durkheim memisahkan antara struktur sosial dengan institusi sosial. Dalam hal ini, justru keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. Weber melihat bahwa kedua hal tersebut merupakan satu kesatuan yang memiliki arti dan makna.

Sosiologi dalam pandangan Weber yaitu memahami berdasarkan tindakan sosial, sehingga objek utama weber ialah tindakan sosial. Tindakan sosial, setiap individu yang melakukan tindakan memiliki motif tertentu terhadap orang lain disebut tindakan sosial. 

Kata kunci dalam tindakan sosial ialah terdapat motif yang bermakna subjektif, yang hanya dipahami oleh individu tersebut. Sehingga menurut Weber, sosiologi merupakan ilmu yg berusaha menafsirkan dan memahami tindakan sosial serta hubungan sosial. 

Paradigma ini kerap disebut sebagai sosiologi interpretatif. Untuk memahami hal tersebut perlu menggunakan metode penelitian secara empiris yang cenderung kearah observasi atau pengamatan. Weber menyebutnya dengan verstehen.

  1. Paradigma Perilaku Sosial

Paradigma ini memusatkan perhatian pada hubungan antar individu dan juga hubungan antara individu dengan lingkungannya. Objek utama dalam paradigma ini yaitu perilaku manusia yang dianggap jauh lebih konkret dan lebih realistis dibandingkan paradigma sebelumnya. 

Menurut paradigma ini, tingkah laku individu mempunyai hubungan dengan lingkungan yang mempengaruhi ia dalam berperilaku. Tingkah laku yang dilakukan oleh individu juga mampu mempengaruhi ataupun merubah institusi ataupun struktur yang ada disekitarnya. Dengan tokohnya yaitu Burrhus Frederic Skinner, mengklaim bahwa objek perilaku manusia merupakan objek studi paling konkret dan realistis.

Itulah ketiga paradigma utama yang ada dalam ilmu sosiologi menurut pandangan George Ritzer. Seperti yang sudah perkataan beliau yaitu, sosiologi memiliki paradigma ganda. Perbedaan paradigma ini mampu membuat ilmu pengetahuan selalu berkembang dan beragam. 

Pada hakikatnya ilmu pengetahuan tidak boleh bersifat stagnan karena manusia merupakan makhluk dinamis dan membutuhkan ilmu pengetahuan yang mampu meningkatkan intelektualitas diri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun