Pandemi membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat di hampir seluruh belahan dunia. Tak hanya menjadi sebuah wabah yang berbahay bagi kesehatan, pandemi juga berbahaya bagi psikis seseorang. Apalagi ketika ketakutan-ketakutan muncul beriringan dengan berita-berita yang benar maupun yang salah mengenai pandemi ini membuat masyarakat menjadi lebih risau untuk menjalankan aktifitas.Â
Menurut WHO (2019), beberapa gejala stress yang kerap muncul selama masa pandemi banyak terjadi dapat berupa rasa ketakutan dan kecemasan mengenai kesehatan diri maupun kesehatan orang lain yang disayangi, perubahan pola tidur dan pola makan, sulit tidur dan konsentrasi, memperparah kondisi fisik seseorang yang memang memiliki riwayat penyakit kronis dan gangguan psikologis.
Lalu cara apa yang dapat kita lakukan agar tetap sehat mental?
Cara pertama yang dapat kita lakukan adalah self-healing. Hal ini dapat berupa:
Mindfullness, membiarkan pikiran kita agar tetap berada di masa kini, tidak mengembara ke masa lalu atau pun masa depan.
Guided Imagery, pejamkan mata lalu bayangkan sesuatu yang menyenangkan dengan berbagai modalitas seperti visual, auditori, dan kinestetik untuk membantu meningkatkan imajinasi. Meskipun kenyaman ini bersifat jangka pendek namun Guided Imagery bisa menjadi pertolongan pertama dalam kecemasan berlebih.
Self-talk¸ bicaralah kepada diri sendiri dengan kalimat positif. Perlu diketahui bahwa emosi cenderung dipengaruhi oleh pikiran kita, yang mana pikiran kita sangat tergantung dari bagaimana kita menafsirkan suatu peristiwa.
Expressive Writing, cobalah untuk mereflesksikan pikiran dan perasaan yang anda alami selama masa pandemi ke dalam bentuk tulisan.
Cara kedua yang dapat kita lakukan adalah dengan pendekatan spiritualisme. Dengan memahami bahwa hal-hal yang dapat kita kendalikan dan ada juga hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan. Pahami juga bahwa ada Tuhan yang Maha Kuasa yang mengendalikan segala sesuatu.Â
Cara ketiga yang dapat kita lakukan adalah dengan bijak dalam menyaring informasi atau berita yang kita dapatkan seputar Covid-19. Pastikan bahwa kita hanya mempercayai inforsmasi mengenai Covid-19 yang dapat dipercayai.
Cara keempat yang dapat kita lakukan adalah dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Selalu mencuci tangan sebelum menyentuh badan dan sebelum makan, menggunakan masker dan selalu menyediakan handsinitizer bila terpaksa harus keluar rumah serta membersihkan benda-benda yang sering disentuh. Pastikan asupan gizi tercukupi dan istirahat yang teratur.Â
Cara kelima, olahraga yang teratur. Usahakan selalu berolahraga setiap hari sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dengan berolahraga pula hormon endorfin (hormon yang berperan dalam kestabilan suasana hati dan mppd serta mencegah stress) yang dihasilkan oleh tubuh kita meningkat.
Cara keenam, berpikiran positif dalam menghadapi masa pandemi. Berpikir positif dapat menjadi cara yang efektif untuk menanggulangi rasa cemas berlebihan. Penting bagi kita semua untuk berpikir positif bahwa semua elemen (pemerintah, WHO, para peneliti, dan masyarakat) sedang melakukan upaya terbaik untuk menanggulangi pande Covid-19 ini. Namun berpikir positif juga harus diimbangi dengan sikap realistis bahwa pandemi ini memang berbahaya.Â
Maka menjadi sesuatu yang keliru bila kita mengandalkan pikiran positif yang kita bangun untuk mengabaikan himbauan pemerintah untuk tetap melakukan jaga jarak dan membatasi kerumunan.
Pandemi memang tidak dapat kita hindari, akan tetapi kita dapat menghindari diri kita dari mental yang sakit akibat pandemi ini. Â
Sumber: Departemen Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
2020
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI