Mohon tunggu...
Endang Winarti
Endang Winarti Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi 10 Desember 2016

10 Desember 2016   11:51 Diperbarui: 10 Desember 2016   12:42 221
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Indonesiaku

Mentari tersenyum cerah.

Nyiur berjajar melambai-lambaikan daunnya.

Semilir bayu menguak cakrawala.

Menyambut datangnya hari indah.

Berenang lincah ikan-ikan di perairan.

Geliat unggas mencari makan.

Burung bercanda di balik awan.

Kupu-kupu menari di kejauhan.

Awan berkejaran di ketinggian.

Berlari sembunyi di balik bukit.

Tersenyum gajah dengan belalainya.

Kelinci melompat berolahraga.

Petani ke ladang berdendang riang.

Nelayan melaut dengan hati lapang.

Bergegas orang muda berjuang di dalam karya.

Indonesiaku tumpah darahku.

Di dadamu aku mengadu.

Di pundakmu kusandarkan hidupku

Di haribaan mu ku menyatu.

Indonesiaku jayalah negeriku.

Damai

Purnama bersanding tersenyum malu.

Menatap bumiku.

Hamparan hutan hijau.

Selimuti atmosfirmu.

Bilik-bilik bersekat tercipta.

Perbedaan ideologi.

Perbedaan paham dan aliran.

Dipakai memecah belah.

Menyiksa jiwa.

Menyiksa raga.

Mentari tercipta tak semua.

Bumi milik bersama.

Udara segar cuma-cuma.

Sejukkan zaman kita.

Lenyapkan angkara murka.

Kasih memancar.

Hancurkan sengketa.

Damai hadir membalut luka.

Damai melayani sesama.

Lenyapkan dera dan derita.

Gugup rukun buana.

Bergandeng tangan bersama.

Membangun dunia.

Damai itu indah.

Damai sejahtera bagi kita semua.

Nyanyian Surga

Gemericik air pegunungan menyejukkan.

Gerimis hujan membasahi bumi dedaunan.

Alam masih perawan.

Bagai Firdaus impian.

Akal terbang kembali.

Nuansa damai di masa silam.

Saat kemurnian dan keindahan.

Memeluk dalam kerinduan.

Nyanyian alam membelai malam.

Sayup menyusup mendayu di kalbu.

Bisikan malaikat lembut membimbingku.

Suara hati jujur melebur.

Menjadi kekuatan Nirwana.

Bersatu padu dalam paduan suara.

Iringan harpa dan sangkakala.

Mendendangkan nyanyian surga.

Aku ingin

Aku ingin mengiringi dia.

Melewati kerikil-kerikil tajam kehidupan.

Aku ingin menjadi saksi-Nya.

Mulai fajar bergulir hingga senja menyongsong tiba.

Aku ingin berdevosi indah.

Bersama angin membisikan doa.

Aku ingin menjadi utusan-Nya.

Di dalam samudra madya.

Aku ingin selalu menderaskan doa rosario.

Bagi Bunda Maria tercinta, saat hening malamku.

Aku ingin mengajak setiap insan.

Berbagi kasih dalam syukur kepada-Mu.

Aku ingin memancarkan sinar terang-Mu.

Hingga tiba saatku.

Pakailah aku selalu di dalam setiap.

Langkah hidupku ya Allahku.

Gadis Pujaan

Kulit kuning langsat.

Sehalus sutra, bercahaya.

Lansing semampai indah dipandang.

Melenggang anggun bagai penari Bedaya.

Senyum dikulum santun menyapa.

Kau gadis belia dengan berbagai talenta.

Kau isi harimu dengan karya.

Masa depan cemerlang dalam genggaman.

Cantik parasmu secantik hatimu.

Rembulan melirik tersenyum manis.

Mawar bermekaran menyemarakan.

Hadirmu gadis pujaan.

Novena Hati

Kulambungkan syukur.

Saat ini bahagia.

Kuderaskan doa.

Saat hati merana.

Kupanjatkan permohonan.

Saat hati gundah.

Kusenandungkan madah pujian.

Saat hati sukaria.

Canda, tawa, resah, gelisah.

Hati hamba.

Kuserahkan pada-Mu jua.

Kuasa-Nya

Bintang di angkasa berkedip indah.

Memancarkan sinarnya.

Komet meluncur membiaskan cahaya.

Kuasa Sang Pencipta.

Planet berputar beriringan.

Siang dan malam bergantian.

Kuasa Sang Khalik Semata.

Nafas bersemayam di dada.

Sukma berbicara.

Raga melangkah.

Atas kehendaknya.

Oksigen berpadu bersama.

Gas mulia, Helium, dan Fransium.

Dan teman-temannya.

Kuasa pemilik semesta.

Detak jantung berpacu.

Debu ikut mengganggu.

Darah mengalir memasuki nadi.

Kuasa Ilahi suci.

Berhentilah

Berhentilah berlagak bersih.

Jika kamu doyan korupsi.

Berhentilah bicara demokrasi.

Jika kamu terus mengintimidasi.

Berhentilah berteriak Tuhan.

Jika kamu terus berbuat kelaliman.

Berhentilah bicara sok suci.

Jika kamu terus menebar fitnah dan benci.

Berhentilah menunjuk kesalahan orang.

Jika kamu biang keroknya.

Berhentilah berpura-pura, alam raya dan seisinya dapat melihat topeng anda.

Berhentilah, berhentilah, berhentilah!!!

Jika Umurku Panjang

Jika aku diberi umur panjang.

Aku mau buat apa?

Peduli pada sesama?

Peduli pada orang menderita?

Sibuk menumpuk harta?

Menjadi penguasa berjaya yang pura-pura?

Aku mau jadi burung di udara.

Terbang tinggi di angkasa.

Lepas bebas bersama teman dan saudara.

Tak perlu serakah, tak perlu berdusta.

Bergandeng tangan hingga sangkakala menggema.

Ketapel

Mainan tradisional anak desa.

Sederhana.

Gaya pegas bekerja.

Ditarik, lensa mata melirik titik.

Tangan-tangan kecil berupaya.

Tenaga terkumpul di sana.

Batu meluncur bagai busur.

Burung kecil di dahan jadi sasaran.

Jatuh terluka parah.

Matilah dia.

Siapa sangka.

Pesawat kecil sederhana.

Dapat membuat celaka.

Si pipit muda berduka.

Merana kehilangan saudara.

Demonstran Bayaran

Turut berteriak.

Ikut bersorak.

Bagai pion skak.

Yang tidak berotak.

Berteriak menyampaikan aspirasi.

Turut serta dalam setiap demonstrasi.

Demonstrasi yang tidak murni.

Disusupi kepentingan-kepentingan tersembunyi.

Yang marah di negeri ini.

Sulitnya mencari rezeki.

Perut berlagu sumbang minta di isi.

Menjadi motivasi.

Menjadi pengumpul demonstran.

Tawaran yang menggiurkan.

Menjadi koordinator lapangan.

Tinggi bayaran.

Ratusan teman dikumpulkan.

Ramai-ramai jadi demonstran.

Jutaan rupiah dalam genggaman.

Kalaili

Putih suci seputih salju.

Kelopak tunggal bertangkai panjang bodimu.

Menghiasi hamparan pegunungan.

Sejuk bersih segar nuansa alam mengelilingimu.

Dieng tempatmu bertumbuh.

Harum semerbak kau semburkan.

Indah menawan kau pacarkan.

Bahagia hati karena tertawa.

Kalaili bunga idaman.

Kotekan lesung

Irama ritmik terdengar.

Ibu-ibu bercanda dalam irama.

Alu ditangan bergoyang.

Menumbuk, lesung, berdendang.

Warisan nenek moyang.

Tak lekang oleh zaman.

Menghibur handai taulan dan wisatawan.

Kotekan lesung jadi hiburan.

Gembira senyum sumringah.

Menari bersama saudara.

Tercipta bahagia.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
  17. 17
  18. 18
  19. 19
  20. 20
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun