Kiki ingat tumpukan potongan kayu di halaman belakang.
Lari gadis remaja itu cepat bagai ditarik setan.
Beberapa menit berikutnya, pedagang kayu itu tersungkur di lantai dengan tulang tengkuk patah dan tengkorak pecah.
**
"Mbak Kiki akan menanam pohon di sudut halaman belakang itu. Pohon kenanga," bisik gadis remaja itu di telinga adiknya. "Kamu tidak perlu takut. Mbak Kiki akan mengurus semua. Tidak bakal ada yang curiga. Ayah tak peduli pada kita. Selalu pergi. Semua orang tahu itu. Bila dia tidak pulang, orang akan mengira dia sengaja meninggalkan kita." Tangan Kiki mendekap erat tubuh kurus adiknya.
Peristiwa dini hari itu tak diketahui orang.
Kiki dan Bobi sehidup-semati menjaga rahasia, saling berjanji akan melupakan semuanya, memendamnya di bawah pohon kenanga.
Sekian tahun kemudian, pohon di sudut halaman belakang yang ditanam Kiki itu tumbuh rimbun. Bunga kuningnya senantiasa mekar sepanjang tahun dan wanginya bisa tercium oleh tetangga. Tiap kali mimpi buruknya menghantui, Kiki mengajak adiknya berdoa di bawah pohon itu.
Untuk menopang hidup Kiki dan Bobi, kakek dan paman mereka sepakat menjual toko kayu Subakti yang terbengkelai. Tak satupun anggota keluarga berniat mencari lelaki itu. Semua orang yakin Subakti minggat atau terbunuh di hutan saat berkelahi berebut kayu dengan pembalak liar.
Satu-satunya orang yang menginginkan lelaki itu cuma si bandar judi, yang tiap hari datang menagih hutang. Untuk menutup hutang itu, adik perempuan Subakti membeli rumahnya. Kelebihan uangnya, bersama hasil jual murah sisa-sisa kayu gelondongan, ditabung untuk tambahan biaya hidup Kiki dan Bobi.
Kakak-beradik itu tetap diijinkan menempati rumah itu.