Mohon tunggu...
Muthiah Alhasany
Muthiah Alhasany Mohon Tunggu... Penulis - Pengamat politik Turki dan Timur Tengah

Pengamat politik Turki dan Timur Tengah. Moto: Langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati. Email: ratu_kalingga@yahoo.co.id IG dan Twitter: @muthiahalhasany fanpage: Muthiah Alhasany"s Journal

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Pengaruh Kemenangan Taliban terhadap Indonesia

19 Agustus 2021   10:46 Diperbarui: 20 Agustus 2021   23:47 1225
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pimpinan Taliban (dok.indonews.com)

Pergantian kekuasaan di Afghanistan patut dicermati oleh pemerintah Indonesia. Kemenangan Taliban sedikit banyak akan memberikan pengaruh untuk Indonesia. 

Walaupun kita masih disibukkan oleh penanganan pandemi yang tidak kunjung usai, jangan sampai menjadi lengah. Sel-sel teroris di Indonesia justru giat membangun kekuatan.

Kemenangan Taliban seolah menyuntikkan semangat bagi mereka. Para pemimpi khilafah menjadikan hal ini sebagai momentum untuk bangkit melawan pemerintah. 

Kita bisa melihat dari ulah mereka di saat pandemi Covid 19 melanda Indonesia. Informasi hoaks gencar dilancarkan melalui media sosial untuk membangun opini kebencian terhadap pemerintah. Dan ini seperti api dalam sekam yang bisa sewaktu-waktu meledak.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah Indonesia:

1. ISIS masih eksis. Memang betul bahwa kelompok teroris ini secara organisasi sudah kacau. Terutama ketika pentolan dan pimpinan mereka mati terbunuh. Tetapi bukan berarti mereka sudah punah.

Anggota kelompok teroris tersebut menyebar ke seluruh dunia. Teroris yang berasal dari Indonesia, kembali ke negara ini. Sayangnya, tidak lantas insyaf dan ikut membangun negeri. Mereka bergabung dengan kelompok lain yang sudah ada di Indonesia dengan mimpi mendirikan negara khilafah.

Organisasi-organisasi teroris yang dibubarkan seperti HTI hanya berkamuflase, berganti nama dan rupa. Mereka tetap bergerilya menghasut masyarakat untuk membenci pemerintah.

2. Kelompok-kelompok teroris ini menjalin kerjasama dengan oposisi. Pengalihan kekuasaan digaungkan dengan berusaha menjatuhkan pemerintahan. 

Beberapa kali mereka melakukan ujicoba selama pandemi dengan menggerakkan demonstrasi. Untunglah sampai hari ini masih belum berhasil. Tapi, mereka tidak akan pernah berhenti.

Ulama-ulama pro khilafah rajin mengisi BBM acara-acara ceramah online sambil melakukan propaganda. Mereka membangun opini bahwa pemerintah tidak becus sehingga pantas untuk digulingkan.

3. Syahwat politik, nafsu merebut kekuasaan semakin besar sehingga mereka menggunakan segala cara. Sangat disayangkan partai terbesar pengusung Jokowi justru sibuk menyiapkan dinasti, tidak peduli dengan perkembangan gerak teroris.

Pemerintahan Jokowi dilemahkan oleh orang-orang yang semula mendukung, tetapi kemudian malah menggerogoti. Berebut rezeki korupsi, hukum pun mereka kuasai. Lembaga-lembaga hukum tidak punya gigi untuk memberantas mereka. 

Kelemahan tersebut menjadi celah yang dimanfaatkan oposisi dan kelompok teroris. Mereka semakin percaya diri bahwa kekuasaan pemerintah bisa diambil alih.

4. Sel-sel teroris telah ada di semua lini, di tempat strategis. Misalnya di media massa yang tampak kecenderungan pada pihak mereka. Semakin banyak wartawan dan media yang mereka kuasai.

 Kelompok teroris tidak lagi malu-alu menunjukkan keberadaan dan identitas mereka. Apalagi mendapat perlindungan dari kaum oposan. Bahkan para pendukung mereka tidak ragu memproklamirkan diri sebagai bagian dari mereka.

Momen kemenangan Taliban menjadi pemicu yang cukup kuat. Kalau di Afghanistan bisa, tentu di  negeri ini juga bisa. Begitulah pemikiran mereka. 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun