Kita mengetahui dahsyatnya gempa dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala. Lebih dari 1700 orang telah dimakamkan, dan ribuan lainnya menderita luka berat serta kehilangan tempat tinggal.
Mengingat bahwa jarak waktu antara gempa Lombok dengan gempa Palu dan Donggala tidak lama, maka ada kemungkinan akan terjadi lagi bencana serupa dalam waktu dekat. Negeri cincin api ini sedang membara.Â
Lalu bagaimana jika gempa dan tsunami melanda wilayah yang paling penting di Indonesia, yaitu Ibu Kota Jakarta?
Kemungkinan itu sangat tinggi, terutama dengan adanya gunung anak Krakatau yang aktif melebihi biasanya.
Menilik sejarah bencana alam yang pernah terjadi, Jakarta pernah dilanda gempa besar dan tsunami.
Pada waktu itu kita berada dalam penjajahan Belanda.
Pada tahun 1780, tercatat gempa besar yang meruntuhkan gedung Mohr Observatory di Torenloan (sekarang gang Tory) gedung itu dibangun tahun 1765 -1768).
Begitu pula dengan gedung Molenvliest di jalan Gajah Mada, dekat kelenteng Kim Tek Le.
Tetapi sebelum itu, pada tanggal 5 Januari 1699, Jakarta juga dilanda gempa akibat meletusnya gunung Salak.
Berdasarkan catatan Indonesia's Historical Earthquakes, 26 orang meninggal, terjadi banjir lumpur mengalir melalui sungai Ciliwung. Batavia menjadi rawa raksasa, semua rumah hancur.
Sedangkan pada tanggal 10 Oktober 1834, Batavia, Karawang, Banten, Braga dan Bogor dilanda gempa parah, tapi tak ada laporan korban jiwa.