Dalam laporannya yang mencakup perlakuan politik terhadap umat Islam di seluruh Eropa, Hammarberg menemukan kian meningkatnya intoleransi terhadap Muslim dalam berbagai pernyataan politik. Termasuk di dalamnya, referendum di Swiss untuk melarang pembangunan menara masjid. Anggota Komisi HAM Eropa, Thomas Hammarberg, mengingatkan rasa kebencian atau intoleransi terhadap kalangan Muslim merupakan gejala dari masalah yang bisa membawa Eropa ke jurang degradasi moral.
Jejak pendapat yang dilakukan di beberapa negara Eropa mencerminkan rasa takut, kecurigaan, dan pendapat negatif terhadap umat dan budaya Islam. Islamophobia yang digabungkan dengan sikap rasis ini, diarahkan tak sedikit kepada imigran asal Turki, negara-negara Arab, dan Asia Selatan. Umat Muslim tak jarang menghadapi diskriminasi saat mencari kerja atau di sistem pendidikan di sejumlah negara Eropa. Ada laporan yang mengungkapkan bahwa imigran Muslim ini cenderung menjadi sasaran oleh polisi saat memeriksa kartu identitas.
Islamophobia berkembang dan semakin tumbuh khususnya pada masyarakat eropa dikarenakan Fihak media yang memperuncing permusuhan ini. Fenomena ini menunjukkan masih kentalnya ketakutan yang tidak beralasan (Islamophobia) dari pihak media massa kepada Islam. Demonologi Islam dilakukan oleh pihak Barat yang memandang Islam sebagai ancaman bagi kepentingan mereka. Demonologi3 Islam menjadi bagian dari strategi Barat untuk meredam kekuatan Islam, yang mereka sebut sebagai The Green Menace (Bahaya Hijau).
Media massa dalam hal ini akan bertindak sebagai sarana pembentuk makna. Kesan buruk mengenai Islam perlu diciptakan agar penindasan Islam dapat dilakukan dengan persetujuan khalayak. Jadi, terbentuknya opini publik (public opinion) tentang bahayanya Islam atau Islam sebagai ancaman akibat pemburukan citra Islam tersebut, dapat memberikan semacam legitimasi dan justifikasi bagi Barat.
Faktor di atas merupakan sebuah batu sandungan bagi turki yang ingin menjadi anggota Uni Eropa. siapa yang tidak tahu dan tidak tau agama apa yang mayortas di dalam turki. Faktor yang menurut saya cukup dominan yang menuntun Uni Eropa untuk mengambil kebijakan nya. Mengapa Perang salib? Ya hal ini di karenakan ketakutan para bangsa Eropa dan barat tentang kebangkita kekuatan Islam dalam hal ini, mereka seperti trauma terhadap kekalahan dan kebencian terhadap Muslim pada masa perang salib. Identitas telah terbentuk dan terkristal di dalam diri sosio-kultur bangsa Eropa dan barat. walaupun menurut saya ini adalah sebuh sikap paranoid bagi banyak negara barat.
Mengapa saya membahas Permasalahan Identitas budaya dan aspek historis? Mengapa saya membahas persoalan Turki dengan pendekatan culture studies4? Hal ini dikarenakan ”identitas budaya” adalah sebagai suatu kesatuan, sebuah kumpulan tentang kebenaran seseorang, menyembunyikan atau menonjolkan sesuatu tentang diri kita dimana usur sejarah bersatu di masa sekarang. Dengan definisi ini identitas budaya kita merefesikan pengalaman sejarah dan kode-kode budaya memiliki andil dalam membentuk kita menjadi ”seseorang:, dengan krangka yang stabil, tidak berubah dan tetap tentang refernsi dan makna.
Selain itu identitas budaya adalah melihat beberapa kesamaan sekaligus perbedaan yang membentuk siapa diri kita sekaligus perbedaan yang membentuk ”siapa diri kita sesungguhnya”, dibandingkan ”ita telah menjadi apa”. Idenitas budaya dalam cara pandang kedua ini adalah masalah akan menjadi apa ita kelak dan siapa kita sekarang. Identitas budaya menjadi bagian dari masa depan juga masa lalu. Identitas budaya datang dari suatu tempat, meiliki sejarah, secara konstan beruaha. Identitas budaya adalah permainan dari sejarah, budaya dan kekuasaan. Identitas adalah nama yang kita berikan kepada kita dengan cara berbeda dimana kita diposisikan dan posisi dimana kita berada di masa lalu.
budaya telah memberikan suatu sumbangan yang sangat penting dalam merepresentasikan masyarakat yaitu melalui kajian interdisiplin atau anti-disiplin. Kajian budaya disebut suatu kajian anti-disiplin karena menolak pengkotak-kotakan ilmu pengetahuan yang saling mengklaim kebenaran yang dihasilkan disiplin ilmunya masing-masing. Kajian budaya justru harus mengakomodasi kontribusi teori maupun metode dari berbagai disiplin ilmu yang dipandang strategis untuk merepresentasikan realitas masyarakat terutama representasi terhadap permasalahan kekinian. Dalam hal ini kajian budaya berupaya merepresentasikan masyarakat secara multidimensi, dengan demikian dapat memperjelas dan mem-perkaya pemahaman terhadap suatu permasalahan yang dikaji.
Demikian pula halnya dalam kaitannya dengan konstruksi identitas nasional kajian budaya telah menawarkan beberapa hal yang harus dijelaskan seperti pema-haman terhadap dunia sehari-hari sebagai bagian dari budaya yang penting di-perhatikan. Dunia sehari-hari adalah suatu wacana yang biasa dilakukan, dirasakan, dibicarakan, dilihat dan didengar dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat. Hal ini yang disebut oleh Melani Budianta sebagai acuan/wacana yang beredar di masyarakat. Oleh karena, wacana yang beredar di masyarakat maka budaya yang harus diperhatikan dalam kajian budaya bukan saja budaya yang bersifat adiluhung. Akan tetapi, juga budaya populer dan budaya sebagai keseluruhan cara hidup (way of life) suatu masyarakat.
Dalam penjelasan kontruksi identitas kebudayaan menurut kajian budaya harus dilakukan suatu dekontruksi5, yaitu mengidentifikasi hal-hal yang kontradiksi dalam masyarakat (kontradiksi internal) seperti nasional versus global atau nasional versus lokal. Kemudian melihat ke arah mana perubahan akan terjadi. Menurut penulis, dekontruksi ini merupakan sumbangan sumbangan ketiga dari kajian budaya dalam merepresentasikan masyarakat yang dalam hal ini adalah kasus turki yang sedang saya bahas. Melalui dekontruksi, kajian budaya yang memberikan suatu interpretasi dan representasi harus membantu masyarakat memahami dominasi dan jenis perubahan yang diinginkan. Sehingga dalam identitas kebudayaan nasional masyarakat harus “disadarkan” mengenai pemahaman arus budaya global terhadap budaya nasional.
Setelah saya membahasan banyak sekali teoritis di atas, saya menyimpulkan bahwa aspek-aspek di atas yang saya bahas adalah sebuah aspek yang dominan dalam permasalahan turki Terlepas dari aspek-aspek Ekonomi dan lain-lain. Aspek ekonomi dan yang lain nya timbul akibat ketidakbebas nilai nya pemikiran manusia dan sifat terjajah oleh pemegang Hegemoni bagi yang mendukung teori-teori mapan dalam melihat sebuah dinamika sosial politik yang terjadi di dunia. Bebas dari nilai adalah suatu ke-Anomalian yang sekarang merajalela dalam kehidupan sehari-hari,, pada dasarnya setiap subjek tidak akan pernah bebas dari nilai-nilai yang akhirnya menyebabkan ke subjektif-an,, tetapi bagaimana bila subjektifitas adalah sesuatu yang alami dan harus terjadi dalam kehidupan? Say no to Objektif!!