Mohon tunggu...
Emitha Thamrin
Emitha Thamrin Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Yuk, Kenali Peringatan Pada Label Pangan!

19 Agustus 2018   14:40 Diperbarui: 19 Agustus 2018   15:53 863
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Masih ingatkan isu susu kental manis yang viral beberapa waktu lalu? Susu kental manis diisukan tidak ada susunya dan memicu obesitas. Wow! Isu tersebut sempat meresahkan masyarakat terutama ibu-ibu, karena kuatir anak mereka yang mengkonsumsi susu kental manis obesitas bahkan terkena diabetes.  

Kurangnya perhatian konsumen membaca label salah satu penyebabnya. Susu Kental Manis (SKM)sebenarnya produk susu dengan kandungan lemak susu 8% dan protein 6,5%, sesuai rilis BPOM pada Penjelasan Bersama BPOM dan Kemenkes tentang SKM tanggal 13 Juli 2018 (www.pom.go.id).

Pada rilis tersebut disampaikan untuk mencegah kesalahan persepsi penggunaan SKM akibat tampilan label dan iklan, maka pada 22 Mei 2018 telah dikeluarkan Surat Edaran kepada seluruh produsen/importir/distributor SKM.

Ditegaskan label dan iklan produk susu kental manis dilarang menampilkan anak usia di bawah 5 tahun dalam bentuk apapun, menggunakan visualisasi bahwa produk susu kental dan analognya disetarakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap zat gizi, menggunakan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman, dan khusus untuk iklan dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak.

Sudah menjadi kebiasaan, konsumen ketika membeli produk pangan olahan  tidak memperhatikan informasi yang tertera pada label dengan seksama. Seringkali konsumen fokus pada batas kadaluarsa dan logo halal saja. Ini kebiasaan yang kurang tepat tentunya.

Informasi apa saja sih yang tercantum pada label pangan? Pada label  tercantum nama jenis produk,  merek dagang, tercantum berat/isi bersih, alamat produsen, nomor izin edar (BPOM RI MD/ML), komposisi, kode produksi, petunjuk penyimpanan dan petunjuk penggunaan. Selain fokus pada batas kadaluarsa dan logo halal, selayaknya konsumen juga membaca "Peringatan" yang tercantum pada produk pangan tertentu. Peringatan berfungsi sebagai informasi kandungan dan peruntukan produk pangan.

Misalnya pada produk susu kental manis tercantum peringatan yang ditulis dengan tinta merah dalam kotak merah, yaitu Perhatikan! Tidak Cocok untuk bayi sampai dengan usia 12 bulan. Artinya susu kental manis bukanlah pengganti Air Susu Ibu (ASI), sehingga tidak cocok diberikan pada bayi dibawah 12 bulan. Peringatan yang sama juga tercantum pada produk susu UHT "Susu UHT tidak cocok untuk bayi usia 0-12 bulan".

Susu kental manis biasanya digunakan sebagai pelengkap masakan seperti toping pada es krim, martabak, es buah; dan tidak pas dijadikan sebagai sumber utama nilai gizi susu. ASI tetap menjadi sumber gizi terbaik bagi anak hingga usia 2 (dua) tahun, bukan susu kental manis. Dengan demikian obesitas pada anak dapat dihindari.

Peringatan lain, pada produk yang mengandung babi tercantum gambar babi dengan tulisan merah dalam kotak merah "Mengandung babi" .

Juga jika diproduksi pada sarana bersamaan dengan pengolahan babi, pada label tercantum gambar babi dan tulisan dalam kotak merah  : Pada proses pembuatannya bersinggungan dan/atau menggunakan fasilitas bersama dengan bahan bersumber  babi. Pada produk yang mengandung alkohol tercantum "Mengandung alkohol ...%" pada komposisi (ingredient)- nya dan tercantum peringatan : DI BAWAH UMUR 21 TAHUN ATAU WANITA HAMIL, DILARANG MINUM. Kedua informasi ini penting diperhatikan oleh konsumen muslim.

Konsumen yang alergi dengan bahan pangan tertentu seperti gandum, rye, barley, oats, spelt , kerang - telur- ikan, kacang tanah- kedelai dan hasil olahnya, susu dan hasil olahnya termasuk laktosa, treenut dan hasil olah kacang  harus memperhatikan informasi alargen: "Mengandung/dapat mengandung..." diikuti bahan pangan yang dapat menimbulkan alergi tersebut. Contoh : "Mengandung telur dan hasil olahnya".

Produk minuman serbuk dan kembang gula sering menggunakan Bahan Tambahan Pangan (BTP)  Pemanis Buatan. Pada labelnya tercantum peringatan "Mengandung gula dan pemanis buatan" dan "Mengandung pemanis buatan, disarankan tidak dikonsumsi oleh anak dibawah 5 (lima) tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui". Peringatan ituuntuk mencegah timbulnya resiko terhadap kesehatan.

Jenis pemanis buatan yang aman digunakan dalam batas tertentu  dan disetujui oleh BPOM antara lain Asesulfam K, Aspartam, Siklamat, Sakarin, Sukralosa dan Neotam. Selain itu juga ada pemanis alami seperti sorbitol, isomaltitol, glikosida steviol, maltitol, laktitol, silitol dan eritritol.

Pangan dengan pemanis buatan aspartam tercantum "Mengandung fenilalanin, tidak cocok untuk penderita fenilketonurik"  dan jika terkandung pemanis alami poliol, seperti sorbitol, isomaltitol, maltitol, laktitol, silitol dan eritritol tercantum peringatan "Konsumsi berlebihan mempunyai efek laksatif".Pada label pangan untuk penderita diabetes dan/atau makanan berkalori rendah yang menggunakan pemanis buatan tercantum  "Untuk penderita diabetes dan/atau orang yang membutuhkan makanan berkalori rendah".

Pada minuman serbuk kopi yang dicampur dengan ginseng tercantum peringatan" Harus diperhatikan penggunaannya terhadap wanita hamil dan menyusui serta anak-anak dan Tidak dianjurkan penggunaannya pada penderita hipertensi dan diabetes. Ginseng yang boleh ditambahkan dengan batasan tertentu hanya dua jenis yaitu  Panax Ginseng C.A Meyer atau Panax quinquefolius. Minuman serbuk kopi yang menggunakan kopi anhidrat harus mencantumkan kandungan kafeinnya dan batasan konsumsi: "Mengandung kafein ... mg/saji, maksimum mengkonsumsi 150 mg/hari.

Dengan teknologi tertentu, air minum dalam kemasan dapat dinaikkan pHnya di atas pH normal (8.5). Pada air minum pH tinggi tercantum peringatan : "Minuman dengan pH tinggi, hati-hati bagi penderita penurunan fungsi ginjal dan gangguan lambung".

Pada produk untuk bayi seperti Formula Bayi,  Formula Lanjutan, Formula Pertumbuhandan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) tercantum peringatan berupa saran agar berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum digunakan. Peringatan berupa tulisan : "KONSULTASIKAN DENGAN TENAGA KESEHATAN ". Begitu juga untuk produk Minuman Khusus Ibu Hamil dan/atau Ibu Menyusui, Pangan Olahragawan dan Pangan untuk Kontrol Berat Badan.

Sedangkan  pada produk pangan olahan untuk manajemen diet bagi orang dengan penyakit/ gangguan yang perlu konsultasi dokter tercantum tulisan "HARUS DENGAN RESEP DOKTER". Seperti pada produk  untuk  Pasien Alergi Protein Susu Sapi dan produk untuk Dukungan Nutrisi bagi Anak Berisiko Gagal Tumbuh, Gizi Kurang atau Gizi Buruk.

Untuk itu konsumen harus cermat memperhatikan informasi pada label pangan termasuk peringatan. Dengan mengenali peringatan pada label pangan dan membacanya dengan teliti, diharapkan konsumen memahami peruntukan, batasan dan hal apa saja yang perlu dilakukan ketika  mengkonsumsi produk pangan olahan.  Artinya konsumen lebih cerdas sehingga mispersepsi tentang produk pangan seperti pada kasus susu kental manis tidak terjadi lagi. Yuk baca label lebih detil!

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun