Mohon tunggu...
Elvi Anita Afandi
Elvi Anita Afandi Mohon Tunggu... Lainnya - FAIRNESS LOVER

Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Iri dan Dengki: Kenali Jauhi!

19 Mei 2023   10:36 Diperbarui: 19 Mei 2023   10:41 167
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi "crab mentality" ironi pelaku iri dengki Sumber: Pinterest.com

Ini adalah artikel bagian 2 dari tema yang sama, yaitu tentang iri dan dengki. Pada bagian 1 membahas sub tema pengertian peristilahan iri dan dengi serta beberapa kisah dalam Alquran  tentang orang-orang yang dengki.

Pada artikel bagian 2 ini, membahas sub tema "apa yang mendorong seseorang bersikap iri dan dengki", serta "bagaimana menghindari sifat tersebut".

Sebab Timbulnya Iri dan Dengki

Dengki biasanya banyak terjadi di antara orang-orang terdekat; antar keluarga, antarteman sejawat, antar tetangga dan orang-orang yang berdekatan lainnya. Sebab rasa dengki itu timbul karena saling berebut pada satu tujuan. Dan itu tak akan terjadi pada orang-orang yang saling berjauhan, karena pada keduanya tidak ada ikatan atau keterkaitan sama sekali.

Iri dan dengki secara umum timbul karena ketidakmampuan seseorang dalam mengelola porsi ekspresi kecintaannya kepada hal-hal keduniaan dan hal-hal yang bersifat lebih spiritual atau ukhrowi.  

Pemahaman atau ilmu yang baik tentang ketentuan nasib atau nikmat yang diterima seseorang hakikatnya telah diatur Allah swt akan dapat menepis munculnya sifat atau sikap iri dan dengki. Kendatipun hal tersebut tidak 100 persen menjamin seseorang dapat menghindarkan diri dari sifat ini. Artinya, pemahaman tentang nasib seseorang baik yang sesuai sunnatullah (hukum sebab -- akibat) bahkan yang menyelisihi sunnatullah sudah diatur oleh Allah, adakalanya juga tidak berpengaruh dalam menepis rasa iri dan dengki. Sifat ini dapat tetap menggerogoti jiwa seseorang. Contoh, Si A telah memahami bahwa secara sunnatullah manusia yang lebih berhak atau setidaknya lebih layak amenerima kesuksesan, keberhasilan, kekayaan adalah mereka yang lebih rajin atau ulet. Seorang mahasiswa yang malas belajar sewajarnya nilai akademisnya rendah dan sebaliknya. Pegawai yang paling rajin tentu yang paling sukses dan paling layak diberikan penghargaan. Anak yang memiliki orang tua berkecukupan tentu lebih berpeluang mendapatkan fasilitias lebih baik dan lebih muda, lelaki yang tampan tentunya lebih berpeluang mendapatkan isteri yang cantik dan seterusnya. Bahkan Si A juga memiliki pemahaman lebih jauh lagi, bahwa dalam hidup tidak selalu sesuai dengan sunnatullah. Kadang ada lompatan logika di luar jangkauan manusia, atau atas kehendaNya menyelisihi keumuman sebab akibat. Misalnya, seseorang dibakar hidup-hidup sewajarnya mati. Tetapi malah sebaliknya, api itu terasa sejuk baginya. Contoh lain, ada seorang mahasiswa yang tidak terlalu pandai, dengan persiapan belajar yang minim, malah lolos tes beasiswa kuliah di luar negeri, dan sebaliknya dengan track record nilai yang cukup bagus dan perjuangan belajar yang sungguh-sungguh malah tidak lolos. Namun sayang, pemahaman sedalam itu belum bisa menepis rasa iri dan sikap dengki.

Pengetahuan tentang nasib, rejeki, nikmat bahkan tentang iri dan dengki saja belum cukup.  Perlu ditunjang kemampuan dalam mengelola porsi ekspresi kecintaan pada keduniawian dan Allah Swt. Manusia yang menyandarkan hati dan segala hajat hidupnya semata kepada Allah dan untuk Allah akan senantiasa lapang hatinya, ringan melaksanakan pekerjaan, tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Fokusnya pada proses yang dijalani bukan pada hasil. Tidak ada rasa iri apalagi dengki.

Secara umum, kecintaan kepada dunia merupakan sebab utama atau umum timbulnya iri dan dengki antar sesama.  Secara lebih khusus ada beberapa pemicunya, di antaranya:

a. Sebab pertama, permusuhan. Ini adalah penyebab kedengkian yang paling parah. Ia tidak suka orang lain menerima nikmat, karena dia adalah musuhnya. Diusahakanlah agar jangan ada kebajikan pada orang tersebut. Bila musuhnya itu mendapat nikmat, hatinya menjadi sakit karena bertentangan dengan tujuannya. Permusuhan itu tidak saja terjadi antara orang yang sama kedudukannya, tetapi juga bisa terjadi antara atasan dan bawahannya. Sehingga sang bawahan misalnya, selalu berusaha menggoyang kekuasaan atasannya.

b. Sebab kedua adalah ta'azzuz (merasa paling mulia/ hebat/ pandai). Ia keberatan bila ada orang lain melebihi dirinya. Ia takut apabila rekannya atau koleganya mendapatkan penghargaan/ pengakuan/ kekuasaan/pengetahuan atau harta yang bisa mengungguli dirinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun