Luna hanya mengangguk. Tidak ada lagi kata yang tersisa untuk membela diri. Ia merasa seperti menelan kekecewaan yang tak terucap, setiap saat menanggung beban yang seolah hanya miliknya sendiri.
Saat pulang sekolah, Luna melangkah perlahan menuju gerbang, merasa tubuhnya terasa berat. Rani, sahabatnya, mencoba menyemangati dengan menggenggam bahu Luna.
"Lun, aku ngerti kok, ini nggak mudah. Kamu udah coba sebaik mungkin," ujar Rani dengan penuh empati.
Luna tersenyum kecil, tapi senyum itu terasa getir. "Nggak ada yang ngerti, Rani. Guru-guru cuma ngeliat aku sebagai ketua kelas yang harus tanggung jawab, tapi nggak ada yang ngerti gimana teman-teman selalu nggak peduli dengan ucapanku. Mereka nggak ngerti kalau aku lelah banget jadi satu-satunya yang harus ngatur semuanya."
Rani meremas tangan Luna dengan lembut. "Aku ada di sini, kok. Kamu nggak sendirian."
Meski begitu, Luna tahu bahwa pada akhirnya, ia yang harus kembali ke kelas itu, menghadapi sikap acuh tak acuh teman-temannya yang seakan tak pernah berubah. Rani mungkin bisa mendengarkan, tapi hanya Luna yang harus terus berjuang di tengah ketidakpedulian itu.
Waktu terus berjalan, dan Luna semakin memahami bahwa tidak semua hal bisa ia kendalikan, termasuk keinginan untuk diakui. Tapi ia tetap mencoba bertahan, meski luka demi luka terus bertambah, meski hati kecilnya selalu ingin menyerah. Di setiap panggilan guru, di setiap teguran, dan di setiap tawa yang melecehkan, ia berdiri tegar, menyimpan semua perasaannya sendiri.
Pada hari terakhir ujian, saat kelas mulai kosong dan teman-temannya berhamburan pulang, Luna duduk sendirian di bangkunya. Sejenak, ia membiarkan dirinya menangis, melepaskan beban yang ia tahan selama ini. Ia tahu, ini mungkin tidak akan pernah mudah. Tapi di balik kesedihan itu, ia merasakan kekuatan yang perlahan- lahan tumbuh- kekuatan untuk terus berdiri, meski ia harus menghadapi semua sendirian.
***
Ella Ning, gadis yang suka menghabiskan seluruh waktunya untuk berpikir dan menulis di perpustakaan sekolah, SMA NEGERI 3 BREBES. Sosok yang juga menyukai sastra dan berlogika ketika menulis. Pertama kali menulis ketika berada di bangku SMP kelas 7. Berkeinginan untuk bertemu Jeon Wonwoo, member dari boygroup SEVENTEEN.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H