Tapi, ah, semoga saja tidak. Semoga para penulis fiksi, khususnya di Kompasiana, semuanya bersikap jujur. Mengunggah hanya karya sendiri. Setidaknya kalau mengambil karya orang lain, terjemahan misalnya, beri keterangan, cantumkan nama penulis aslinya atau asal muasal sumbernya.Â
Lantas apa sih penyebab seorang penulis tergoda melakukan plagiasi?Â
Ada banyak faktor. Di antaranya; karena ingin cepat terkenal secara instan, karena ingin dipandang sebagai penulis hebat tapi malas belajar, atau karena ingin mendapatkan sesuatu (baca keuntungan) dari hasil mencomot karya orang lain.Â
Pengalaman Membongkar Karya Fiksi Plagiasi
Bicara soal ketidakjujuran dalam menulis fiksi, beberapa tahun silam saya dan sahabat saya, yang juga seorang penulis ternama di Kompasiana ini, pernah punya pengalaman tidak mengenakkan.Â
Begini ceritanya.Â
Kami mengadakan pelatihan menulis puisi untuk adik-adik di sebuah SMK. Ada sekitar 7 peserta yang mendaftar kala itu.Â
Setelah 3 hari pelatihan, kami memberi tugas kepada para peserta. Setiap anak wajib menyerahkan 5 puisi per hari. Dikumpulkan dalam rentang waktu satu minggu. Dan, puisi-puisi itu akan dibukukan.Â
Saya mendapat mandat menyeleksi puisi-puisi yang masuk lewat email. Alhasil, setiap malam saya harus berkutat membaca, meneliti, dan mengedit jikalau ada typo di sana sini.
Nah, di sinilah kasus plagiasi itu terjadi.Â
Ketika menyeleksi karya puisi di hari kesekian, saya berkerut kening. Ada beberapa peserta yang menyetor puisi dengan judul dan isi yang sama persis.Â