Namun demikian saya selalu berusaha sekuat tenaga untuk menjadi ibu yang baik, khususnya dalam mendidik dan mendampingi 4 orang anak yang telah Allah titipkan kepada saya.
Bersyukur keempat anak saya memahami betul kondisi ibunya ini. Mereka belajar dari pahit manisnya kehidupan yang telah kami lalui bersama.
Oh, ya. Anak-anak saya telah tumbuh dewasa. Dua anak sudah 'mentas' untuk menjalani kehidupan mereka masing-masing. Satu anak merantau di Jakarta. Praktis saya tinggal berdua bersama si bungsu sampai ia memutuskan menerima tawaran beasiswa itu dan berangkat ke Negeri Sakura.
Dia Satu-Satunya Siswa yang Tidak Bisa Ikut ke Luar Negeri
Tulisan ini hanya sebagai pengingat, betapa anugerah Allah tiada terhingga. Khususnya bagi bungsu saya.
Ya, saya masih belum lupa. Dulu, ketika duduk di bangku SLTP, si bungsu pernah mengundurkan diri dari program pertukaran pelajar antara Indonesia dan Singapura. Kala itu dia satu-satunya siswa kelas akselerasi yang tidak bisa ikut berangkat karena terbentur masalah biaya.
Meski dari pihak sekolah menyatakan biaya keberangkatan fifty-fifty, dalam arti separuh ditanggung pihak sekolah separuhnya lagi dibebankan kepada wali murid, toh tetap saja bagi kami nilainya masih sangat besar. Tidak mungkin akan terjangkau.
Oh, ya. Sekadar info. Si bungsu memang tercatat sebagai siswa di salah satu SLTP Negeri favorit di Kota Malang. Ia diterima berdasarkan hasil NEM-nya yang nyaris sempurna.
Duduk di bangku SMU kisah terulang kembali. Ketika sekolahnya mengadakan tour Eropa untuk acara kunjungan antar sekolah atau apa (saya lupa), dengan biaya puluhan juta rupiah, si bungsu mesti berbesar hati untuk tidak ikut.
"Kasihan Mama kalau harus membayar ongkos berangkat begitu besar." Ujarnya kala itu dengan amat sangat pengertian.