Mohon tunggu...
Lilik Fatimah Azzahra
Lilik Fatimah Azzahra Mohon Tunggu... Wiraswasta - Wiraswasta

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Misteri Sukati

21 Juni 2021   05:43 Diperbarui: 5 Agustus 2024   18:22 460
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber:www.artsper.com


Nama saya Sukati. Kata Ibu, nama itu adalah nama pemberian mendiang Kakek.

"Su artinya indah. Dan Kati artinya perempuan." Begitu Ibu menjelaskan perihal nama saya.

"Apakah Ibu senang mempunyai anak seperti aku?" tanya saya suatu hari seraya menatap wajah Ibu dalam-dalam. Ibu mengangguk pelan. Lalu menuntun tangan mungil saya menuju kamar tidur.

"Ya, Ibu senang. Karena kamu cantik seperti bunga sepatu." Ibu mengangkat tubuh saya lalu menidurkan di atas ranjang.

"Bagaimana dengan Bapak? Apakah ia juga menyayangi Sukati?" Kembali saya menatap wajah Ibu. Ibu tertegun sejenak. Mendadak saya melihat sekelebat mendung melintas di matanya.

"Tentu! Bapakmu tentu sangat menyayangimu," bisik Ibu seraya membetulkan letak selimut yang tersingkap, yang membuat tanda lahir berupa bulatan kecil hitam pada betis kaki kanan saya jelas terlihat.

Mendengar penegasan Ibu, saya merasa lega. Saya lantas memutuskan untuk segera tidur agar bisa bermimpi bertemu dengan Bapak, laki-laki yang mengukir jiwa raga saya, yang sama sekali tidak pernah saya kenal sosok maupun raut wajahnya.

***

Nama saya Sukati. Saya bukan lagi gadis kecil. Saya mulai tumbuh dan berkembang seperti bunga sepatu yang ditanam Ibu di halaman rumah. Fisik saya sudah mengalami banyak perubahan. Dada saya tidak lagi rata. Pinggul saya mulai membentuk lekukan yang membuat celana pendek jahitan tangan Ibu terasa lebih sesak dari biasanya.

"Sukati sudah besar, ya. Cantik seperti masa muda Sukesi." Seorang tetangga, ibu-ibu, memuji ketika kami berpapasan.

"Kurasa tidak! Sukati jauh lebih cantik dari Sukesi." Seorang ibu yang lain menimpali.

"Semoga nasibnya tidak seburuk Sukesi yang ...."

Saya memilih bergegas masuk rumah. Sungguh. Saya tidak ingin mendengar kelanjutan gunjingan mengenai Ibu.

***
Oh, ya. Nama saya Sukesi. Saya anak tunggal yang tinggal berdua saja bersama Ayah. Ibu saya sudah lama meninggal karena sakit.

Tujuh belas tahun lalu saya melahirkan bayi perempuan yang cantik dibantu oleh bidan setempat, tepat pada saat bulan purnama sedang bersinar penuh.

Meski awalnya Ayah marah besar ketika mengetahui anak gadisnya melahirkan bayi tanpa suami, toh, akhirnya hati Ayah luluh juga. Bahkan Ayah-lah orang pertama yang menggendong dan mengazani bayi mungil saya. Lalu memberinya nama Sukati.

Ketika Sukati berusia dua puluh satu hari Ayah terjatuh di kamar mandi. Terjadi pendarahan serius di kepalanya. Sempat saya larikan ke rumah sakit namun di tengah perjalanan Ayah mengembuskan napas terakhir.

Ayah tutup usia sebelum saya sempat berterus terang kepadanya siapa lelaki yang telah menghamili saya hingga membuat Sukati lahir.

Nama saya Sukesi. Saya tahu orang-orang sibuk menggunjingkan diri saya serta berpikir hal-hal buruk mengenai kehidupan saya. Tapi saya tidak peduli!

Waktu terus bergerak. Seperti air sungai yang meluncur turun dari punggung gunung menuju lereng lembah. Begitu juga dengan anak perempuan saya, Sukati. Ia telah tumbuh menjadi gadis jelita tiada tara. Kiranya purnama benar-benar telah manjing ke raganya.

Ini memasuki tahun ke tujuh belas saya membesarkan Sukati. Sudah saatnya saya berterus terang kepadanya perihal rahasia yang selama ini tersimpan rapi di kotak pandora kehidupan saya.

Ya, saya harus memberi tahu siapa sesungguhnya Bapak kandung Sukati.

Maka ketika malam bulan purnama sedang ndadari, saya bangunkan tidur lelap Sukati. Saya bimbing tangannya menuju halaman samping rumah, di mana saya menanam bunga sepatu tepat di bawah Pohon Beringin yang tumbuh rindang.

"Ibu ingin memberi tahu sesuatu padamu, Nduk. Duduklah di sampingku." Saya mulai membakar dupa di tangan kiri. Aroma nyegrak membuat Sukati terbatuk-batuk.

"Ibu, bolehkah aku menyampaikan sesuatu terlebih dulu?" Sukati menyela ragu.

"Katakan." Saya mengangguk pelan.

"Bu, aku --- hamil."

Sontak saya melempar dupa yang masih menyala, tepat ke wajah sosok hitam berbulu lebat yang berdiri gagah tak jauh dari rerimbun Pohon Beringin. Bibir saya menyumpah serapah.

Di langit, purnama mendadak menyala redup.

***

Malang, 21 Juni 2020

Lilik Fatimah Azzahra

*Cerpen ini pernah diposting di Risalah Misteri

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun