Meski ada juga yang menyayangkan keputusan Bapakmu ini. Salah satunya si Kasim, tetangga sebelah rumah.
"Oalah, Kang Mus. Sudah enak-enak jadi tukang becak kok berhenti? Lantas mau dapat uang dari mana  sampean  nanti?"
"Jangan menghinaku, ya, Sim. Kamu tahu? Anak lanangku satu-satunya--si Arif yang ngganteng itu, dia sudah menjadi guru. Dan ia kerap mengirimiku uang."
"Halah, Kang. Berapa sih gaji guru? Paling juga masih lebih besar upah sampean  menarik becak."
"Jaga mulutmu, Sim. Guru zaman sekarang beda jauh dengan guru zaman dulu. Hidup mereka lebih terjamin."
"Ora  percoyo, Kang!"
"Ora  percoyo  yo  wis!"
Ya, sudah, Le. Biarkan saja si Kasim tidak mempercayai kata-kata Bapak. Toh tekad Bapak sudah bulat. Tetap ingin mengambil pensiun dari pekerjaan  mbecak.
Hari pertama tidak menarik becak, sungguh sangat menyenangkan, Le. Bapak bisa bangun molor. Nelat mandi. Berlama-lama duduk di  amben  seraya  rengeng-rengeng menikmati kopi buatan Ibumu.
Jangan khawatir. Bapak masih memiliki sedikit tabungan. Bapak serahkan tabungan itu kepada Ibumu. Dan aku yakin Ibumu bisa mengatur keuangan dengan sebaik-baiknya selayak Menteri Keuangan.
Tapi, Le. Baru juga menjalani masa pensiun tiga hari, seorang pamong desa datang menemuiku. Pamong desa ini berpakaian necis. Rapi dan wangi.