***
Anjani berlari-lari kecil menuruni lereng bukit. Di tangannya tergenggam benda cantik pemberian sang Ibu. Sejak tadi gadis itu merasa penasaran ingin melihat isi Cupu Manik itu. Tapi ia harus mencari tempat tersembunyi agar tidak terlihat oleh kedua adik kembarnya, Guwarsa dan Guwarsi.
Baru saja hendak membuka tutup cupu, dua tepukan pada pundaknya membuatnya terkejut dan menoleh. Guwarsa dan Guwarsi!
"Hayooo, benda apa itu?" kedua adik kembar menghadangnya. Anjani berusaha menyembunyikan cupu itu di balik kembennya, seperti yang dilakukan oleh Ibunya. Tapi Guwarsa dan Guwarsi mendadak menarik kedua tangannya.
"Hei, lepaskan!" Anjani berteriak panik. Cupu Manik di tangannya pun terjatuh. Benda antik itu menggelinding tak jauh dari kaki kedua perjaka kembar itu.
Terjadilah keributan. Anjani menjatuhkan diri berusaha meraih cupu itu. Demikian juga Guwarsa dan Guwarsi. Keduanya bergulingan berupaya mendapatkan benda berukir yang tergeletak di atas rumput dalam posisi miring.
Ketiga kakak beradik itu nyaris menyentuh ujung cupu ketika tiba-tiba terdengar suara berdehem. Suara berat dan berwibawa. Seketika keributan terhenti.
Resi Gotama berdiri menatap tajam ketiga putra-putrinya.
"Apa yang kalian perebutkan sehingga bersikap seperti anak kecil?" Resi Gotama mengernyit alis. Anjani serta merta meraih Cupu Manik di hadapannya. Lalu menyodorkan benda itu ke hadapan Ayahandanya.
"Dari mana kau dapatkan cupu ini, Anjani?"
"Dari Ibunda, Ayah...."