Seseorang bisa menjadi rasis karena dipengaruhi oleh pola pembentukan karakter sejak ia lahir, norma sosial di masyarakat dan sistem politik, ekonomi dan budaya sebuah negara yang cenderung rasis. Namun demikian, negara memiliki pengaruh besar untuk melanggengkan atau sebaliknya menghapus rasisme
Akibatnya sangat fatal. Trauma rasial dapat diakibatkan oleh pengalaman utama rasisme seperti diskriminasi di tempat kerja atau kejahatan rasial, atau bisa juga merupakan hasil dari akumulasi banyak kejadian kecil, seperti diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari dan agresi mikro.
Trauma ras dapat terjadi akibat pelecehan ras, menyaksikan kekerasan rasial, atau mengalami rasisme institusional (Bryant-Davis, & Ocampo, 2006; Comas-Daz, 2016)
Contoh kasus dalam kondisi kekinian:
1. Diskriminasi di tempat kerja: Rekan kerja mengungkapkan ancaman yang bermotivasi rasial atau melakukan serangan fisik terhadap individu yang menjadi target di tempat kerja.
2. Kekerasan masyarakat: Korban menyaksikan kekerasan geng atau takut akan nyawanya / keselamatan pribadi atau anggota keluarga.
3. Pengalaman medis: Korban memiliki ketakutan yang terus-menerus terhadap kehidupan orang yang dicintai / diri sendiri karena penganiayaan medis berdasarkan ras/etnis. Penahanan: Korban dianiaya secara fisik atau seksual saat di penjara berdasarkan ras/etnis.
Kondisinya tentu saja berbeda jika dalam analogi 10 orang yang sama tadi memiliki pandangan antirasis. Sementara orang ke sebelas sangat dengan sifat rasis yang membakar. Pasti tak ada pengaruhnya.
Dari sini dapat diungkapkan bahwa mayoritas menjadi salah satu faktor pendukung yang paling dominan.
Lantas setelah begitu kenyataannya, apa yang harus kita lakukan?
Pertama, merasa dominasi akan mampu mempengaruhi segalanya. Tidak begitu bisa disalahkan ketika dominasi yang dilakukan tidak merugikan orang lain dan menonjol ke permukaan. Berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah perlu didudukkan pada porsi yang tepat. Tentu saja.