Namun sayangnya, seperti novel-novel lain yang serupa, sebutlah The Kite Runner atau A Thousand Splendid Suns, novel ini juga menceritakan hanya sisi-sisi gelap serta sikap hipokrit (baca: munafik) sebagian budaya dan penduduk muslim Timur Tengah. Novel ini misalnya, seperti juga dua novel yang tadi disebut, menceritakan bahwa perselingkuhan dan perzinahan toh ternyata juga bisa terjadi di negara yang memberlakukan hukum Islam dalam pemerintahannya.
Ini mungkin sah-sah saja dan tidak akan dianggap berpihak pada budaya Barat yang diklaim superior jika saja juga dibarengi dengan penggambaran mengenai sisi-sisi positif budaya serta perilaku muslim di negara-negara Islam seperti halnya Iran dalam novel ini atau Afghanistan dalam dua novel lainnya tadi. Tapi absennya hal ini dalam novel-novel tersebut bisa menjadi pembenaran anggapan sementara kalangan yang menuduh bahwa novel-novel semacam ini adalah alat propaganda untuk menyudutkan Islam dan mengagungkan budaya Barat.
Bagaimanapun juga, jika kita bisa mengesampingkan segala macam prasangka serta mampu melihat dari sudut pandang yang netral dan jernih, novel ini tetap layak dibaca karena mengingatkan kita untuk mengakui kelemahan-kelemahan dan sifat-sifat manusiawi kita. Selamat membaca!
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H