Bukan tanpa alasan, anak broken home menjadi lebih posesif karena mereka haus akan kasih sayang yang tidak didapat dari orangtuanya.
Mereka akan merasa ketakutan jika teman atau orang yang ia cintai akan pergi meninggalkannya, sama seperti orangtuanya yang berpisah dan membuat kecewa.
4.Takut dibohongi
Melanjutkan pernyataan sebelumnya yakni sulit memercayai orang lain, anak broken home juga memiliki ketakutan berlebih akan dibohongi oleh orang sekitarnya.
Hal ini karena anak yang broken home selalu melihat bagaimana orangtua membohonginya untuk menutupi semua permasalahan yang membuat anak berakhir kecewa.
5.Selalu menyembunyikan perasaannya
Tidak seperti anak pada umumnya, anak broken home lebih banyak memendam perasaannya agar orang lain tidak mengetahui perasaan mereka yang sebenarnya.
Ketika orang lain dapat dengan mudah berbagi cerita untuk meringankan sedikit pikiran mereka, justru anak broken home akan menutupi semuanya agar orang lain tidak melihat kesedihan yang sedang mereka rasakan.
6.Tidak punya identitas diri yang kuat
Anak broken home umumnya akan membandingkan hidupnya dengan teman sebayanya yang jauh lebih beruntung dan bahagia. Hal inilah yang membuat seorang anak broken home tidak memilki identitas diri yang kuat.
Sehingga mereka akan lebih mudah merasa depresi dan frustasi dalam menjalani hidupnya. Sebab menurut mereka, kehidupan mereka tidak bisa sebahagia temannya yang memiliki keluarga harmonis dan saling melengkapi.