Mengapa harus airin lagi ya, kiranya aku sudah mulai melupakannya, namun kenapa harus muncul surat ini, aku jadi tidak mengerti, pada saat aku pengin bertemu, rasanya susah sekali, pada saat aku sudah dapat melupakan, justru ia pengin ketemu, namun ada yang lebih menarik lagi siapa yang menyuruhnya untuk memperhatikanku itu, demikian besar perhatian Airin pada salah satu temanku itu.
Sulit kiranya menjawab segera, sebab hari dimana airin menentukan waktu. Bersamaan dengan acara diskusi panel, Rudi telah menunjukku sebagai pembicara tunggal.
Bagaimana ini? Semua permasalahan itu mengharuskan aku hadir. Airin sendiri termasuk orang yang sibuk tentu memilih hari sudah diperhitungkan masak-masak, sementara dalam diskusi pnel itu sudah direncanakan juga harinya.
Problem baru itu membuat pusing tuju keliling. Dipikir-pikir semakin membuat susah untuk mengambi keputusan. Bagaimanapun juga harus dapat kujawab permasalahan tersebut.Â
Aku harus kerumah Airin terlebih dahulu dan aku segera menyerahkan naskah kepada Rudi dan bilang kalau agak terlambat karena baru ada urusan yang tidak bias ditunda. Yah.. hanya itu yang bias aku sampaikan pada Rudi, semoga ia mau mengerti.
***
Sebenarnya aku sudah berusaha untuk datang ketempat dimana Airin menentukan, namun aku tidak menjumpai Airin disana, ia titip pesan pada seseorang, dlam secarik kertas ditulisnya kalau aku tidak tepat waktu dan ia masih memberikan waktunya pada hari yang sama namun jamnya setelah seiblan malam.
Hal yang tidak aku duga, ternyata Airin dating juga dalam diskusi panel di kampusku, ini cukup melegakan dan waktu yang berjalan perlahan namun pasti, diskusi berakhir. Ketika aku meminta Airin untuk tidak pulang terlebih dahulu ia menganggukkan kepala.
Setelah selesai diskusi panel memang masih terlihat beberapa mahasiswa yang menanyakan beberapa hal padaku namun akhirnya satu persatu meninggalkan balairung.
Airin duduk disebelahku, aku berusaha untuk menanyakan sebenarnya apa yang terjadi. Airin mengungkapkan tentang Tantri, dimana ada unsusr keterpaksaan nikahnya Tantri, "kamu akan pangling bila bertemu dengan Tanrtri.?" Begitu kata Airin setelah mengakhiri ceritanya.
"Mosok, apakah begitu banyak perubahannya?" Jawabku, Airin pun segera bercerita lagi tentang Tantri yang menurutnya ia bertubuh kurus, banyak mengeluh, dan menyesal telah mengambil keputusan untuk menikah.