Cara pengobatan 'cuci otak' terhadap pasien stroke yang dilakukan kepala RSPAD Jakarta Mayjen TNI dr Terawan Agus Putranto mengingatkan penulis kepada dua dokter yang mengobati pasien kanker dengan singkong racun. Dikhawatirkan, pengobatan 'cuci otak' akan bernasib sama dengan pengobatan kanker menggunakan singkong racun?
Jika cara pengobatan dr. Terawan kini 'heboh', yang kemudian disusul pro dan kontra di masyarakat atas cara pengobatannya itu, kemudian disusul pernyataan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan surat pemecatan atas dirinya, mengesankan adanya suatu persaingan tak sehat di internal organisasi kedokteran itu.
Sebab, awalnya dr Terawan Agus Putranto, ramai diberitakan sudah dipecat dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Namun, belakangan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) PB IDI dinyatakan pemecatannya ditunda sampai mengambil keputusan yang dinilai adil bagi seluruh pihak.
PB IDI sepakat menunda pelaksanaan putusan MKEK. Selain itu, disepakati untuk merekomendasikan penilaian terhadap terapi cuci otak Terawan kepada tim Health Technology Assesement Kementerian Kesehatan.
Penulis tak ingin membahas kasus dr. Terawan lebih jauh seperti yang ramai dibicarakan hingga kini. Tetapi ingin sedikit mengangkat cara pengobatan dr. Todotua Simanjuntak dan dr, Gunawan yang pada tahun 1980-an dinilai oleh masyarakat, termasuk juga anggota keluarga penulis berhasil memberikan kesembuhan terhadap para pasiennya.
Kedua dokter tersebut - dr. Todotua Simanjuntak dan dr, Gunawan - mengembangkan pengobatan pasien penderita kanker dengan memanfaatkan singkong racun.
Penulis khawatir, keberhasilan dr. Terawan mengobati pasiennya yang kemudian belakangan ini dipermasalahan MKEK PB IDI itu akan memberengus sistem pengobatan yang sudah menunjukan hasil. Ujungnya, akan berakhir sama dengan nasib sistem pengobatan kanker dengan menggunakan singkong racun yang sekarang memang sudah tidak terdengar lagi.
Jika saja cara pengobatan kanker dengan memberi singkong racun untuk dikonsumsi pasiennya terjadi pada zaman 'now', maka publik akan ramai membahasnya. Mungkin sebagian orang, yang pernah mencoba cara penyembuhan kanker oleh dua dokter itu masih ingat. Para pasien kanker dianjurkan mengonsumsi singkong racun sesuai petunjuknya.
**
Sekedar membagi pengalaman. Todotua Simanjuntak seingat penulis membuka praktek di Jakarta. Tepatnya, pegawai Departemen Kesehataan pada tahun 1980-an, membuka praktek di kawasan Jalan Minangkabau.
Sedangkan Gunawan, penulis tidak tahu membuka praktek di kawasan mana. Tetapi, penulis pernah mendengar ia bekerja di RS Paru di kawasan Puncak, Jawa Barat.
Di RS Paru, banyak diproduksi singkong racun dalam bentuk kapsul. Banyak warga Jakarta mendatangi rumah sakit paru tersebut bukan untuk berobat penyakit paru, tetapi mencari anggota Satpam setempat yang menjual kapsul singkong racun.
Kadang, petugas keamanan di situ juga menjual pohon singkong racun untuk ditanam di halaman rumah para pembelinya.
Penulis tak tahu apakah kapsul singkong racun untuk mengobati penyakit kanker itu masih berlangsung hingga kini?
**
Tatkala berkunjung ke ruang praktek dr. Todotua Simanjuntak mengantar salah seorang anggota keluarga, penulis menyaksikan tumpukan singkong racun yang baru dicabut berhamparan di lantai ruang praktek.
Seusai memeriksa pasien dan beberapa bagian benjolan, lalu pasien diwawancarai. Sebelum beranjak meninggalkan ruang praktek, pasien diberi petunjuk cara mengonsumsi singkong racun. Caranya, seingat penulis, singkong tidak dikupas. Tetapi dikerik hingga kulit yang kotor hingga hilang. Yang diambil pun tidak banyak, sekitar satu ruas jari kelingking.
Bisa jadi, satu buah singkong baru habis dikonsumsi dalam satu bulan. Sebab, yang diambil secuil-secuil.
Nah, singkong racun satu ruas jari kelingking itu kemudian diparut. Setelah diparut, bukan diperas. Tetapi dibuat seperti bakso bulat. Singkong parutan dalam bentuk bulat itulah yang kemudian dikonsumsi. Diminum dengan air putih.
Mengonsumsi singkong racun itu dilakukan sebelum tidur (malam) dan setelah bangun tidur (pagi hari).
Agar kesembuhan penyakit kanker itu cepat membuahkan hasil, penulis mendapat nasihat agar ramuannya ditambah. Yaitu, memeras daun kayu putih dengan cara ditumbuk ditambahkan sedikit kayu manis. Lalu, air daun kayu putih yang diperas sekitar satu sendok makan diminum bersama singkong racun tadi.
Penulis bukan ahli herbal atau pun memahami kandungan apa saja yang ada dalam singkong racun, kayu manis dan daun kayu putih. Tetapi hanya ingin menyampaikan bahwa sistem pengobatan yang dilakukan dua dokter itu menghadapi tantangan, tidak boleh dipopulerkan saat itu. Apa pasalnya, menurut Todotua Simanjuntak, karena para dokter akhli bedah tidak ingin mendapat saingan.
Hal itu menyangkut 'pasar'. Jangan sampai segmen pasar akhli bedah tersaingi. Itu saja.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI