Rizal Ramli tidak sedang berteori. Pasalnya, dia sendiri pernah melakukan, dan mendulang sukses besar. Pada 2000an, ketika menjabat Menko Perekonomian, pria yang terbukti tetap kritis kendati berada di dalam lingkaran kekuasaan ini pernah menyelamatkan PLN yang secara teknis sudah bangkrut. Saat itu modalnya minus Rp 9,1 triliun. Sementara itu, aset BUMN produsen setrum itu cuma Rp52 triliun.
“Direksi PLN datang ke kantor saya. Mereka minta suntikan modal Rp26,9 trilliun. Tentu saja saya tolak. Saya minta mereka merevaluasi aset. Hasilnya, aset PLN meningkat menjadi Rp202 triliun lebih. Selisih dari hasil revaluasi aset dimasukkan ke modal, sehingga naik menjadi Rp119,4 triliun. PLN jadi sehat kembali. Sedangkan kewajiban perpajakan selisih aset setelah revaluasi dibagi dalam tujuh tahun. Dampaknya luar biasa. Kemampuan PLN dalam menarik kredit naik, sehingga meningkatkan operasi PLN dan menggerakkan ekonomi nasional,” kata Rizal Ramli di sela konferensi pers peluncuran Paket Kebijakan Ekonomi Tahap V di Istana Negara, Jakarta, Kamis (22/10).
Paket kebijakan ekonomi tahap V ini memang benar-benar gurih. Buktinya, PTPLN (Persero) buru-buru akan menubruk, khususnya terkait insentif pajak untuk revaluasi aset. Saat ini, aset PLN sekitar Rp600 triliun. Paska revaluasi, nilainya bisa melonjak jadi Rp800an triliun.
“Saya berharap insentif pajak yang didapat dari revaluasi aset ini bisa menjadi tambahan modal bagi PLN dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN). Pajaknya kami akan ajukan menjadi PMN," ujar Sofyan Basyir, Dirut PLN.
BUMN lain yang juga bersemangat adalah Bank Mandiri. Bank hasil merger empat bank pelat merah itu sudah memastikan ikut program revaluasi aset. Memang ada konsekwensi akibat naiknya nilai aset, yaitu naik pula iuran/premi ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Asal tahu saja, mulai tahun ini industri keuangan harus membayar penuh (full) iuran tahunan dengan tarif sebesar 0,045% dari total aset. Itu artinya, berdasarkan data laporan keuangan Juni 2015, Bank Mandiri harus menambah iuran OJK sekitar Rp20 miliar menjadi Rp430 lebih usai merevaluasi asetnya.
Nilai aset naik berkali-kali lipat
Revaluasi aset memang pasti menaikkan nilainya. Aset berupa tanah, misalnya. Di neraca perusahaan, nilai tanah biasanya tetap sebesar harga saat dibeli. Padahal kenyataannya harga tanah naik gila-gilaan. Sama juga untuk gedung, dalam kenyataannya nilai ekonomis suatu gedung, apalagi yang berlokasi strategis dan secara fisik masih kokoh, makin lama makin mahal. Makanya objek utama yang perlu direvaluasi biasanya tanah dan gedung atau bangunan lainnya. Itulah yang menjelaskan mengapa Sofyan berani menaksir bakal memperoleh tambahan nilai sekitar Rp200 triliun.
Masih bicara soal tanah, bisa dibayangkan berapa kenaikan lahan milik PT Jasa Marga (Persero) dan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Tanah-tanah kedua BUMN itu ada yang diperoleh sejak 40-50 tahun lalu. Tentu harganya kini sudah naik belasan bahkan puluhan kali lipat.
Seperti dikatakan Rizal Ramli, relaksasi perpajakan terkait revaluasi aset ini bakal memacu pertumbuhan ekonomi. Paling tidak, pada tahap awal akan ada banyak profesi yang ketiban rejeki. Yang sudah pasti para appraisal alias penilai aset. Lalu, akuntan publik, notaris, dan konsultan pajak juga dipastikan ikut kecipratan rejeki.
Promosi gratis plus plus
Dengan menggelembungnya aset dan melonjaknya modal, perusahaan punya leverage untuk mengail dana segar. Di sini sejumlah provesi lain juga ikut menikmati. Mereka di antaranya para underwriter, manajer investasi, bahkan Public Relations dalam upayanya menikkan citra positif perusahaan.