Mohon tunggu...
editan to
editan to Mohon Tunggu... Wiraswasta - Mengelola Usaha Percetakan

memperluas cakrawala

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Tiongkok dan Rusia Belum Akui Kemenangan Biden

9 November 2020   19:56 Diperbarui: 9 November 2020   23:41 185
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

PENGAKUAN Negara-negara dunia menjadi kunci eksistensi presiden terpilih Amerika Serikat Joe Biden. Namun, sejak perayaan kemenangan Biden dengan 290 suara elektoral masih terdapat beberapa negara yang belum memberikan ucapan selamat atas kemenangannya sebagai Presiden ke-46.

Sekutu utama Donald Trump  yaitu Arab Saudi  tampak masih ragu-ragu  memberikan ucapan selamat kepada pemenang dari Partai Demokrat tersebut. Kerajaan Saudi terbilang negara terakhir di semenanjung Teluk yang memberi selamat.

Iran yang menyatakan gembira atas kekalahan Trump tetap akan menunggu langkah dan kebijakan Biden terutama menyangkut kesepakatan nuklir yang dicabut Trump 2016. Kesemrawutan Pilpres di As yang menerapkan sistem demokrasi itu menuai cemooh dari pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Ali Khamenei mengatakan itu adalah "contoh dari wajah buruk demokrasi liberal", yang telah menunjukkan degradasi politik sipil dan moral dari sebuah bangsa AS.

Sedangkan sekutu AS tetapi juga musuh Iran yaitu Israel telah mengirim ucapan selamat resmi kepada Biden tetapi tidak menyebutkan sebagai presiden terpilih. Negara terdekat AS di era Trump itu ingin diyakinkan kembali tentang tekanan AS terhadap Iran.

Israel juga menghendaki AS lebih berperan dalam upaya normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab. Pada rezim Trump, selain muncul pengakuan Yerusalem membuat Israel bisa menjalin hubungan secara formal dengan beberapa negara di teluk. Bahkan Trump menjanjikan Arab Saudi akan resmi berjabat mesra dengan Israel.

Tentu yang mengagetkan adalah sikap dari Kremlin, Rusia. Vladimir  Putin sebagai presiden  belum bersedia mengucapkan selamat kepada Biden. Putin beralasan menunggu pengumuman resmi mengenai kemenangan kandidat Demokrat.

Hal itu bertolak belakang dengan ucapan Putin pada 2016 yang langsung memberi ucapan kepada Trump. Penegasan untuk menunggu sebelum memberi ucapan apa pun disampaikan Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov.

"Anda dapat melihat bahwa ada prosedur hukum tertentu yang telah diumumkan oleh presiden saat ini. Itulah mengapa situasinya berbeda dan oleh karena itu kami pikir pantas untuk menunggu pengumuman resmi," kata Peskov, seperti dikuti Reuters.

Membisunya Moskow juga terkait masa pemerintahan Barack Obama dan Biden sebagai wapres. Pada 2014 Rusia menganeksasi Krimea dan Ukraina sehingga memicu hubungan yang paling buruk pasca Perang Dingin.

Kondisi diperparah dengan kekalahan Hillary Clinton melawan Trump. Saat itu Kremlin dituding melalukan persekongkolan guna memuluskan kemenangan Trump. Meski dibantah.

Selain Rusia, sikap dingin juga disampaikan Pemerintah Tiongkok. Meski Trump melakukan perang dagang dengan Tiongkok, hingga tuduhan Tiongkok merekayasa virus Corona sehingga menjadi pandemi global, sikap Beijing bergeming tidak seketika menyambut hangat Biden.

Seperti halnya Putin yang tidak tergesa-gesa memberikan ucapan selamat, presiden Tiongkok Xi Jinping  melalui Kementerian Luar Negeri hanya berucap pendek. "Pemahaman kami bahwa hasil pemilihan ditentukan dengan hukum dan prosedur AS," kata Wang Wenbin, sang Menlu.

Ini berbeda dengan sikap  Xi Jinping yang memberikan ucapan hanya sehari setelah pemilihan yang dimenangkan Trump pada 9 November 2016. Meskipun kemudian Trump terlalu cerewet dengan urusan Taiwan hingga Hongkong, termasuk Laut China Selatan, hingga perselisihan teknologi dan perdagangan.

Mengenai keengganan Beijing segera memberi ucapan selamat ini menurut tabloid yang diterbitkan Partai Komunis agar tidak terjerat kontroversi. "Tiongkok menghormati AS secara keseluruhan sehingga belum memberikan ucapan selamat seperti negara-negara Barat," kata editor Global Times Hu Xijin.

Dalam kampanye meski Biden menekankan pentingnya hubungan dengan Tiongkok bahkan menyarankan warganya belajar bahasa Mandarin tetap memandang keras Beijing terutama kepemimpinan Xi Jinping yang disebutkan melakukan kejahatan yaitu tindakan genosida.

Namun, secara nyata masyarakat Tiongkok memandang penting kemenangan Biden ini akan kembali menormalisasi hubungan yang selama kurang harmonis di bawah Trump. 

Kemenangan Biden ini disambut sukacita oleh sebagian besar warga Beijing. Mereka menyambut pidato Biden sebagai pernyataan yang sempurna. Bahkan toko mie yang pernah disinggahi Biden pada 2011 di Beijing, sejak kemenangan Biden dipadati pembeli  yang rela mengantri. Kisah perjalanan hidup Biden dimuat di banyak media lokal.

Masyarakat tampak jengah dengan kepemimpinan Trump yang dinilai membuat hubungan pada titik rendah antara Washington dan Beijing dalam beberapa dekade. Diharapkan dengan kemenangan Biden bisa menjembatani hubungan yang lebih baik dalam dialog termasuk pembahasan masalah perubahan iklim, pengendalian pandemi, dan perdagangan.

Di daratan Eropa, Biden disambut gembira. Ucapan selamat disampaikan baik PM Jerman Angela Merkel, di Perancis Emmanuel Macron, hingga Presiden Dewan Eropa Charles Michel. Mereka berharap hubungan kembali erat dan  tidak terjadi ketegangan seperti di masa Trump.

Mereka menyerukan agar bisa kembali dibangun kemitraan AS dan Eropa. Bisa diakhiri perang dagang. Terutama dalam mengatasi Covid-19 hingga bergabungnya AS dalam perjanjian iklim hingga kembali masuk WHO.

Namun, kemenangan Biden masih menemui jalan terjal karena penolakan Trump dan para pendukung. Kubu Trump berencana menggugat hasil perhitungan dan melakukan aksi massa demo dengan menggeruduk gedung parlemen.  Apalagi, belum ada pernyataan resmi yang menyebutkan kemenangan Biden.

"Sejak kapan media mainstream menetapkan siapa presiden kita selanjutnya? Kita telah belajar banyak dalam dua pekan terakhir!" Trump mencuit dalam akun @realDonaldTrump, Senin (9/11).

Trump tampaknya tidak hanya menggertak tetapi juga akan segera mengerahkan kuasa hukumnya untuk menggugat Pennyslvania dan beberapa negara bagian lain. Ia berharap terjadi gugatan besar-besaran.

Di saat-saat akhir, Trump ingin tetap memperjuangkan suara pemilihnya yang mencapai 70 juta tetapi yang ia klaim 74 juta. Ia belum meletakkan topinya yang bertuliskan 'Make America Great'.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun