Mohon tunggu...
Dzakwan Ariqah
Dzakwan Ariqah Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa Institut Teknologi Bandung

Sedang mengisi waktu luang dengan menulis

Selanjutnya

Tutup

Halo Lokal Pilihan

Lenggang di Bandara H.A.S Hanandjoeddin: Antara Ekonomi, Pariwisata dan Tambang

18 Januari 2025   00:01 Diperbarui: 17 Januari 2025   23:58 47
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar Bandara H.A.S. Hanandjoeddin di Tanjung Pandan Belitung. Sumber gambar: travel.kompas.com

Sebagai seorang putra daerah Belitung, pulang ke tanah kelahiran selalu menjadi momen yang penuh haru. Namun, pengalaman saya kembali ke pulau tercinta dari Jakarta kali ini diwarnai keheranan. Bandara H.A.S Hanandjoeddin, pintu gerbang utama Belitung, terasa sepi. Jumlah penerbangan terbatas, hanya segelintir maskapai yang melayani rute ini. Beberapa hari yang lalu, hanya ada tiga penerbangan di bandara yang sempat menjadi salah satu bandara Internasional di Indonesia itu. Bagi saya, apa yang saya alami ini adalah perkara yang bukan hanya fenomena transportasi, tetapi juga cerminan dari banyak persoalan yang menyentuh ekonomi, pariwisata, dan bahkan ancaman dari industri tambang yang marak di bumi laskar pelangi. 

Bandara yang Sunyi di Pulau yang Kaya

Ketika menginjakkan kaki di bandara yang lenggang, saya tak bisa berhenti berpikir. Bandara H.A.S Hanandjoeddin bukan fasilitas kecil. Dengan infrastruktur yang cukup memadai, bandara ini sejatinya mampu menampung lebih banyak penerbangan. Beberapa tahun yang lalu, bandara ini sempat menjadi kebanggan masyarakat Belitung dengan dijadikannya sebagai salah satu bandara Internasional. Namun, perlahan aktivitas di bandara ini tidak mencerminkan gelar yang melekat di nama bandara ini. Semakin hari, seiring berjalannya waktu aktivitasnya jauh dari keramaian. Wisatawan pasti menurun. Apakah potensi besar Belitung belum dimanfaatkan sepenuhnya?  

Pulau Belitung dikenal akan keindahan alamnya. Pantai-pantai seperti Tanjung Tinggi, Pulau Lengkuas, dan Danau Kaolin adalah bukti nyata bahwa pulau ini memiliki kekayaan alam yang sulit ditandingi. Namun, terbatasnya penerbangan dan aksesibilitas menjadi penghalang bagi wisatawan. Jika wisatawan sulit datang, bagaimana ekonomi pariwisata bisa bergerak?  

Ancaman dari Tambang yang Merusak. 

Namun, yang lebih mengganggu pikiran saya sepanjang penerbangan saat pesawat yang saya tumpangi hendak mendarat, alam seolah menjadi jawaban dari keherenan di tengah kelenggangan sudut-sudut bandara yang saya rasakan. Kenyataan yang harus diterima bahwa di balik keindahan Belitung, ada ancaman nyata yang mengintai: pertambangan timah. Belitung, sejak lama, dikenal sebagai salah satu penghasil timah terbesar di Indonesia. Tambang-tambang ini menjadi salah satu motor ekonomi daerah, tetapi dengan harga yang mahal bagi alam.  

Belitung dari pesawat. Sumber gambar: mongabay.co.id
Belitung dari pesawat. Sumber gambar: mongabay.co.id

Lubang-lubang tambang yang ditinggalkan begitu saja menjadi luka menganga di tanah Belitung. Hutan-hutan yang dulunya rimbun kini berubah menjadi kawasan gersang dan tandus. Sungai-sungai yang dulunya jernih perlahan menjadi keruh oleh limbah tambang. Bahkan, ekosistem laut pun tak luput dari dampak buruk, karena aktivitas tambang turut mencemari perairan sekitar.  

Saya adalah putra daerah yang tidak bisa menutup mata terhadap fakta ini. Saya sadar bahwa tambang bisa menjadi salah satu pekerjaan bagi banyak masyarakat di pulau kamu. Namun, saya juga sadar bahwa memang tambanh memberikan keuntungan ekonomi dalam jangka pendek, tetapi dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sangat merugikan. Jika dibiarkan, aktivitas tambang ini tidak hanya merusak alam tetapi juga menggerus potensi pariwisata yang seharusnya menjadi solusi berkelanjutan bagi ekonomi Belitung.  

Pulau Burung di Belitung. Sumber gambar: travel.indonesia
Pulau Burung di Belitung. Sumber gambar: travel.indonesia

Ironi terbesar adalah bagaimana tambang yang menggerogoti alam justru berjalan berdampingan dengan upaya pengembangan pariwisata. Pariwisata yang sukses membutuhkan alam yang lestari, tetapi pertambangan justru menjadi ancaman utama bagi kelestarian tersebut. Ini seperti dua kekuatan yang saling bertolak belakang tetapi sama-sama ingin menjadi poros ekonomi Belitung.  

Pemerintah daerah pasti menghadapi dilema besar. Di satu sisi, tambang memberikan kontribusi ekonomi yang instan, terutama dalam bentuk pendapatan daerah. Namun, di sisi lain, kerusakan lingkungan yang ditimbulkan menghambat pariwisata dan merugikan masyarakat lokal dalam jangka panjang.  

Meninjau fenomena tersebut sebagai putra daerah, saya merasa bahwa Belitung memerlukan langkah nyata untuk menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan. Aktivitas tambang harus diawasi dengan lebih ketat. Perusahaan tambang harus bertanggung jawab terhadap kerusakan yang mereka timbulkan, termasuk melakukan rehabilitasi lahan bekas tambang. Regulasi yang lebih tegas perlu diterapkan untuk memastikan bahwa tambang tidak menjadi ancaman permanen bagi keindahan alam Belitung.  

Di sisi lain, pariwisata harus menjadi prioritas utama. Potensi wisata Belitung sangat besar, tetapi aksesibilitas masih menjadi masalah. Pemerintah daerah perlu mendorong maskapai untuk menambah frekuensi penerbangan, bahkan jika itu berarti memberikan subsidi atau insentif khusus. Selain itu, promosi pariwisata juga harus dilakukan lebih agresif untuk menarik lebih banyak wisatawan.  

Akhirnya, keheranan saya di bandara H.A.S Hanandjoeddin waktu itu bukan hanya tentang penerbangan yang sedikit atau bandara yang sepi. Ini adalah refleksi dari tantangan besar yang dihadapi Belitung: bagaimana menjadikan ekonomi, pariwisata, dan lingkungan berjalan beriringan.  

Saya percaya, Belitung memiliki masa depan yang cerah. Namun, untuk mencapainya, semua pihak harus bekerja sama. Pemerintah, masyarakat lokal, dan pelaku usaha harus bersinergi untuk menciptakan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan.  

Bandara H.A.S Hanandjoeddin. Sumber foto: pos belitung
Bandara H.A.S Hanandjoeddin. Sumber foto: pos belitung

Tambang mungkin menawarkan keuntungan sesaat, tetapi keindahan alam Belitung adalah aset abadi yang harus kita jaga. Jika kita mampu melindungi alam ini, maka pariwisata akan tumbuh, ekonomi lokal akan bergerak, dan generasi mendatang akan mewarisi pulau yang tetap indah dan bermakna.  

Bagi saya, Belitung bukan hanya tempat kelahiran dan saya dibesarkan. Belitung adalah rumah yang harus dijaga, sebuah surga kecil yang tak boleh hilang oleh kerakusan manusia. Mari kita bergerak bersama, karena Belitung adalah tanggung jawab kita semua. 

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Halo Lokal Selengkapnya
Lihat Halo Lokal Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun