"Positif apa dok?" tanyaku dengan cemas.
"Positif tipes," jawab pak dokter.
"Jadi gimana, mau rawat inap apa rawat jalan?" lanjut pak dokter.
Belum sempat saya menjawab, ibuku langsung menyahut "Rawat inap saja dok."Â
Gubrakkk...sejatinya, ada dua hal yang saya pikirkan saat itu. Pertama, jarum suntik yang saya takuti sejak kecil, karena dirawat inap, otomatis saya harus diinfus. Tak terbayangkan sebelumnya bagaimana rasanya jarum infus itu akan menancap di tangan.
Dan hal kedua yang saya pikirkan adalah biaya rumah sakit. Maklum saja, rumah sakit tempat saya rawat inap adalah rumah sakit swasta, dengan pelayanan yang bagus, tentu biaya perawatannya juga mahal. Apalagi ini adalah pertama kalinya saya menggunakan JKN-KIS bahkan sampai dirawat inap dan tak punya pengalaman sebelumnya.
Proses Administrasi yang Mudah dan Cepat
Karena memilih rawat inap, saya mengurus registrasi lagi ke bagian pendaftaran untuk memilih kamar. Saya menggunakan kartu JKN-KIS dari kantor tempatku bekerja sebagai pegawai swasta, kalau dulu kartu itu bernama kartu Jamsostek. Pelayanan di rumah sakit ini sangat cepat dan profesional. Karyawannya pun ramah.Â
Meskipun rumah sakit swasta, tapi mereka tak membeda-bedakan antara pasien yang berobat dengan JKN-KIS dari BPJS Kesehatan ataupun umum. Ada pula karyawan yang khusus menangani bagian BPJS Kesehatan di rumah sakit tersebut. Sehingga prosesnya jadi lebih mudah.
Anggapan miring tentang pelayanan kurang memuaskan bagi pasien peserta JKN-KIS itu tak kurasakan, justru saya merasakan hal yang sebaliknya. Benar-benar pelayanan yang profesional baik dari rumah sakit maupun pemerintah melalui BPJS Kesehatan. Proses administrasi pun tak ribet, saya hanya menyerahkan lagi kartu JKN-KIS, KTP dan KK. Setelah itu tinggal duduk manis menunggu kamar.