Criteria voyeurism dalam DSM-IV-TR
a.     Berulang intens dan terjadi selama periode 6 bulan, fantasi, dorongan atau perilaku yang menimbulkan dorongan seksual yang berkaitan dengan tindakan mengintip orang lain yang sedang tanpa busana atau sedang melakukan hubungan seksual tanpa diketahui orang yang bersangkutan.
b.     Orang yang bersangkutan bertindak berdasarkan dorongan tersebut menyebabkan orang tersebut mengalami distress atau mengalami masalah interpersonal.
Perspektif Biopsikososiokultural Gangguan
-Sudut Pandang Biologis
Sebagian besar orang yang mengidap paraphilia dalam hal ini voyeurism adalah laki-laki, terdapat spekulasi bahwa endogren, hormone utama pada laki-laki, berperan dalam gangguan ini. Karena janin manusia pada awalnya terbentuk sebagai perempuan dan kelakian yang ditimbulkan oleh pengaruh hormonal terkemudian, mungkin pula dapat terjadi suatu kesalahan dalam perkembangann janin. Meskipun demikian, temuan mengenai perbedaan hormonal antara orang normal dan orang yang menngidap paraphilia tidak meyakinkan. Berkaitan dengan perbedaan otak, suatu disfungsi pada lobus temporalis dapat memiliki relevansi dengan sejumlah kecil kasus sadism dan ekshobisionisme (mason, Murphy 1997). Jika ternyata factor biologi berperan penting, kemungkinan besar hal ini hanya merupakan salah satu factor dari rangkaian penyebab yang kompleks yang menyangkut penglaman sebagai salah satu factor utama jika bukan satu-satunya factor utama (meyer 1995).
-Sudut Pandang Psikososial
·        Perspektif Psikodinamik
Paraphilia dipandang oleh para teoritikus sebagai sebagai tindakan defensive, melindungi ego agar tidak mengahdapi rasa takut dan memori yang direfres dan mencerminkan fiksasi di tahap pregenital dalam perkembangan psikoseksual. Orang yang menghidap parafilia dipandang sebagai orang yang merasa takut terhadap hubungan heteroseksual yang wajar, bahkan terhadap hubungan heteroseksual yang tidak melibatkan seks. Perkembangan social dan sesksualnya (umumnya laki-laki) tidak matang, tidak berkembang, dan tidak memadai untuk dapat menjalani hubungan social dan heterokseksual orang dewasa umumnya (Lanyon, 1986).
Voyuerisme memilih untuk memata-matai perempuan yang menyadarinya daripada melakukan kontak langsung dengan perempuan, jika perempuan yang diiintip oleh voyeur menyadari tindakan voyeur , ia bisa saja menyimpulkan bahwa perepuan tersebut tertarik padanya ; karena rasa tidak amannya sebagai laki-laki dan sebagai kekasi, hal itu sangat menakutkan baginya sehingga kurang menimbullkan gairah seksual. Maka mungkin seorang laki-laki terlibat dalam voyeurism bukan karena resiko tertangkap basah yang membuatnya tergelitik, namun lebih karena tindakan mengintip tanpa diketahui orang lain, karena hal itu melindungi voyeur dari kemungkinan terjalinnya hubungan dengan seorang perempuan dan mungkin merupakan cara berhubungan yang kurang menakutkan baginya.
·        Perspektif Behavioristik