Mohon tunggu...
Ign Joko Dwiatmoko
Ign Joko Dwiatmoko Mohon Tunggu... Guru - Yakini Saja Apa Kata Hatimu

Jagad kata

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Menyesap Bacaan Mingguan Menabung Amunisi Tulisan

20 Januari 2019   16:36 Diperbarui: 20 Januari 2019   17:55 186
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Koran- koran minggu Memberi Daya imajinasi terutama kolom sastra dan budaya (sumber gambar:imagenesmy.com)

Sudah menjadi kebiasaan, saya selalu menyediakan dana untuk membeli koran Mingguan. Hari Sabtu Koran Tempo dan Kompas. Hari Minggu Kompas, Media Indonesia dan Jawa Pos. Koran- koran itu mencuci otak saya setelah lelah membaca berita- berita gaduh di media sosial. Apalagi komentar netizen yang "kedapatan" receh tentang Pilpres.

Bukan berarti menyepelekan informasi media sosial, tetapi penting karena menambah wawasan,  membaca koran pada saat senggang dan pas libur itu seperti sudah adictif. Beli koran segambreng tapi yang dibaca hanya kolom- kolom tertentu, tentang gaya hidup, tentang cerpen, kolom para pendekar kata.

Membaca Kolom dan Rekreasi Kata

Asyik betul-betul asyik misalnya minggu ini membaca tulisan Jean Couteau di Udar Rasa Kompas "Langkah Saru Negeri Jiran".  Pada Media Indonesia saya membaca  Pigura dengan Ono Sarwono Sebagai penulis tetapnya yang mengulas peristiwa mingguan dengan cerita wayangnya Posko di Kamyaka atau bacaan nyamleng juga dari kolom Sujiwo Tejo berjudul debat, debet, debut, debit di kolom #talijiwo.

Pada koran Minggu saya seperti kesurupan membeli di loper koran langganan. Koran sebanyak itu bisa dibaca semuanya? Tidak juga. Hanya sekilas- sekilas saja. Kalau beritanya harian saya lirik saja tetapi bila menyangkut sastra dan budaya, sepertinya harus membacanya sampai tuntas. Apalagi cerpen- cerpen karya Seno Gumira Ajidarma. Bacaan itu semacam jimat, kata kunci untuk bisa mengembangkan hobi menulis.

Koran Mingguan Terutama tetang gaya hidup, Cerpen Kolom Budaya menarik dibaca kala libur (dokumen pribadi)
Koran Mingguan Terutama tetang gaya hidup, Cerpen Kolom Budaya menarik dibaca kala libur (dokumen pribadi)
Ide dan Gagasan itu Mahal Harganya

Apakah membeli koran itu investasi atau hanya buang- buang uang. Kalau sudah hobi harus diusahakan ada budget untuk membeli. Lalu apakah dengan membaca menjadi semakin pintar dan gampang menulis  sastra , cerpen, puisi dan artikel budaya lainnya. Tidak juga. Tapi apa salahnya membaca. Sampai saat ini masih susah menembus cerpen koran, tapi apakah putus asa dan ngambeg membeli koran? Tidak. Yang sebel mungkin istri seharian baca koran kapan jalan- jalannya hahaha...

Kebiasaan membeli koran minggu sudah berlangsung berapa lama sih. Yang aku ingat sejak hijrah ke Jakarta sekitar 2001, ketika masih numpang di rumah saudara, lalu pindah ke kost- kost- an, beberapa kali pindah tetap saja yang dibawa bungkus kardus berisi koleksi buku dan potongan kliping koran. Wuaduhh seperti intelek saja pindah- pindah yang dibawa buku dan kliping koran. Itu semua dibaca? Dulu, tapi ketika kangen pengin membaca saya suka membuka lembarannya kok. Hehehe.

Membaca, sebuah Hobi Yang Menyenangkankah?

Tidak semua orang hobi membaca. Kalau buka- buka status di facebook, IG, Twitter jutaan tapi komunitas membaca apakah sebanyak pengguna media sosial?Saya pikir tidak. Kebiasaan membaca itu memang tidak bisa dipaksa. Kadang sebuah kebetulan, kadang kecelakaan, kadang tidak disengaja. Ada momentumnya. Entah karena kebiasaan lingkungan keluarga yang hobi membaca, atau karena sebuah tuntuan pembelajaran yang akhirnya menuntut seseorang harus senang membaca.

Bagi orang yang kerjaannya menulis dalam artian menjadi pengarang, penyair, wartawan/jurnalis, blogger otomatis adalah orang- orang yang mengharuskan membaca sebagai hobinya atau tuntutan hidupnya. Bagaimana seorang penulis mau menulis jika tidak mempunyai ide, tidak mempunyai perbendaharaan kata, tidak mempunyai cadangan cerita. Dengan hanya melihat sebuah kejadian langsung tentu susah menggambarkan sebuah kejadian bisa spontan ditulis.

Makanya seorang penulis tidak pernah berhitung bila ingin menambah referensi bacaan. Demi sebuah ide, gagasan dan kekayaan kosa kata ia harus merogoh kocek dalam dalam untuk mencari bacaan yang cocok dengan gagasannya dalam menulis.

Seorang penulis tentu merasa gagah bila bisa memetik kata- kata mutiara dari pengarang idola, atau penulis legendaris yang terkenal. Dengan cuplikan memakai bahasa asing, atau terjemahan rasanya menambah bobot sebuah tulisan.

Penulis yang Baik adalah Seorang Pembaca Setia

Saya sumpah, Mas Mim Yudiarto, Khrisna Pabichara. Adalah pelahap bacaan sastra. Timur Suprabama, Rustian Anshori, Wiwien Wintarto, Sri Wintala Ahmad Bambang Trim, Giri Lumakto. Irwan Rinaldi Sikumbang adalah pelahap buku. Kalau tidak bagimana ia bisa menulis puisi, buku dengan cadangan, gagasan ide yang banyak.

Bacaan mingguan yang ditampilkan di hari minggu tentu sudah dipertimbangkan redaksi sebagai bacaan hiburan. Tidak berat tetapi memberi nafas baru untuk dibawa ke rutinitas hari selanjutnya. Membaca cerpen dapat melatih imajinasi, memungut ide receh yang bisa jadi menjadi gagasan besar. Dengan membaca gaya hidup, traveling, Urban Culture, sport akan membuat ide bisnis, ide melakukan perjalanan terbuka. Dengan waktu luang cukup banyak, banyak artikel bisa disesap dan menjadi  cadangan ide yang sewaktu- waktu muncul.

Setelah membaca cerpen rasanya banyak gagasan imajiner muncul dan ingin rasanya  menulis sekelas penulis koran walaupun pada kenyataaanya untuk menembusnya susah sekali. Apalagi koran nasional. Kini katanya koran- koran mulai terengah- engah oleh agresifnya media online.

Bacaan apa saja, tips- tips apa saja sudah ada di internet, ngapain harus membaca koran lagi? Apakah ada yang  berpikir begitu? Kalau saya  bacaan koran masih menjadi acuan pengetahuan. Karena jurnalisnya tentu tidak bisa menulis secara sembarangan, harus memakai data yang jelas dan repotnya lagi masih melalui proses rapat redaksi tentunya bukan sekedar berita ecek- ecek.  Kalau menampilkan berita ecek- ecek tentu hanya mempermudah jurnalis untuk "bunuh diri". Maka meskipun jurnalisme koran tergagap- gagap dan kehilangan energi dan dana ia harus tetap menegakkan kualitas.

Saran saya untuk para penulis dan blogger. Bacaan itu wajib bagi anda ( saya juga ). Bila cukup waktu membaca koran minggu itu penting untuk menambah wawasan. Saat santai sambil minum kopi atau teh panas, ditemani makanan camilan  buka- buka koran. Anda akan mempunyai banyak ide menulis. Bagi yang tidak sempat ya baca buku apa saja yang penting otak terisi, tidak lupa pula bisa menikmati liburan minggunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun