Mohon tunggu...
Dues K Arbain
Dues K Arbain Mohon Tunggu... Administrasi - Menulis untuk membungkam pikun

Slogan Sufi Anak Zaman : Jika Allah mencintai manusia, maka akan terwujud dalam tiga kwalitas : 1. Simpatik Bagaikan Matahari 2. Pemurah Bagaikan Laut 3. Rendah Hati Bagaikan Bumi

Selanjutnya

Tutup

Trip Artikel Utama

Menembus Hujan Badai di Puncak Gunung Dempo

16 Februari 2021   13:51 Diperbarui: 19 Februari 2021   19:45 2151
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dini hari, tepatnya pukul 02.00 WIB kami tiba di kota Pagaralam langsung menuju penginapan yang sudah dibooking oleh karyawan BRI Pagaralam. Ada tiga kamar yang kami tempati, kamar pertama aku bersama Aisyah, dua kamar lainnya diisi oleh mereka bertujuh, ada yang empat sekamar, ada yang bertiga sekamar. 

Dalam perjalanan seperti ini, berhimpit-himpitan tidak menjadi soal, malah membuat keakraban satu sama lain semakin kental. Apalagi, besok pagi harus segera meninggalkan hotel, rasanya rugi kalau memesan kamar terlalu banyak, toh tujuannya hanya untuk istirahat sebentar dan numpang mandi saja.

Begitulah, usai shalat subuh, semua  siap, perlengkapan sudah di dalam ransel carrier masing-masing.  Agung dan Fanie membawa pertendaan, Dody membawa peralatan memasak beserta bahan makannya, Fahen dan Darman membawa air minum, snack dan lain-lain, Supri membawa kamera, drone dan perlengkapan elektronik lainnya.

Sementara aku dengan Aisyah hanya membawa ransel biasa berisi pakaian sendiri, karena rencananya kami hanya akan mengantar sampai ke kaki gunung, setelah itu kami akan menginap di rumah saudara.

Sesampai di Kampung 4 Dempo, lokasi jejak pertama kaki pendaki dipijakkan, kami sudah disambut dengan angin badai yang sangat kencang, beberapa pohon tumbang. Kami berlari ke rumah singgah sekaligus mendaftarkan identitas sebelum mendaki.  Namun  hanya bertemu dengan  seorang pendaki yang sedang berbaring.

Foto: Dokumentasi Pribadi
Foto: Dokumentasi Pribadi
Menurutnya, pendakian ke puncak Gunung Dempo ditutup, dia sudah seminggu menunggu sembari  melihat peluang, tapi ternyata badai tak pernah reda, datang silih berganti. Petugas pos jaga pun pulang ke rumahnya, ia hanya meninggalkan spanduk yang berbunyi : "pendakian ditutup, berbahaya karena hujan badai".

Sejenak kami menatap ke puncak gunung, kabut tebal menutupinya, awan bergerak sambung menyambung, bentuk gunung tenggelam, hanya hamparan kebun teh yang nampak jelas. 

Angin kencang menerpa tubuh kami, udara dingin menusuk hingga ke tulang. Selagi kami berpikir keras untuk melanjutkan pendakian atau batal saja, tiba-tiba datang tiga orang karyawan BRI Pagaralam, salah satunya Pak Dailami, yang selama ini sering kami hubungi.

Pak Dailami dengan tegas melarang kami untuk melakukan pendakian, ia menawarkan menikmati pemandangan alam lainnya saja, ada Air Terjun Maung, Tangga Seribu, Green Paradise, Air Terjun Pintu Langit, Rimba Candi, Danau Tebat Gheban, Sungai Lematang dan Sungai Manna, Situs Tegur Wangi, Situsi Kubur Batu, Situs Atung Bungsu, Air Terjun Lematang Indah, Air Terjun Curup Embun dan terakhir Tugu Rimau yang sudah biasa kami kunjungi.


Sampai pukul 12.00 WIB kami masih berada di Kampung 4 Dempo, selain masih ingin menikmati udara dingin, juga perbincangan masih hangat, antara keinginan mendaki dengan mundur terus saling mempengaruhi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun