Saya masih ingat ketika vaksin tiba pertama kali. Begitu banyak orang yang ragu dan menolak untuk divaksin. Namun, sikap sangsi ini perlahan memudar ketika melihat pengalaman yang sudah terjadi sekaligus mendengar pelbagai penjelasan medis secara benar.
Kadang kala, keputusan untuk menolak divaksin berhubungan dengan misinformasi. Terlalu banyak membaca berita yang sumbernya salah dan tanpa penjelasan medis yang kuat. Belum lagi, bahasa ketakutan-ketakutan yang menyebar, baik secara langsung, maupun lewat media sosial.
Sebagai yang sudah mendapat booster, hemat saya, divaksin merupakan salah satu bentuk sikap solider dalam kehidupan bersama. Sekali lagi, kita bukan saja melindungi diri sendiri lewat divaksin, tetapi juga kita berupaya melindungi orang lain di sekitar kita dengan keberadaan kita.
Kendati demikian, pada titik ini kita pun perlu menghormati keputusan dari mereka yang memilih untuk tak divaksin. Toh, divaksin masih menjadi pilihan bebas yang seharusnya tak boleh dipaksakan, apalagi ditekan dengan beban-beban mental dan psikologis tertentu.
Lantas, bagaimana sikap kita ketika kita memiliki teman, anggota keluarga, atau pun rekan kerja yang menolak untuk divaksin?
Pertama, selalu menghargai keputusan mereka.Â
Menghargai merupakan sikap pertama yang perlu kita bangun. Sikap itu nampak ketika kita tetap berteman baik dengan mereka yang menolak untuk divaksin.
Kemarahan perlu dihindari, pransangka perlu dikubur dalam-dalam, dan pikiran negatif tak boleh mempengaruhi relasi kita dengan mereka. Berelasi sewajarnya tanpa mereka merasa tak dipedulikan gegara divaksin.
Bagaimana pun, keputusan vaksin dan tak divaksin melekat dengan keputusan pribadi. Sebagaimana dia menghargai keputusan kita untuk divaksin, sama halnya juga sikap kita dalam menghargai keputusannya. Â
Kedua, Menghindari Sikap diskriminasi.
Sikap diskiriminasi bisa muncul dengan memisahkan atau pun memojokkan yang menolak untuk divaksin pada satu tempat atau ruang tertentu. Ketika dia berada bersama kita, kita cenderung memisahkan diri dan memojokan yang bersangkutan dengan tidak mau bergaul.