Mohon tunggu...
Gobin Dd
Gobin Dd Mohon Tunggu... Buruh - Orang Biasa

Menulis adalah kesempatan untuk membagi pengalaman agar pengalaman itu tetap hidup.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Sistem Barter, Cara Lama yang Kembali Guna Bertahan Hidup di Masa Karantina

22 April 2020   11:49 Diperbarui: 22 April 2020   11:48 900
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ya, situasi semasa penguncian wilayah memaksa mereka untuk menekuni aktivitas mencari dan menangkap ikan. Wilayah sungainya luas. Aturan jaga jarak dipraktikan. Terlebih lagi, kasus covid-19 tidak terjadi di tempat itu.

Hasil ikan tangkapan itu dijual dan bahkan ditukar. Uang menjadi salah persoalan pada masa karantina. Pasalnya, pekerjaan dan pendapatan tidak ada. Makanya, kalau ada yang mempunyai beras, gula, garam, suka, mereka tukarkan ikan dengan barang-barang tersebut. Jadinya, saling melengkapi.

Pemilik ikan juga lebih berpikir pada barang daripada dibeli dengan uang. Betapa tidak, jika hasil ikan dihargai dengan uang, mereka juga kesulitan untuk membelanjakan uang mereka. Barang di desa juga terbatas. Kalau ke kota, mereka membutuhkan kartu ijinan khusus dari desa. Biayanya juga tidak murah. Bahkan tarif perjalanan bisa setara atau melebihi harga dari ikan yang terjual.

Sistem barter mungkin saja masih hidup di beberapa tempat. Konon, sistem barter menjadi praktik dan sistem bisnis yang pernah hidup dan dipraktikkan di masa lalu. Di pasar, transaksi yang terjadi bukan antara uang dengan barang. Tetapi barang dengan barang. Pastinya, mereka mempunyai kriteria tertentu dalam mengukur setiap barang yang ditukar.

Sistem barter yang kembali hidup selama masa penguncian wilayah ini juga merupakan bekas praktik masa lalu. Pernah hidup dan kemudian hilang dari sistem kehidupan masyarakat. Terlebih khusus, saat barang dan kerja dihargai dengan uang. Kemudian, sistem barter ini kembali hidup karena tuntutan situasi.  

Pada situasi seperti ini, penulis melihat kalau tujuan sistem barter hadir sebagai upaya untuk bertahan hidup di tengah kertebatasan karena kebijakan karantina wilayah.

Ini juga menunjukkan tentang siklus sistem hidup yang dianuti oleh masyarakat. Meski tendensi hidup kita bergerak ke masa depan, kita masih tidak lupa untuk berbalik ke masa lalu.

Dalam mana, kehidupan masyarakat saat ini tidak terlepas dari masa lalu. Sistem hidup di masa lalu bisa kembali dihidupi saat ini karena tuntutan situasi dan karena itu cocok dengan konteks hidup masyarakat.

Selain itu, sistem barter juga memaksa masyarakat untuk bekerja dan berusaha. Hasil usaha itu bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dibutuhkan.

Gobin Dd

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun