Ah, entahlah. Tapi, suara itu semakin lama semakin menggodaku untuk bergerak mencari sumber suara itu. Aku tidak merasakan adanya genggaman ataupun hentakan. Pastinya, gadis itu tidak mungkin ada di jarak yang sangat dekat. Aku buka mata, dan cari sumber suara itu.
Semakin dekat. Tanpa dirasa, jantungku mulai berdebar kencang saat melihat wujud dari suara itu. Aku melihat seorang gadis yang aku kenal sebelumnya. Gadis yang sekarang sudah tinggal di dunia yang lainnya. Entah, bagaimana nasibnya di sana. Cuma, aku coba dekati suara itu. Aku coba peluk dia menandakan seberapa besar rasa kangenku pada gadis itu.
Di saat, jarakku semakin dekat. Aku coba peluk gadis itu.
OoOoOoOoOoO
Dan, di situ pulalah, rekaman mimpi itu harus berakhir. Aku terjatuh karena berlari menghadapi tanjakan pasir yang sangatlah terjal.
Lucunya, entah kenapa saat itu air mata tidak lagi berurai melainkan yang ada hanyalah respon bahagia yang muncul spontan.
Apakah ini menjadi sebuah pertanda?
Cinta, apakah memang kami akan dipertemukan lagi?
Ah, entahlah. Tanpa dirasa, segelas teh panas itu telah habis aku nikmati. Saatnya untuk kembali dan beristirahat. Semoga memang ini segera terjadi. Karena, mimpi yang dulu belum pasti akan berlanjut lagi. Mungkin, tiba-tiba aku dibawa untuk membawa sebuah bola besi yang kasar dan berat sekali. Itu biasanya sering aku alami saat amandelku mulai kambuh.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H