Mohon tunggu...
Rudy
Rudy Mohon Tunggu... Editor - nalar sehat N mawas diri jadi kata kunci

RidaMu Kutuju

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ada Mistik di Dukuh Lebo

28 Februari 2020   03:06 Diperbarui: 28 Februari 2020   07:01 232
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kontan saja dia berteriak keras memberitahukan orang-orang yang sedang bertebar mencari di sekeliling tempat itu bahwa malingnya bersembunyi di dalam sumur.

Dan ketika orang-orang memerintahkan agar orang di dalam sumur itu keluar, tetapi karena ketakutan orang tersebut tidak mau keluar, beramai-ramai pencuri itu "habis" dilempari batu atau benda apa saja yang dapat ditemukan di sekitar sumur.

Tetapi hebatnya, pencuri itu masih dapat bertahan sampai akhirnya dia menyerah dan dengan badan terhuyung karena terluka parah dengan susah payah naik ke bibir sumur, lalu digelendang ke rumah perangkat desa.

Sepanjang sejarah, warga asli Lebo yang berwatak cinta damai tidak pernah bertindak anarkis dan  "main hakim sendiri", kecuali hanya dua kali. itupun karena terprovokasi.

Yaitu kejadian pencurian "berjangka" itu dan mengeroyok seorang tokoh politik PKI pasca meletus peristiwa G30S pada 1965 lalu. Malam itu dalam keadaan sekujur tubuh luka-luka dan babak belur sementara kedua tangannya diikat dimasukkan ke dalam sebuah kamar yang dikunci sebagai tahanan.

Namun apa yang  kemudian terjadi sungguh mengejutkan. Di pagi hari ketika orang-orang yang berjaga di rumah perangkat desa bangun dari tidur, mendapati "ruang tahanan" itu kosong! Sang tahanan sudah menghilang entah ke mana.

Pencuri itu buron --kalau ditangani polisi pasti masuk DPO alias Daftar Pencarian Orang -- hingga tiga tahun lebih baru muncul, tetapi orang-orang sudah melupakan. Orang-orang desa hanya berkata dalam hati, pantas saja setiap kali kepergok dan dikejar pencuri itu dengan cepat dapat menghilang ternyata bersembunyi di dalam lobang sumur dari rumah korban aksinya.

Di Indonesia kepercayaan pada kekuatan ilmu gaib itu masih terus berlangsung sampai penghujung masa rezim Orde Baru. Saat itu pegawai pemerintahan yang kepingin naik pangkat atau jabatan atau pebisnis agar dapat memenangkan tender proyek mendatangi "orang pinter" untuk diberi "kekuatan gaib".

Artis yang ingin namanya cepat tenar dan menjadi bintang ternama datang dan meminta paranormal seperti Joko Bodo untuk diberi "ajian". Tetapi sejalan dengan tingkat kemajuan pemikiran orang, lebih-lebih dengan pesatnya digitalisasi, tampaknya orang sekarang sudah tak sabar lagi atau mungkin tidak percaya lagi untuk menempuh jalan atau cara lama yang dinilai spekulatif dan lamban.

Mereka ingin "yang pasti-pasti" saja melalui cara yang instan, maka digunakanlah bahan-bahan narkotika sebagai stimulus. Orang yang ingin cepat kaya tidak lagi datang ke dukun atau gunung Kawi tapi memilih cara korupsi atau berjudi.

Sedangkan di dunia politik ada jalan dan cara yang baru untuk mendapatkan kekuasaan secara mudah dan instan, yakni dengan mempolitisasi agama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun