Mohon tunggu...
Diva Hanifa H
Diva Hanifa H Mohon Tunggu... Mahasiswa - UIN Sunan Kalijaga

NIM: 22107030058

Selanjutnya

Tutup

Book Pilihan

Menghadirkan Buku dalam Life Style Anak Muda

4 Juni 2023   07:00 Diperbarui: 4 Juni 2023   07:21 239
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: bintangpustaka.com

Buku adalah jendela dunia. Hal ini sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Kalimat tersebut memiliki makna bahwa buku dapat menjadi cara untuk kita mengetahui banyak hal walaupun kita sendiri belum pernah melihat atau mengalami hal itu. Buku menawarkan 'petualangan' akan banyak hal melalui lembaran kertas-kertas nya.

Buku menjadi sumber ilmu yang sudah ada ribuan tahun lamanya. Banyaknya informasi yang ada dalam buku-buku dapat memperluas pengetahuan kita akan berbagai hal. 

Membaca terbukti memberikan banyak manfaat selain memperluas pengetahuan. Membaca dapat mencegah penurunan fungsi kognitif manusia, meringankan stress, memperkuat otak, dan berbagai manfaat lainnya.

Sayangnya, popularitas dari membaca buku perlahan menurun. Walaupun manfaat yang dihadirkan buku sangatlah banyak, nyatanya semakin lama banyak yang meninggalkan buku sebagai sumber informasi atau pun hiburan. 

Hal ini karena teknologi sudah semakin canggih. Informasi dapat ditemukan dengan cepat melalui handphone yang kita bawa kemana-mana sehingga mempercepat waktu dalam mencari informasi. Hiburan yang hadir pada jaman sekarang pun bermacam-macam terutama yang merangsang audio-visual.

Buku dianggap sebagai 'barang serius' yang membosankan. Bahkan sebutan kutu buku menjadi bahan olokan karena orang-orang yang kutu buku diasosiasikan sebagai orang yang kuper. Buku hanya menjadi formalitas kebutuhan pendidikan yang bahkan tak jarang kita temukan siswa yang tidak pernah membuka buku pelajarannya.

Peminat buku kebanyakan berasal dari generasi lama yang tumbuh ketika teknologi belum secanggih sekarang. Mereka terbiasa mendapatkan informasi dari buku dan mencari hiburan melalui buku. Sehingga walaupun kemajuan teknologi telah sangat pesat, mereka tetap lebih nyaman untuk setia dengan hobi membaca buku.

Generasi kini rasanya semakin asing dengan buku dan membaca. Minat membaca yang semakin rendah menghantui Indonesia. Menurut riset yang dilakukan World's Most Literate Nations Ranked, Indonesia berada diperingkat 60 dari 61 negara. 

Hal ini menjadi tamparan besar akan rendahnya minat membaca di Indonesia saat ini. Ironisnya, 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget yang membuat Indonesia berada dalam urutan kelima dunia terbanyak akan kepemilikan gadget. 

Pada 2018, pengguna aktif gadget Indonesia mencapai 100 juta orang. Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini lebih memilih membeli gadget ketimbang membeli buku.

Toko buku di Indonesia pun banyak yang akhirnya gulung tikar karena sepi pembeli. Beberapa toko buku legendaris seperti Toko Buku Gunung Agung, Books and Beyond, dan Togamas menutup permanen seluruh toko mereka di Indonesia. Penutupan toko buku yang agak masif ini mempersempit lagi akses untuk menumbuhkan minat generasi muda dalam membaca buku.

Generasi muda saat ini dihadapi tantangan akan kemungkinan semakin memburuknya minat membaca di Indonesia. Remaja saat ini lebih gemar bermain game atau aktif dalam sosial media ketimbang membaca buku. 

Handphone dan internet merupakan hal esensial bagi mereka. Menjadikan buku hal yang esensial dalam kehidupan generasi sekarang merupakan tantangan besar. Buku harus dapat menyelinap dalam generasi muda.

E-book dapat menjadi salah satu cara buku menyelinap ke generasi muda. Buku elektronik atau e-book dapat dengan mudah diakses melalui gadget dan internet. Anak muda lebih suka memegang handphone ketimbang buku fisik. 

Adanya e-book dapat menghadirkan tampilan baru yang lebih relevan untuk generasi sekarang yang lebih familiar dengan teknologi. Dibandingkan buku yang lebih besar dan berat, handphone jauh lebih ringan dan praktis untuk dibawa kemana-mana sehingga dapat mempermudah untuk membaca buku dimanapun dan kapanpun.

Selain teknologi, generasi muda juga identik dengan nongkrong. Banyak cafe atau tempat makan yang ramai dipenuhi anak muda. Mereka banyak menghabiskan waktu di cafe untuk duduk berbincang sembari menikmati makanan atau minuman yang mereka beli. 

Cafe yang menjadi tempat familiar untuk anak muda, dapat dimodifikasi menjadi book cafe. Book cafe adalah cafe dengan konsep seperti perpustakaan dimana mereka menyediakan buku-buku untuk dibaca pengunjung.

Salah satu cafe yang mengusung tema ini adalah Makan di Tebet yang berlokasi di Tebet, Jakarta Selatan. Cafe ini menyediakan banyak sekali buku yang dapat dibaca oleh pengunjung sembari menyantap pesanan mereka.

Sumber: instagram @makanditebet
Sumber: instagram @makanditebet

Menggabungkan buku dengan cafe bisa menjadi salah satu cara efektif untuk menumbuhkan minat membaca generasi muda. Mereka dapat nongkrong, makan atau minum, dan juga membaca di satu tempat yang sama.

Pembangunan perpustakaan yang nyaman juga haruslah merata dan mudah untuk diakses. Perpustakaan yang nyaman dan mudah diakses dapat mendatangkan anak muda untuk mengunjungi perpustakaan. 

Hal ini dapat menjadikan perpustakaan sebagai destinasi untuk anak muda melepas stress. Perpustakaan dapat dibangun dengan spot-spot foto menarik dan juga tidak hanya buku dalam rak saja. Misal adanya komputer yang dapat digunakan atau mini museum sehingga perpustakaan menjadi lebih menarik.

Sumber: meykkesantoso.com
Sumber: meykkesantoso.com

Perpustakaan Nasional yang berlokasi di Gambir, Jakarta Pusat misalnya. Perpustakaan ini memiliki museum sehingga perpustakaan tidak hanya berisi buku saja. 

Perpustakaan ini dirancang cantik dan memiliki banyak spot foto indah. Banyak sekali anak muda yang mengunjungi perpustakaan ini. Walaupun jika mereka mengunjungi Perpustakaan Nasional hanya untuk berfoto dan bukan membaca, setidaknya mereka familiar dengan perpustakaan yang siapa tau akan menumbuhkan minat mereka untuk membaca buku.

Walaupun minat membaca di Indonesia memprihatinkan, kita dapat bahu membahu kembali menumbuhkan eksistensi buku terutama dalam kalangan anak muda.  Prihatin rasanya jika anak muda yang akan menjadi penerus bangsa malah tidak familiar dengan buku dan membaca.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Book Selengkapnya
Lihat Book Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun