Sejak kecil saya sudah dikenalkan dengan minyak kayu putih oleh keluarga sebagai obat luar yang mujarab untuk menghangatkan badan saat mengalami perut kembung, atau ketika masuk angin. Aromanya yang khas, semriwing dan nggak bikin eneg, menjadikan minyak kayu putih merupakan obat wajib yang pasti selalu tersedia di rumah, di dalam tas saat bepergian, bahkan menjadi teman setia ketika saya sedang menimba ilmu di negeri empat musim. Yah, maklum saja negeri empat musim temperaturnya tidak sama seperti di negara tropis, dengan suhu yang selalu di bawah 20 derajat Celcius selama tiga musim berturut-turut (musim gugur, musim dingin, dan musim semi), bahkan bisa minus kalau sudah mencapai puncak musim dingin. Jika wong londo menghangatkan tubuh dengan minuman beralkohol seperti wine atau bir,  meminum sup hangat atau mereguk cokelat panas, maka wong Indonesia pasti tidak lupa melengkapinya dengan mengoleskan minyak kayu putih di sekujur tubuhnya sebagai obat luar penghangat tubuh sebelum mengenakan long john dan pakaian hangat lainnya.Â
Khasiat Minyak Kayu Putih di Mata Orang Asing
Saya masih ingat seorang teman asal Puerto Rico yang senang sekali dengan segala hal yang serba eksotis. Ketika saya meminjamkan minyak kayu putih saya padanya sewaktu dia sedang flu, mata dia langsung berbinar-binar sambil menghirup aroma yang keluar dari tutup botol. "Ini apa, Dina? Baunya enak sekali." Lalu dia melihat-lihat keemasan botol minyak kayu putih yang ada aksara Cina selain keterangan dalam bahasa Indonesia. "Ah, ya, saya tahu ini jenis obat alternatif yang banyak sekali terdapat di Asia. Pengobatan tradisional dari Asia memang terkenal banyak khasiatnya," puji dia di hadapan teman-temannya yang juga londo.Â
Di lain waktu, tatkala saya masih bekerja kantoran, seorang kolega londo saya jatuh terpeleset di lantai lobby kantor yang licin karena hari itu sedang hujan lebat, dan orang-orang yang keluar masuk meninggalkan jejak sepatu yang basah. Saya menawarkan dia untuk mengoleskan luka lebam di bokong dan sekitar pinggang dengan minyak kayu putih yang selalu saya bawa-bawa dalam handbag saya. Menjelang tengah hari, dia mengembalikan minyak kayu putih saya sambil berkata, "Terima kasih, rasa nyerinya sudah mendingan." Ia pun mengusap-usap luka lebamnya di sekitar paha sambil meringis.
Dari cerita ini tersirat bahwa kita boleh berbangga bahwa khasiat minyak kayu putih tidak kalah dengan obat-obatan modern yang diproduksi oleh negara maju. Bahkan, bisa dikatakan khasiat minyak kayu putih sangat mujarab untuk pertolongan pertama. Minyak kayu putih bukanlah obat untuk lansia dan anak kecil semata. Ia merupakan obat tradisional  yang harus kita banggakan sebagai produk asli Indonesia.
Daun Eukaliptus, Bahan Utama Minyak Kayu Putih
Minyak kayu putih terbuat dari daun eukaliptus yang tumbuh secara endemik di Australia, Papua Nugini, Filipina, juga di daratan Indonesia bagian timur seperti Maluku. Tumbuhan eukaliptus tidak tahan terhadap udara dingin, paling banter bisa hidup pada suhu minimal -3 atau -5 derajat Celcius. Hewan yang memakan daun eukaliptus ini biasanya merupakan hewan yang memiliki kantung seperti koala dan opossum. Aromanya yang khas karena mengandung senyawa disinfektan alami, dapat dikonsumsi oleh hewan-hewan ini karena sistem pencernaan mereka yang sudah didisain sedemikian rupa oleh Sang Pencipta sehingga toleran terhadap kandungan racunnya.Â
Ada berbagai jenis tanaman eukaliptus di dunia, antara lain Eucalyptus regnans yang banyak terdapat di Tasmania, batang pohonnya biasa digunakan untuk kebutuhan industri kayu gelondong. Â Ada Eucalyptus camaldulensis, biasanya ditemukan di daerah dekat aliran sungai, sebelah utara Queensland. Ada juga Eucalyptus globulus, yang dikenal juga dengan tanaman blue gum yang pohonnya selalu hijau sepanjang tahun.Â