Mohon tunggu...
Dina Mardiana
Dina Mardiana Mohon Tunggu... Penulis - Penulis dan penerjemah, saat ini tinggal di Prancis untuk bekerja

Suka menulis dan nonton film, main piano dan biola

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Sadar Bencana Melalui Sandiwara Radio 'Kekinian'

12 September 2016   23:23 Diperbarui: 13 September 2016   22:13 266
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Letak geografis Indonesia yang berada di lempengan seismo tektonik menjadikan negeri kita ini rawan terhadap bencana alam. Bahkan, sebenarnya sejak 73000 tahun yang lalu, pernah terjadi letusan dahsyat dari Gunung Berapi Toba, yang menyebabkan terbentuknya Danau Toba seperti yang kita kenal sekarang sebagai tempat wisata alam di Sumatera Utara. Namun, sayangnya, menurut Humas BNPB Bapak Sutopo Purwo Nugroho dalam acara Kompasiana Nangkring tanggal 18 Agustus yang lalu di Hotel Dafam Teraskita, Jakarta, masyarakat Indonesia masih belum siap menghadapi bencana.

Meskipun bencana alam akhir-akhir ini semakin beruntun terjadi yang dimulai sejak tahun 2004 di Aceh dalam bentuk gempa tsunami, disusul gempa Yogyakarta tahun 2006, meletusnya Gunung Merapi, Gunung Sinabung, dan lain-lain pada tahun-tahun belakangan, sadar bencana pada masyarakat kita baru sebatas pengetahuan saja. Selain itu, banyak alat pendeteksi bencana yang rusak sepert alat peringatan dini tsunami di Pacitan, atau alat peringatan banjir di bantaran sungai Bengawan Solo.

para pembicara Kompasiana Nangkring-BNPB: ADB Haryoko, S.Tidjab, Bapak Sutopo (BNPB) dan Ahmad Zaini (praktisi). foto: dokpri
para pembicara Kompasiana Nangkring-BNPB: ADB Haryoko, S.Tidjab, Bapak Sutopo (BNPB) dan Ahmad Zaini (praktisi). foto: dokpri
Oleh karena itu, BNPB,singkatan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, berinisiatif membuat berbagai program edukasi sadar bencana ke masyarakat. Salah satunya berupa edukasi melalui media yang dianggap paling efektif karena dapat mengubah perilaku dan menyelamatkan manusia, serta dianggap sebagai kunci sukses dalam mitigasi (disebut juga persiapan menghadapi) bencana. Berbagai strategi mitigasi bencana telah dicanangkan dan dilaksanakan oleh BNPB, seperti pembuatan komik berisi penyuluhan mengenai bencana, pembuatan film dokumenter bekerjasama dengan Kompas TV, kegiatan BNPB mengajar, dan masih banyak lagi. Nah, pada acara Kompasiana Nangkring kemarin itu BNPB menghadirkan strategi mitigasi bencana melalui pengenalan sandiwara drama radio.

Nostalgia Sandiwara Radio

Tutur Tinular, Saur Sepuh, adalah judul-judul sandiwara radio yang pernah 'mampir' di telinga saya sewaktu kecil. Dikatakan mampir, karena saya tidak sepenuhnya mengikuti drama tersebut kecuali diputarkan pada setiap kali saya dijemput kendaraan dari sekolah menuju rumah sambil menembus perjalanan pulang dalam kemacetan, ha ha.. Mau tidak mau, saya pun jadi mengetahui bahwa sandiwara radio bisa juga membius pendengar setianya. Saya yang tidak sengaja mendengarkannya saja bisa terbawa rasa emosi takut atau sedih, apalagi kalau ada adegan bertarung dengan kekuatan sakti, dan seringnya menjadi semacam dongeng 'nina bobo' siang saya di kendaraan.

Saat dewasa, saya masih sesekali mendengarkan sandiwara radio yang diputar salah satu stasiun radio swasta Jakarta untuk menemani saya menyetrika tumpukan baju. Lumayan lah daripada pikiran ke mana-mana, hi hi... Sandiwara radio yang biasanya saya dengarkan saat itu berupa dongeng anak-anak yang dibawakan Mbak Poetri Suhendro dan Gery Puraatmadja. Anak-anak yang mendengarkan dongeng ini biasanya memanggil mereka dengan sebutan Kak Putri serta Paman Gery. (Hhm.. kira-kira Kompasianer yang berdomisili di Jakarta tahu ya mereka ini dari radio mana? ;) ). 

Dongeng anak-anak yang dibawakan Kak Poetri dan Paman Gery bermacam-macam kisahnya, mulai dari dongeng klasik yang diambil dari negerinya HC Andersen, dongeng tradisional dari Indonesia, bahkan dongeng Indonesia kontemporer dengan tokoh-tokoh baru ciptaan mereka berdua. Sedangkan sandiwara radio lainnya saya sudah tidak mengikuti lagi, terlebih pada saat malam hari yang belum-belum dimulai dengan suara kikikiki (alias suara hantu) atau suara desahan manja perempuan. Kalau sudah begitu, channel radio saya pindah ke saluran yang memutar lagu-lagu pop.

Kini saya tidak tahu apakah sandiwara radio yang berisi dongeng anak-anak Kak Poetri dan Paman Gery masih disiarkan. Saya sudah jarang menyetelnya, terutama sejak ada ponsel pintar yang setia menemani. Kalau pun mendengarkan radio, paling banter ya melalui aplikasi streaming radio yang ada di ponsel. Channel yang saya pilih tentunya yang memutar lagu-lagu terkini sambil menemani saya dalam perjalanan naik kendaraan umum atau aktivitas lainnya, biar tidak mengantuk atau bosan.

Keunggulan Radio Dibandingkan Media Informasi Lainnya

Berbicara tentang radio, menurut Bapak Achmad Zaini, praktisi radio yang menjadi salah satu narasumber di acara Kompasiana Nangkring, keberadaannya sebagai sarana penyampai informasi memang bersaing ketat dengan televisi dan internet. Walaupun begitu, radio masih mempunyai beberapa keunggulan yang tidak bisa digantikan dengan media lain, seperti kedekatan antara penyiar dengan pendengar, penyampaian informasi terbaru lebih cepat sampai, dan pastinya murah meriah karena tidak perlu bayar untuk bisa mendengarkan radio.

Saya masih ingat beberapa peristiwa sekitar zaman kerusuhan 1998 yang mengharuskan saya mantengin siaran radio saat menembus perjalanan dari sekolah ke rumah agar menghindari jalanan yang dianggap rawan. Kenangan lainnya, setiap pagi saat berangkat ke sekolah, ke kampus, atau ke kantor menggunakan mobil jemputan, si pengemudi pasti menyetel radio untuk mengetahui titik-titik kemacetan yang disiarkan secara langsung. 

Di sela-sela mendengarkan live report mengenai titik kemacetan di Jakarta, sesekali channel radio dipindah ke siaran lagu-lagu yang dipandu oleh penyiar yang awalnya memang besar di radio seperti Farhan, Indy Barends atau Sarah Sechan. Para pendengar pun bisa berinteraksi dengan mereka seperti request lagu sambil kirim-kirim ucapan atau titip salam. Jadi, kalau dibilang ada kedekatan antara penyiar dan pendengar memang benar adanya.

Sosialisasi Waspada Bencana Melalui Sandiwara Radio

Berangkat dari manfaat ini, maka BNPB membuat program sandiwara radio yang mengusung materi edukasi bencana ke 20 stasiun radio yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat dan Banten. Mengangkat kisah cinta antara Raditya anak Tumenggung dengan gadis dari kalangan rakyat jelata Sekar Kinanti, dalam setting tanah Mataram tahun 1625 Masehi, sandiwara radio berdurasi 30 menit ini dibagi ke dalam 50 episode yang ditayangkan setiap jam 7 malam. Di acara Nangkring tersebut hadir juga para pengisi suara sandiwara radio yang sudah kawakan seperti Ivonne Rose, Nanang Kasila, Ajeng. Judul sandiwara radionya Asmara di Tengah Bencana, yang disutradarai oleh ADB Haryoko dan naskahnya ditulis S. Tidjab.

para pemain, sutradara dan penulis naskah sandiwara radio turut hadir dalam acara Nangkring 18 Agustus di Hotel Dafam Teraskota. Di antaranya ada Ivonne Rose yang merupakan pengisi suara kawakan sejak zaman Tutur Tinular. (foto: dokpri)
para pemain, sutradara dan penulis naskah sandiwara radio turut hadir dalam acara Nangkring 18 Agustus di Hotel Dafam Teraskota. Di antaranya ada Ivonne Rose yang merupakan pengisi suara kawakan sejak zaman Tutur Tinular. (foto: dokpri)
Tetapi sebenarnya apakah sandiwara radio efektif sebagai sarana untuk mengkampanyekan sesuatu, dalam hal ini pengedukasian masyarakat agar waspada bencana? Untuk itu, saya iseng-iseng berkomunikasi via whatsapp dengan seorang teman yang berdomisili di Surabaya. Kebetulan saya pernah tinggal di kota itu selama dua tahun dan merasakan bagaimana kehidupan masyarakat sehari-hari, termasuk kebiasaan mendengarkan radio. Sebut saja namanya Wati.

survey kecil-kecilan via whatsapp dengan mantan kolega saya di Surabaya. (sumber: dokpri)
survey kecil-kecilan via whatsapp dengan mantan kolega saya di Surabaya. (sumber: dokpri)
            “Wati, kamu masih suka dengerin radio nggak sih?” Saya ingat betul si Wati ini hobi sekali menyanyi sambil mengikuti irama lagu-lagu di radio yang ia dengarkan via ponsel.

            “Iya lah, Mbak. Kenapa?”

            “Kalau sandiwara radio, dengerin juga nggak?”

           Jeda sebentar.“Nggak pernah, Mbak. Kenapa?”

            “Kalau yang masih suka dengerin sandiwara radio di daerah usia berapa ya?”

            “Kalangan tua, Mbak. 50-an. Kakek sama nenekku.”

Dari contoh kecil ini tercermin bahwa pendengar sandiwara radio, bahkan di daerah, adalah generasi di atas saya (dengan kata lain, seangkatan dengan orangtua rata-rata generasi usia produktif masa sekarang). Meskipun hasil komunikasi ini tidak bisa menjadi patokan secara umum mengenai efektivitas sandiwara radio sebagai sarana edukasi, ya.

Pendengar radio di beberapa kota di Jawa dan luar pulau Jawa & range usianya. (sumber: https://marsnewsletter.wordpress.com/2010/01/13/pendengar-setia-radio-capai-37/)
Pendengar radio di beberapa kota di Jawa dan luar pulau Jawa & range usianya. (sumber: https://marsnewsletter.wordpress.com/2010/01/13/pendengar-setia-radio-capai-37/)
Contoh lain adalah pengurus rumah kost di Surabaya yang pernah saya hadiahkan pesawat radio beberapa bulan sebelum saya kembali ke Jakarta. Dia ternyata senang bukan main sewaktu saya memberikan radio portabel tersebut, padahal dia sendiri saya perhatikan selalu mendengarkan radio melalui smartphone. Dan yang didengar ya lagu-lagu macam Alamat Palsu serta disco-remix lainnya. Lah bagaimana saya bisa tahu, wong dia sering memutar siaran radio dari ponselnya keras-keras, ha ha ha..

“Makasih Mbak radionya, soalnya buat aku kasih ke bapakku di kampung, Mbak. Dia suka ngerungokke (mendengarkan) sandiwara pewayangan lho, Mbak,” begitu katanya.

Kalau berdasarkan hasil browsing di internet, data yang peroleh dari MARS Indonesia menyebutkan bahwa pendengar radio di luar pulau Jawa persentasenya masih lebih besar ketimbang di Jawa sendiri, yaitu sebesar 37% berbanding dengan 18%, dan rata-rata pendengar lebih senang menyimak lagu-lagu (sebanyak 82%) daripada berita atau ceramah.

Sandiwara Radio Berformat ‘Kekinian’

Jadi, bagaimana ya supaya siaran sandiwara radio ini bisa didengar semua orang, terutama yang ceritanya mengusung edukasi tenntang persiapan menghadapi bencana? Pengalaman saya dulu bekerja di Surabaya dalam hal yang berkaitan dengan promosi pendidikan, kami mempunyai jaringan media sosial (atau medsos) yang mengkomunikasikan setiap kegiatan kami baik itu pameran, presentasi, kunjungan ke kampus atau sekolah, dan lain-lain. Jelang seminggu, bahkan sebulan sebelum acara jika itu berskala besar, kami biasanya mengumumkan kegiatan tersebut melalui berbagai media, termasuk menceritakan detail acaranya di radio-radio dan stasiun televisi yang bekerjasama dengan kantor saya. 

Nah, supaya orang-orang bisa ikut mendengarkan atau menyimak siaran kami, ‘woro-woro’ di medsos seperti laman facebook dan twitter kami lakukan secara berulang-ulang. Khususnya di twitter, kami membuat ‘woro-woro’ tersebut dalam dua atau tiga timeline. Dan tidak lupa kami menyisipkan kuis yang jawabannya hanya bisa ditemukan pada saat siaran berlangsung ;). Oya, tambahan, jika kami menyertakan satu atau dua orang bule dalam siaran kami maka itu akan lebih menarik minat orang-orang untuk ikut mendengarkan atau menyimak, ha ha ha…

Ini contoh woro-woro yang kami buat sebelum dan menjelang on air di radio. Promosi sandiwara radio dirasa akan lebih efektif dengan memanfaatkan jalur komunikasi melalui media sosial.
Ini contoh woro-woro yang kami buat sebelum dan menjelang on air di radio. Promosi sandiwara radio dirasa akan lebih efektif dengan memanfaatkan jalur komunikasi melalui media sosial.
Mungkin hal serupa yang bisa dilakukan dalam mempromosikan sandiwara radio sadar bencana jika ingin menyasari kalangan remaja atau angkatan muda. Selain melalui laman medsos, bisa juga pengumuman mengenai adanya sandiwara radio dilakukan melalui adlips atau iklan di radio yang diputar secara berkala. Selain itu, jika salah satu atau beberapa peran diisi oleh penyiar-penyiar yang dikenal generasi muda masa kini bisa jadi akan menambah jumlah pedengarnya. Misalkan saja Ronald Surapradja yang suaranya bisa berubah-ubah bak bunglon atau Nycta Gina yang khas dengan suara cempreng-nya. Tentunya format cerita disesuaikan dengan gaya pembawaan mereka yang kocak, ber-setting masa kini, dengan lakon-lakon yang lebih dikenali remaja dan generasi muda, maka kisah sandiwara radio pun lebih baik bernuansa komedi tanpa menghilangkan unsur konflik dan tragedi khususnya saat bencana alam terjadi.


Mengapa edukasi bencana perlu menargetkan angkatan generasi muda juga? Ya secara logika karena mereka tenaganya masih kuat, sikapnya masih gesit dan cekatan, pasti akan sangat membantu ketika dibutuhkan untuk menolong para lansia atau anak-anak saat bencana terjadi. Semoga masukan-masukan di atas dapat menjadi pertimbangan dalam pembuatan naskah dan penyiaran sandiwara radio edukasi bencana berikutnya. ***

Referensi: 

Pendengar Setia Radio Sampai 37%

NIELSEN: KONSUMSI MEDIA LEBIH TINGGI DI LUAR JAWA

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun