Mohon tunggu...
dimas muhammad erlangga
dimas muhammad erlangga Mohon Tunggu... Mahasiswa - Aktivis GmnI

Baca Buku Dan Jalan Jalan Live In

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop

5 Tahun Dualisme DPP GmnI: Siapakah Yang Mesti Bertanggungjawab?

30 November 2024   04:01 Diperbarui: 30 November 2024   04:01 164
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Langkah Penyelesaian yang Perlu Dilakukan

Untuk mengakhiri dualisme yang sudah berlangsung selama lima tahun, beberapa langkah strategis perlu segera diambil. Pertama, GMNI perlu menyelenggarakan Kongres Luar Biasa (KLB) sebagai wadah untuk menyatukan kembali seluruh cabang. Kongres ini harus dirancang secara inklusif, melibatkan semua pihak yang berseteru, dan dijalankan dengan transparansi penuh.

Kedua, diperlukan mediasi independen dari tokoh-tokoh senior GMNI, akademisi, atau pihak netral lainnya. Mediator ini dapat membantu menjembatani perbedaan pandangan antara kubu yang berseteru, sehingga tercapai konsensus yang adil dan dapat diterima oleh semua pihak.

Ketiga, GMNI perlu melakukan reformasi internal secara menyeluruh. Reformasi ini mencakup pembenahan aturan main kongres, struktur organisasi, serta sistem pengambilan keputusan yang lebih demokratis dan transparan. Dengan demikian, konflik serupa di masa depan dapat dicegah.

Keempat, GMNI harus kembali fokus pada perjuangan intelektual dan ideologis sebagai organisasi mahasiswa nasionalis. Konflik internal hanya akan melemahkan daya juang organisasi. Sebaliknya, fokus pada isu-isu strategis yang relevan dengan masyarakat marhaen dapat menjadi titik temu yang menyatukan kembali kader-kader GMNI.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Tanggung jawab atas dualisme ini tidak hanya terletak pada satu pihak, melainkan pada seluruh elemen GMNI. Para pemimpin terdahulu memiliki tanggung jawab moral untuk mengakui kesalahan mereka dan menawarkan solusi konstruktif. Sementara itu, kader-kader muda juga memiliki tanggung jawab untuk mendorong reformasi dan perubahan positif di internal organisasi.

Dualisme ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi GMNI untuk memperkuat mekanisme internal dan memperbaiki pola kepemimpinan. Jika GMNI ingin tetap relevan di tengah tantangan zaman, organisasi ini harus mampu menyelesaikan konflik internalnya dengan cara yang bermartabat dan berlandaskan prinsip perjuangan yang diajarkan Bung Karno.

Harapan untuk Masa Depan GMNI

Sebagai salah satu organisasi mahasiswa tertua di Indonesia, GMNI memiliki warisan sejarah yang kaya dan peran penting dalam perjuangan rakyat marhaen. Dualisme yang terjadi selama lima tahun terakhir adalah ujian besar yang akan menentukan arah masa depan organisasi ini. Jika konflik ini berhasil diselesaikan, GMNI berpeluang besar untuk kembali menjadi garda terdepan gerakan mahasiswa nasionalis. Namun, jika tidak ada langkah nyata, organisasi ini berisiko kehilangan relevansinya.

Kader GMNI harus bersatu untuk melawan penjajahan dalam bentuk baru, yaitu konflik internal yang menghambat kemajuan organisasi. "Setiap langkah harus untuk rakyat marhaen," mungkin seperti nya harus dipegang oleh Insan insan marhaenis di GmnI. GMNI harus berani mengambil langkah besar untuk menyatukan kembali barisannya. Masa depan organisasi ini ada di tangan para kader, dan mereka harus membuktikan bahwa GMNI masih layak disebut sebagai pelopor gerakan mahasiswa nasionalis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Vox Pop Selengkapnya
Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun