"Duh, kencurnya habis. Gimana nih masak seblaknya"
Kalimat putus asa, bingung, mencari solusi, bercampur aduk jadi satu. Begitulah kira-kira gambaran kalimat di atas berdasarkan skenario 'sedang memasak', halah sok jadi seperti sutradara saja saya ini.
Siapa yang tidak runtuh niatnya ketika sedang on fire memasak ternyata bumbu masak kurang? Jika itu bumbu tambahan, tidak masalah. Jika bumbu utama? Terpaksa diet. Sebaiknya sebelum memasak, siapkan bumbu yang diperlukan terlebih dahulu.
"Kalo sudah malam, warung jauh, mana harga naik pula ..."
Ya.., begitulah derita seorang suami kena dampak keputus asaan seorang istri yang on fire memasak masakan terlezatnya untuk suami tercinta. Sudah lapar, kena omel. Lengkap sudah penderitaan saya.
Tak punya lahan bercocok tanam
Setiap permasalahan, pasti ada solusinya! Optimis! Permasalahan kekurangan bumbu memasak dengan segala alasan tersebut di atas, teratasi dengan solusi menanam tanaman tersebut secara mandiri. Case closed!
Satu masalah selesai, mucul masalah baru. Sudah pasti! "Masalah kok ada terus", gumam dalam hati. Manusiawi jika kita menggerutu demikian. Tapi, masalah harus dihadapi, bukan dihindari.
Tinggal di perkotaan, di sebuah perumahan. Bisa dibayangkan seperti apa? Rumah berbaris bak pasukan militer. Bersinggungan tembok, bahkan berdempetan. Lahan tanah dihabiskan untuk didirikan bangunan. Sebagai cara untuk memaksimalkan lahan dan memperluas hunian. Lalu bagaimana bisa bercocok tanam secara mandiri?
Urban farming
Alih-alih ingin bercocok tanam, tapi apa daya lahan pun tak punya. Bercocok tanam di sekitar kota (urban farming) menjadi jawabannya. Konsep memanfaatkan lahan sempit yang ada untuk bercocok tanam, kini digandrungi masyarakat, terutama ibu rumah tangga.
Selain untuk mengisi waktu luang dengan bercocok tanam di rumah, urban farming mendukung ketahanan pangan masyarakat. Lingkup kecilnya, ketahanan pangan untuk keluarga. Cara bercocok tanam di sekitar kota pun beragam. Mulai dari hidroponik, akuaponik, vertical garden, dsb. Literaturnya mudah ditemukan, caranya pun mudah.

Alhasil, seblak maknyuss siap tersaji kapan pun suami order. Terlebih di musim penghujan yang melanda Jogja akhir-akhir ini.
Dari teras, turun ke dapur, hingga ke perut
Makan. Menjadi kebutuhan manusia untuk bertahan hidup. Ya, makan untuk hidup, jangan di balik!
Berbicara masalah teori, kebanyakan orang lihai. Terlebih, kini masyarakat kita sudah sadar akan pentingnya pendidikan. Jenjang pendidikan mulai dari S1 sampai S-berikutnya banyak disandang masyarakat sekitar kita. Hal itu menandakan, banyak orang pintar di sekitar kita. Lalu bagaimana masalah praktik? Tidak semua yang jago teori itu menjadi praktisi.
Budaya mencontoh adalah budaya masyarakat kita. Kita butuh role model. Begitu pula dengan belajar urban farming. Lasem Sky Garden, berada di bilangan pusat Jogja. Tepatnya di sebelah utara Taman Parkir Ngabean, Jogja. Menjadi salah satu role model yang kita butuhkan dalam hal urban farming.

Tanaman tersebut tak hanya menjadi penghias kafe agar terkesan asri dan instagramable. Tanaman tersebut sengaja di tanam untuk kemudian dipanen sendiri, diolah sendiri, dimasak sendiri, semua serba sendiri. Pemilik kafe pun tak segan melayani pengunjungnya, sendiri.
Saat ilmu bersanding dengan menu
Bertanya soal bagaimana cara melakukan urban farming di Lasem Sky Garden, sangat boleh sekali! Keramahan di sana saya rasakan ketika saya bertanya-tanya mengenai vertical garden sampai kepo masalah 'scoby' doo. Bukan seekor anjing. Scoby merupakan 'suatu koloni' yang ada dalam proses fermentasi Kombucha--salah satu menu minuman andalan Lasem Sky Garden.

Berbagi ilmu kepada pengunjung, masyarakat luas, suatu cita-cita mulia dalam sebuah bisnis. Makanan boleh saja habis disantap, tetapi ilmu akan selalu bertambah disaat kita mau berbagi.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI