Mohon tunggu...
Didin Emfahrudin
Didin Emfahrudin Mohon Tunggu... Novelis - Writer, Trainer, Entrepreneur

Penenun aksara yang senantiasa ingin berguna bagi semua makhluk Allah SWT, layaknya Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Gadis Pesisiran : Cerpen Nomine Anugerah Sastra Litera 2021

8 Januari 2022   01:37 Diperbarui: 8 Januari 2022   01:40 254
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Sampeyan ikuti petunjuk yang sudah Mbayut tulis di kertas itu ya Nduk. Jangan di baca sekarang. Tapi nanti saja di rumah, pas di tempat sepi dan sampean sendiri. Sampean jalani ritual yang sudah Mbah tulis di situ ya Nduk."

"Inggih. Iya Mbah. Matur nuhun. Terima kasih. Saya pamit pulang langsung ya Mbah," ujar Nilna sembari bersalaman dan meninggalkan selarik amplop tebal sesuai arahan Yuk Erna. Namun, Mbah Manunggal mengembalikkan ternyata amplop itu pada Nilna. Dan kakek sepuh itu menyarankan, boleh membalas jasanya, jika ritual darinya itu memang telah terbukti dan berhasil menyelesaikan permasalahannya. Nilna pun kini sungguh menaruh keyakinan bulat-bulat pada kakek sepuh di depannya itu. Ia pergi dengan senyum tipis penuh harapan. Sepanjang perjalanan ia membayangkan, hari-hari depan adalah hari ia akan kembali meraih kejayaannya kembali.

***

Sesampainya Nilna di tempat tidurnya malam itu, Ia langsung saja tak sabar untuk membuka secarik kertas pemberian Mbah Manunggal yang sudah ia tak sabar membukanya sejak pagi tersebut. Nilna ingin tahu segera, apa sesungguhnya ritual anjuran dukun sakti itu. 

Dengan mata kantuk dan lelah seharian melayani pelanggan. Nilna dengan pelan-pelan membuka lipatan kertas berisi tulisan yang ia rasa sangat sakral. 

Sekali lagi, malam ini Nilna di buat syok oleh kakek tua yang katanya dukun paling sakti itu. Kenapa di kertas itu hanya berisi dua nama. 

Dan nama itu sungguh sangat menggetarkan jiwa Nilna, kala ia melafalkannya. Meski dalam hati. Mengingat siapa dua orang yang namanya ada di kertas itu membuat mata Nilna berkaca-kaca. Bulir bening deras membuncah dari mata lentiknya. Apa maksud seorang dukun bernama Mbah Manunggal ini. 

Padahal, yang ia ketahui, seorang dukun  biasanya menyarankan kliennya untuk mandi kembang tujuh rupa, atau bahkan ia datang ke dukun itu, ia telah mempersiapkan diri jika harus melayani syahwat sang dukun, seperti yang banyak di lakukan oleh dukun-dukun cabul. Kepada mereka para gadis cantik yang mencari kejayaan dan keglamoran dunia, sepertinya.

Hingga kokok ayam penghantar fajar telah menyapa hari. Nilna masih merenungi kertas pemberian si dukun tenar itu. Semburat hangat kuning pun memancar dari ufuk timur. Cuit-cuit burung yang hinggap di pepohonan rindang, di atas atap warung itu membangunkan Nilna. Tubuhnya amat terasa lelah namun ia paksa menggeliat dan bangkit bersiri. Hari ini, ia ingin langsung kembali ke gubuk si dukun aneh itu. Entah, kenapa di pagi yang buta itu. Ia tak kuasa menahan ingin mengonfirmasi langsung apa maksud Mbah Manunggal itu. Seusai ijin ke Yuk Erna.

Nilna bergegas mengendarai bebek besinya. Sekitar satu jam perjalanan, ia telah sampai di pedesaan tempat tinggal Mbah Manunggal. Namun yang ia lihat sungguh berbeda hari ini. Tak ada di tempat itu rumah sang dukun seperti kemarin. Yang terdapat disana, hanyalah sebuah tiang-tiang bambu tanpa atap dan dinding. Nilna syok. Di hamparan persawahan padi yang luas itu, tak ada siapapun. Ia kembali ke jalan menuju pusat desa dan ingin bertanya ke orang-orang disana. Kebetulan pagi itu, di saat ia akan pergi, ada petani yang sedang akan menengok sawahnya.

"Permisi Pak, di mana kiranya sekarang Mbah Manunggal yang kemarin menghuni gubuk disana itu?" Tanya Nilna terbatah-batah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun