Melestarikan sejarah bukan hanya soal menjaga peninggalan masa lalu, tetapi juga tentang menghormati perjalanan panjang yang telah membentuk identitas kita sebagai bangsa. Sejarah adalah jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan—sebuah warisan budaya yang harus kita rawat dan lestarikan demi generasi mendatang.
Namun, apa yang terjadi jika warisan sejarah ini terabaikan? Di tengah perkembangan digital dan teknologi yang begitu pesat, risiko kehilangan jejak sejarah menjadi semakin nyata.Â
Kita tentu tidak ingin anak cucu kita kehilangan kesempatan untuk mengenal kekayaan sejarah yang dimiliki Indonesia, termasuk kisah-kisah menarik dari tokoh-tokoh dunia yang pernah mengunjungi atau tinggal di negeri ini.
Salah satu kisah menarik yang layak untuk dikenang adalah perjalanan Arthur Rimbaud, seorang penyair besar dari Prancis, yang pernah menjejakkan kakinya di Indonesia. Penyair kelahiran Charleville pada 24 Oktober 1854 ini dikenal sebagai pengelana sejati. Siapa sangka, salah satu perjalanan hidupnya membawanya ke Salatiga, Jawa Tengah, sebuah kota dengan kekayaan sejarah yang luar biasa.
Jejak Arthur Rimbaud di Stasiun Tuntang
Untuk menghormati jejak sejarah ini, kami di PT Kereta Api Indonesia (Persero), bersama Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, akan meresmikan plakat Arthur Rimbaud di Stasiun Tuntang, Ambarawa, Semarang, pada 5 Desember 2024.Â
Plakat ini menjadi simbol sejarah yang menghubungkan kisah Arthur Rimbaud dengan kota Ambarawa dan Salatiga—dua tempat yang memiliki arti penting dalam hidupnya.
Ini bukan hanya tentang sejarah Prancis. Kisah Arthur Rimbaud adalah bagian dari sejarah dunia, dan kehadirannya di Indonesia juga menjadi bagian dari cerita besar itu.Â
Dengan mendukung peresmian plakat ini, KAI berkomitmen untuk melestarikan warisan sejarah, memperkuat hubungan budaya antara Indonesia dan Prancis, serta memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Indonesia kepada dunia.
Transportasi Sebagai Penjaga Jejak Sejarah