Raden tersenyum tipis. "Aku tahu risikonya, tapi kita tidak punya pilihan lain. Jika kita hanya bertahan di sini, kita akan kehilangan lebih banyak. Ini bukan hanya tentang melawan musuh di depan mata, tapi juga menjaga rakyat kita. Mereka adalah kekuatan kita yang sesungguhnya."
Suryo akhirnya mengangguk, meski masih tampak khawatir. "Baiklah. Aku akan melakukan yang terbaik."
Malam itu, Suryo memimpin sekelompok kecil prajurit menuju desa di utara, meninggalkan benteng dengan harapan bisa menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa. Di sisi lain, Raden tetap tinggal di benteng, bersiap menghadapi serangan lain yang bisa datang kapan saja.
Angin malam terus berhembus, membawa rasa cemas yang menusuk. Di atas langit, bulan bersinar dengan lembut, seakan menjadi saksi bisu dari pertempuran yang belum selesai. Meski hari ini mereka meraih kemenangan, Raden tahu bahwa jalan mereka masih panjang dan penuh dengan bahaya.
Tapi ia tidak gentar. Dalam hatinya, ada tekad yang kuat untuk melindungi tanah ini, rakyatnya, dan kehormatan yang sudah lama diperjuangkan. Dan meskipun ia tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok, ia yakin bahwa selama mereka tetap bersatu, harapan itu masih ada.
Peperangan mungkin belum usai, tapi semangat perjuangan mereka akan terus menyala, hingga penjajahan ini benar-benar berakhir.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H