"Kak, syukurlah kamu datang," ucapku dengan kaki yang terasa hampir tidak lagi kuat menopang.
"Kalian mau apa? Bubar sana!"
Bobi memberi kode kepada ketiga rekannya yang tidak satupun ku kenali wajahnya. Akan tetapi logo geng motor di baju mereka cukup memberiku informasi bahwa mereka anggota salah satu geng motor terbesar di kotaku. Ya, logo itu sangat identik.
Keesokan harinya, Bobi dikeluarkan dari sekolah. Kerena bukan hanya memiliki kasus denganku, remaja itu pun terjerat kasus penusukan saudaranya sendiri dalam tauran yang melibatkan dua geng motor. Entah bagaimana kabarnya anak itu sekarang.
Lima tahun berlalu, aku sudah tidak bekerja lagi di sekolah itu. Kini sekolah itu sudah menjadi sekolah yang hebat. Seleksi masuk calon siswa diperkatat. Pekerjaan Bahrul pun menjadi lebih ringan. Ia bisa tersenyum lega, karena tidak lelah lagi menangani kasus yang luar biasa. Sementara aku, kini sudah berada di tempat yang berbeda.
Sejak memutuskan untuk lanjut kuliah S2 aku terus menimba ilmu menjadi pelajar kembali dan terus belajar dari orang-orang yang kutemui.
Dari kisahku, aku begitu sadar, bahwa menjadi pendidik sama sekali tidaklah mudah. Terlebih kita harus terus mendidik diri sendiri sebelum mendidik orang lain. Peserta didik tidak akan mau mendengarkan apa yang kita sampaikan jika pribadi kita sendiri pun tidak mencerminkan sosok teladan bagi mereka.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2021. Mari terus belajar untuk menjadi pendidik yang mampu menjadi alasan mengapa anak-anak didik kita harus terus meperbaiki dirinya. Semoga bermanfaat.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H