Bahkan pribadi saya pun tak bisa menepis bahwa beberapa kali saya akan larut dalam narasi yang dibuat oleh para pelakon Instastory, sambil duduk menonton Instastory kalimat demi kalimat akan bermunculan.
Lalu, dengan sendirinya dalam pikiran saya, mungkin saja seperti ini bunyinya "Wah, enak banget ya jadi si X, masih muda udah umroh berkali-kali" atau "Wah, bahagia banget ya jadi si Y, baru nikah udah kebeli rumah yang ada kolam renangnya, gak kayak gw".Â
Bagi saya pribadi adalah wajar ketika seseorang akan merasa cemas saat melihat kebahagiaan orang lain yang tak bisa ia rasakan pada saat itu. Karena pada hakikatnya manusia hidup untuk kebahagiaan, dan itu bersifat abstrak.Â
Entah itu bahagia karena menjadi tekenal, bahagia keliling dunia, atau bahagia karena pulang membawa banyak ikan selepas memancing, karena bahagia memiliki versinya masing-masing dalam pikiran setiap orang.Â
Dan seperti itulah kebahagiaan semata yang ditawarkan oleh semrautnya dunia maya, salah satunya Instagram. Adalah tampak bahagia di mata orang lain dalam instastory, padahal belum tentu kebahagiaan itu benar-benar dirasakan oleh si pemiliknya.
Lantas bagaimana tindakan saya pribadi dalam mengatasi hal ini? Bagi saya cukup mudah, tak perlu bertekad untuk puasa Instagram, toh sampai saat ini saya tetap asik menggunakan Instagram.Â
Hanya saja, yang perlu saya lakukan adalah mengubah sedikit cara berpikir saya dalam menggunakan aplikasi luar biasa tersebut. Adalah jika mereka bisa terlihat bahagia di dalam Instastory, mengapa tidak saya ciptakan kebahagiaan yang sesungguhnya meski tak terlihat dalam Instastory?
Karena sejatinya yang merasakan bahagia atau tidaknya seseorang adalah perasaan si pemilikinya sendiri. Melainkan bukan pada Instastory yang sewaktu-waktu bisa mengikat penggunanya dalam kepalsuan. Salam.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H