Warna emas dipilih bagi kaum bangsawan strata atas tak lain dan tak bukan karena emas merupakan simbolisasi dari kemuliaan sang Sinuhun. Sedangkan warna dasar putih dengan seret emas, dan bermotif lung pakis biasanya milik para Sentana Riya Nginggil (biasanya bergelar Kanjeng Raden Aria).
Sedangkan warna hitam sebagai identitas dari kematian. Warna ini biasanya diperuntukkan bagi rakyat jelata. Ya, hirarki masa lampau, Kawan.
Bahkan ada beberapa literasi menyebutkan bahwa pada masa kekuasaan Paku Buwono IV terdapat pelarangan menggunakan songsong kecuali bagi mereka yang bergelar pangeran.
Keunikan payung dengan beragam filosofi yang hadir berfusi bersama budaya masyarakat setempat. Pada akhirnya, songsong mulai diproduksi oleh masyarakat. Bersamaan dengan maraknya kesempatan masyarakat bekerja sebagai buruh di pabrik gula, songsong pun ikut mengisi pundi-pundi masyarakat kelas bawah.
Pada zaman dulu, songsong diproduksi dengan menggunakan moda cat dan lukisan tangan. Sehingga muncul beragam sebagai songsong dengan motif-motif cantik.
Tergerus gelombang industri pabrikan, payung hadir lebih praktis. Bukan lagi terbuat dari kertas. Payung hadir dengan menggunakan kain dan printing dengan desain mesin yang lebih praktis.
Pergeseran budaya inilah yang kemudian menggusur produksi dan eksistensi songsong dalam pluralisasi masyarakat yang multietnis. Songsong berangsur hanya menjadi payung yang berfungsi sebagai aksesoris di saat prosesi pemakaman berlangsung. Fakta inilah yang kemudian memunculkan mistikisasi terhadap songsong.
Tengah timbulnya kerinduan kembali mendudah keagungan budaya masa lampau, kini songsong kembali dihidupkan di bumi persada.
Di luas Pamedan, halaman depan gerbang Puro Mangkunegaran, kami disuguhi koridor payung indah nan menawan.
Beberapa seniman yang ikut ambil bagian dalam festival kali ini pun berpendapat bahwa payung dianggap sebagai simbol dari keagungan, kesadaran, dan kebersamaan.