Begitu pula bagi teman-teman penyintas bipolar. Ada obat yang dapat membantu untuk membuat kinerja fisiologis, entah itu hormon maupun neurotransmitter kita, dapat berfungsi lebih baik.Â
Ada kalanya teman-teman penyintas bipolar diperbolehkan libur meminum obat tersebut, selama kebijakan ini atas seizin dokter bersangkutan.Â
Lalu bagaimana sikap kita sebagai caregiver individu dengan gangguan bipolar?Â
World Health Organization (WHO) mencatat ada 45 juta jiwa penyintas gangguan bipolar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut 5,7 juta jiwa diantaranya atau sekitar 25,50% pernah melakukan percobaan bunuh diri.
Sungguh, bipolar merupakan penyakit yang sangat mengganggu aktivitas para penyintasnya. Bipolar bukan berbincang tentang labeling yang siap kita tempelkan pada seseorang dengan gejala yang hampir sama.Â
Sebagai orang-orang yang ada di sekitar penyintas bipolar ada baiknya kita membantu mereka. Misalnya, kita membantu mengingatkan di saat mereka mengalami kondisi relapse, baik ketika terjadi episode manik ataupun depresi.Â
Kita juga bisa mengingatkan dan terus memberi dukungan supaya mereka tetap minum obat dokter dan rutin berkunjung ke ahli kesehatan terkait.Â
Selain mengingatkan tentang kondisi mereka, sebagai caregiver kita pun harus waspada dengan kondisi kesehatan kita sendiri. Alangkah baiknya bila kita lelah maka kita rehat.Â
Mengingat betapa keras upaya seorang penyintas gangguan bipolar untuk bertahan bahkan menjalani kesehariannya, maka sudah sepantasnya label bipolar tidak disematkan secara sembarangan.Â
Sering pula saya menyebutkan jangan sesekali kita melakukan diagnosa sendiri. Baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Akan sangat berbahaya, saudara.Â
Salam sehat, salam sadar