Waktu terus berlalu, Abang. Demikian pula langkahku.Â
Siang tadi, di perempatan kota, aku membaca sebuah berita. Kuharap itu bukan koran kuning yang biasanya dulu sering mengundang kopimu hingga mengering.
Warta berita sedang mengenang seorang perempuan menghina kaumnya sendiri. Bagaimana ia bermandikan cahaya lampu menuangkan seluruh ide gilanya bersama seorang lelaki milik perempuan lain.
Kau pasti paham, Abangku. Kita dididik oleh Mamak di kampung untuk menghormati perempuan. Menjunjung tinggi harkat kaum penentu generasi penerus bangsa.
Bukankah Mamak selalu berujar di ruang makan.
"Abang, bila nanti Abang besar, carilah istri yang bukan hanya pandai bersolek, tetapi yang pintar memasak rendang."Â
Saat itu kita berdua hanya saling memandang. Aku mengangkat bahuku saat kau melirik ke arahku sambil menginjak sedikit kakiku.
"Tetapi kalaupun ia belum pandai memasak rendang, jangan pula kau memintanya untuk mengolah rendang. Cintailah setiap masakannya. Sayangilah setiap racikan bumbunya. Maka suatu ketika, kau akan menemukan kelezatan rendang yang tiada terkira." Begitu tutur Mamak waktu dulu, bukan?Â
Sekarang aku mengerti Abang. Rendang bicara tentang simbol keutuhan dan kecakapan perempuan mengelola rumah, suami, dan anak.
Akan tetapi, Abang. Baru saja siang ini kutemui lelaki yang ada di koran yang kubaca di simpang jalan itu.
Kudatangi ia sedang menuai padi di ladang. Kumaki ia karena kebodohannya. Masakan dengan lantang ia bersama perempuan itu menghina istri masa mudanya.
Darah dalam jantungku berdetak. Mungkin benar kata Mamak. Bila lelaki sudah punya ladang dan padinya sedang masak, maka senanglah ia bertingkah.