Konsep Dasar Rabindranath Tagore Dan Ki Hajar Dewantara Bagi Dunia Edukasi dan Parenting
Pola ajar peninggalan kolonial Belanda menitikberatkan pada kemampuan peserta didik untuk tujuan ke depan menjadi manusia pekerja, mungkin lebih relevan sekaligus related dengan teori Classical Conditioning ala Ivan Pavlov.
Teori Classical Conditioning mencerna manusia sebagai individu yang belajar dari sebuah stimulan sintesis menjadi sebuah kebiasaan, memunculkan ide diberlakukannya hukuman dan reward atas peserta didik.
Mari, sekedar berkontemplasi, seberapa sering kita, sebagai orang tua atau seorang guru seringkali memberikan reward setelah murid atau anak kita berhasil melakukan tugas yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya? Salahkah kita?Â
Atau sebentuk hukuman dengan tendensi sebagai alat pendisiplinan, kita terapkan tanpa memandang besar kecil kesalahan siswa atau anak, tatkala ia kita anggap gagal dalam memenuhi perannya sesuai arahan kita ?
Sebenarnya saya bukan ingin mengecilkan arti disiplin bagi anak. Hanya saja, saya menawarkan gambaran yang mungkin dapat bermanfaat sebagai pengganti metode ajar reward and punishment yang selama ini dianggap paling ampuh untuk mengajar.
1. Manusiakan anak dengan menghargai jiwanya
Ya, sebagai orang yang lebih dewasa Kita seringkali merasa menjadi superior. Sehingga dalam pemahaman kita, selalu saja tersimpan memori bahwa apa yang kita pikir benar adalah baik bagi anak.
Nope. Setop berpikir demikian. Setiap anak mempunyai potensi yang berbeda antara satu dengan yang lain. Pintar matematika namun tidak cakap dalam menghafal soal sosio humanis. Pandai dalam memahami sastra belum tentu mampu menjadi jawara dalam olah raga. Pahami dulu ini.
Biarkan jiwa kecil mereka berkembang. Masih susah menemukan potensinya? Tidak usah terlalu memaksa.Â
Seringkali anak-anak mendatangi saya hanya untuk bercerita tentang betapa inginnya mereka berhenti dari berbagai les dan kursus. Namun apa daya, ada reward yang menanti di ujung sana, usai mereka tuntaskan kursus mereka.