Beralih ke studi Kazuhiko Fukuda, Robert D. Ogilvie dan Tomoka Takeuchi (2000) menyatakan bahwa tidak ada bedanya antara individu berkebudayaan Kanada dan Jepang dalam prevalensi dan gejala Sleep Paralysis (SP), akan tetapi lebih banyak individu yang berkebudayaan Kanada yang menganggap SP sebagai mimpi. Kemudian, Kazuhiko Fukuda dkk. menyelidiki mengapa ada individu yang menganggap SP sebagai mimpi dan yang lainnya tidak, dan menemukan bahwa banyak orang Jepang yang juga menganggapnya sebagai mimpi karena tidak ada gejalanya (tidak dapat bergerak), sementara di Kanada, evaluasi diri dan spiritualitas yang berbeda antara kedua kelompok.
Wilson (1925)  yang merujuk pada Interpretation of Dreams ( Intepretasi Mimpi ) yang di kemukan oleh Freud menyebutkan halusinasi yang ia kutip dari istilah Johannes Muller (1826) yang mana pengalaman ini di sebut sebagai "fenomena visual imajinatif".  Dari pernyataan di atas hal ini juga di perkuat oleh sebuah studi oleh Carl C. Bell, MD, Carolyn J. Hildreth, MD, Esther J. Jenkins, PhD, dan Cynthia Carter (1988) yang mana subjek penelitiannya adalah  31 pasien dengan tekanan darah tinggi dan kemudian pada penelitan ini mengungkapkan bahwa 41,9 persen pernah mengalami kelumpuhan tidur terisolasi, 35,5 persen mengalami serangan panik, dan 9,7 persen mengalami gangguan panik.
Â
Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat di asumsikan bahwa fenomena kelumpuhan tidur ini memiliki efek yang kemudian memaksakan hal yang bersifat negatif yang di ikuti dengan kecemasan pada sesorang yang mungkin saja rentan terkena serangan panik dan stress emosional. Implikasi nya di asumsikan adalah stres, kecemasan, dan pola tidur. Penelitian Muhammad Sudais dkk. (2022) melaporkan  bahwa Kelumpuhan tidur lebih sering terjadi pada kelompok usia 16-35 tahun.Â
Hampir 58% orang pernah mengalaminya dimana mereka tidak dapat bergerak dan berbicara serta sadar akan lingkungan sekitar mereka. Hampir 49% orang mengalami perasaan kehadiran di ruangan dengan Anda dan merasakan tekanan pada bagian tubuh mereka. Hampir 40% orang merasa akan mati saat mengalami kelumpuhan tidur. Banyak orang yang memiliki tidak mengalaminya tidak percaya orang lain yang pernah mengalaminya. Kurang tidur dan stres emosional juga bisa menjadi faktor penyebab mengalami kelumpuhan tidur karena dari orang-orang yang mengalaminya, 54% orang tidur kurang dari 7 jam. 47% orang yang mengalaminya menderita secara emosional dan frustrasi serta depresi setelah mengalaminya. 34% kehidupan sosial orang terpengaruh setelah mengalaminya dan menyebabkan mereka kesulitan.
Kelumpuhan tidur relatif umum pada populasi umum dan lebih sering pada pelajar dan pasien psikiatri. Mengingat tingkat prevalensi ini, kelumpuhan tidur harus dinilai lebih teratur dan seragam untuk menentukan dampaknya pada fungsi individu dan lebih mengartikulasikan hubungannya dengan psikiatri dan kondisi medis lainnya. Penyebab paling umum untuk menginduksi kelumpuhan tidur adalah kurang tidur, jadwal tidur tidak teratur, tidur dalam posisi terlentang.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H