Mohon tunggu...
Dewi Puspasari
Dewi Puspasari Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis dan Konsultan TI

Suka baca, dengar musik rock/klasik, dan nonton film unik. Juga nulis di blog: https://dewipuspasari.net; www.keblingerbuku.com; dan www.pustakakulinerku.com

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Dari Sumur Resapan hingga Mengumpulkan Jelantah untuk Jaga Lingkungan

17 Desember 2020   21:47 Diperbarui: 17 Desember 2020   22:06 309
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Biasanya sampahnya rata-rata dedaunan (sumber: dokpri)

Biasanya sampahnya rata-rata dedaunan (sumber: dokpri)
Biasanya sampahnya rata-rata dedaunan (sumber: dokpri)
 >>Aksi Biopori dan Tanam Minimal Lima Tumbuhan

Berkaitan dengan sampah dedaunan, di lingkungan tempat tinggalku memang sempat digalakkan aksi cinta tanaman. Tiap warga selain diminta memiliki biopori di halamannya, juga dihimbau untuk menanam minimal lima tanaman di tiap rumah. Memang upaya ini cukup sukses membuat lingkungan kami tetap hijau dan menahan laju limpasan permukaan (runoff), tapi sampah dedaunan tetap menjadi pekerjaan rumah.

Para warga pun kemudian diminta untuk menjaga pepohonannya agar daun-daunnya tidak mengotori jalanan dengan rajin memangkasnya. Sampah daun pun dianjurkan dipisahkan ketika membuang sampah. Namun sayangnya petugas sampah kemudian juga mencampurnya lagi karena bak sampahnya yang tak besar.

Masih banyak pekerjaan rumah berkaitan dengan sampah daun ini. Belum ada kebiasaan di kalangan warga untuk membuat pupuk kompos. Padahal pupuk kompos juga bagus untuk tanaman.

Rata-rata tiap rumah ada satu pohon dan beberapa tanaman (sumber: dokpri)
Rata-rata tiap rumah ada satu pohon dan beberapa tanaman (sumber: dokpri)
Di tempatku juga belum ada alat untuk mengolah limbah dedaunan. Aku ingat dulu ketika masih tinggal di Surabaya, beberapa RT disediakan alat khusus untuk mengolah limbah dedaunan. Hasilnya adalah pupuk hijau yang bermanfaat. Ini juga pastinya mengurangi tempat di bak sampah dan bak pengangkut sampah.

Aku sendiri punya komposter mungil. Ukurannya hanya sekitar 5-7 kilogram. Selain dedaunan, aku juga menaruh sisa kulit bahan makanan, pecahan kulit telur di sana. Biasanya sekitar seminggu sekali aku memanen hasilnya yang berupa pupuk cair. Sedangkan air bekas mencuci beras, mencuci ikan dan daging, serta bekas merebus sayur (yang sudah dingin) kusiramkan ke tanaman. Ini juga lebih bermanfaat dibandingkan membuangnya ke selokan.

Komposter mungil di rumah (dokpri)
Komposter mungil di rumah (dokpri)
>>Pembuatan Sumur Resapan

Awal tahun 2020 ini tempat tinggalku pun dibangun sumur resapan. Tiap blok rata-rata ada satu sumur resapan. Tujuannya untuk mencegah banjir, menekan runoff, dan sebagai media konservasi air tanah.

Memang sih setelah ada sumur resapan ini tak ada lagi keluhan dari warga tinggal di bawah tentang 'serbuan' air dari warga yang tinggal lebih di atas. Kami jadi tenang setiap kali hujan deras tiba.

Di tiap gang ada satu sumur resapan (dokpri)
Di tiap gang ada satu sumur resapan (dokpri)
>>Aksi Mengumpulkan Minyak Jelantah

Beberapa kali aku menjumpai air selokan tak hanya berbuih, namun juga keruh dan berminyak, sepertinya ada warga yang membuang minyak jelantah atau minyak bekas penggorengan ke saluran air pembuangan atau langsung ke selokan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun